(Catatan Harian) 27 April 2020, Akhir-akhir Ini di Tengah Pandemi...

kasmirudin
(Catatan Harian) 27 April 2020, Akhir-akhir Ini di Tengah Pandemi...
Depri.

HARI ke-3 puasa Ramadhan, saya masih menghabiskan waktu dengan membaca di kamar ukuran 3 x 3 meter dengan "listrik mati". Baru saja kampung diterpa hujan, masih tersisa bekas-bekas dingin udara masuk lewat jendela kamar yang sengaja dibuka.

Selesai membaca Catatan Seorang Demonstran untuk yang ke sekian kalinya, saya kembali ditarik masuk kedalam realitas sosial bangsa ini. Kita sedang menghadapi pandemi. Telah tercatat kemarin 26 April 2020 total kasus COVID-19 RI sebanyak 8.882 kasus, dalami kata "tercatat". Di Pangkalpinang tercatat 3 kasus COVID-19 sampai hari ini. Dua kasusnya ada di kampung saya. Orang kampung tak menjadi apa-apa. Aktivitas masih biasa, motor-mobil masih banjir di jalan, dan pasar-pasar masih dilengkapi senyum ibu-ibu pedagang sayur.

Sudah hampir 2 bulan kita melewati fase-fase pencegahan dan penanggulangan pandemi yang mulai diatur oleh pemerintah yang disebutnya "kebijakan" Itu. Mulai dari Social Distancing, Physical Distancing, pembatasan skala besar, serta pembatasan ruang gerak transportasi massal seperti pelabuhan dan bandara. Konklusinya, bila proses itu semakin kesini semakin menuju ke tingkat urgensi yang lebih tinggi maka ada kondisi pandemi semakin parah mengancam orang-orang.

Melihat masyarakat yang biasa saja, muncul dua pertanyaan dalam diri saya. Pertama, apakah masyarakat tahu dan mendalami kondisi bangsa dalam bencana kali ini? Kedua, apakah masyarakat tak peduli pada kematian dirinya dan orang-orang sekitar?

Di balik itu saya rasa pemerintah telah gagal dalam memberikan edukasi pada orang-orang. Saya melihat sekumpulan aturan yang disebut "kebijakan" itu hanya seperti jas hujan, melindungi dari kebasahan tapi tetap saja, kedinginan. Pemerintah telah lalai melaksanakan tugas, merasa sok pintar, terlambat belajar dari pengalaman negara luar.

Kalau saja masyarakat kita adalah orang-orang terdidik yang paham akan kondisi ini, tentu pembatasan diri tak perlu lagi diatur ke sana-ke sini. Kalau saja ada beras dan lauk yang cukup di rumah-rumah, tentu tak ada lagi ibu-ibu jual sayur di pasar-pasar kecil. Kalau saja orang-orang saling peduli, tentu kegiatan-kegiatan keramaian, kebudayaan, keagamaan tak dilakukan secara ramai di tempat-tempat tertentu, bisa berganti di rumah masing-masing.

Apakah realitas dan harapan memang menjadi sesuatu yang tidak kompatibel di negeri ini? Saya rasa selain edukasi dan hubungan sosial, ada pengaruh yang lebih penting yaitu krisis kepercayaan kepada yang berkuasa.

Bicara masalah kepercayaan, hal itu tidak serta-merta bisa didapatkan dan dituangkan ke dalam batin sedalam-dalamnya hanya dengan kata-kata. Kepercayaan timbul karena adanya kejujuran, integritas, dan rasa satu nasib satu sepenanggunang antara masyarakat dan penguasa (saya tidak menyebutnya pemerintah, karena lebih mencolok ambisi kekuasaannya dari pada kewibawaannya). Sekarang, apa guna imbauan "jangan membuang sampah sembarangan". Sedangkan penguasa tak menyediakan tempatnya? Apa guna kata "berantas korupsi" kalau alat pemberantas dikuasai oligarki yang tukang korupsi? Apa guna imbauan "di rumah saja", kalau beras dan lauk tak ada di rumah orang-orang. Tampaknya kita masih disuap dengan slogan-slogan yang tanpa sadar telah meninabobokan rakyat melalui pers-nya.

Bukan itu sebenarnya tugas pemerintah melainkan memberikan kebenaran kepada rakyat. Kalau ada kerugian kelompok tertentu dan kondisi buruk di suatu wilayah, maka berita itu harus disiarkan. Kita dininabobokkan bahwa gubernur mengklaim dirinya berhasil memberantas kemiskinan, wali kota memberikan makan gratis (uang rakyat), penguasa mendirikan ini-itu dan seterusnya tanpa henti. Padahal dibaliknya rakyat bertanya, mengapa harga beras mahal? Gula mahal? Ini itu mahal? Untuk apa kita menggambarkan sesuatu yang ternyata tidak sesuai dengan realitas. Seperti itulah gambaran bagaimana larut dan hilangnya sebuah kepercayaan. Tentu kita tidak menginginkan ini sebenarnya.

Seminggu ini saja, di beberapa group sosial media, saya mendengar berita pencurian, penipuan dan amuk massa masih terjadi di tengah-tengah kondisi ini, saya jadi berkesimpulan bahwa tampaknya kemiskinan moral lebih cepat menyebar dari pada pandemi yang sedang kita hadapi ini. Semoga salah! (BBR)


Penulis : Depri. Guru SDN 1 Pangkalpinang

Editor   : Kasmir