Cheng Beng, Bhakti Kepada Leluhur Yang Tidak Boleh Hilang

Ahada
Cheng Beng, Bhakti Kepada Leluhur Yang Tidak Boleh Hilang
Suasana Chen Beng di Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Babel, tahun 2019 lalu. (Dok babelreview)

BABELREVIEW.CO.ID --  Sembahyang kubur bagi etnis Tionghoa atau tradisi Cheng Beng merupakan tradisi bersih-bersih kubur/makam.
Tradisi ini dilakukan dengan mendatangi ke makam leluhur atau kerabat, dengan maksud untuk membersihkan makamnya dan mendoakan arwahnya agar tenang di alam baka.
Setiap tahun tradisi ini dapat kita lihat di Pemakaman Umum  Etnis Tionghoa hampir di seluruh kabupaten dan kota di Bangka Belitung ini.
Untuk tahun 2020 ini, sebenarnya Ceng Beng sudah dimulai Sabtu (21/3/2020) dan puncaknya pada Sabtu (4/4/2020) mendatang.
Namun karena ada musibah corona, maka Ceng Beng tahun ini tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Sembahyang kubur dilakukan oleh etnis Tionghoa sebagai salah satu bentuk rasa bakti kepada leluhur yang tidak boleh hilang. Rasa bakti tersebut akan terasa dan terlihat saat menjelang peringatan Cheng Beng.
Seperti yang dilakukan oleh salah satu warga Tionghoa warga Kudai Sungailiat, Fu Nam Tjen ( 71 tahun ) di Pemakaman Umum Yayasan Sejahtera pada tahun 2019 lalu. Tradisi ini selalu dilakukannya setiap tahun pada bulan ke 3 di hari pertama atau ketiga Ngiat Cho.
Menurut Fu Nam Tjen, perayaan Cheng Beng atau Chin Ming merupakan tradisi untuk mengingat leluhur atau orang tercinta yang telah meninggal.
“Ini sekaligus juga untuk mempererat hubungan antar sanak keluarga, ini mengingatkan kepada kita bahwa di antara orang mati ada tradisi bagi yang masih hidup,” jelasnya.
Fu Nam Tjen menuturkan, tradisi Cheng Beng juga bertujuan untuk menghormati dan menunjukkan rasa bakti kepada leluhur atau saudara yang telah meninggal dan membawa makanan kesukaan almarhum semasa hidupnya di dunia.
Ia menjelaskan, sebelum hari perayaan Cheng Beng sanak keluarga sudah terlebih dahulu untuk membersihkan makam dan ada juga yang mengecatnya. Saat tiba waktu Cheng Beng, keluarga almarhum datang ke pekuburan untuk membawakan makanan, berbagai macam kue, buah buahan, uang kertas, karangan bunga serta menghidupkan hio dan lilin, untuk bersembahyang yang ditujukan ke leluhur atau orang terkasih.
“Dengan membakar hio didepan nisan almarhum, kita percaya arwah leluhur akan datang untuk menikmati makanan yang sudah disiapkan,” terangnya.
Setelah melakukan doa, mereka akan meletakkan kertas berwarna perak dan kertas warna kuning di atas makam tersebut. Itu  merupakan sebagai tanda bahwa keluarga telah membersihkan dan mengunjungi.
Perayaan ini hanya setahun sekali, maka warga etnis Tionghoa akan meluangkan waktu mereka untuk sembahyang kepada leluhur.  (BBR)
Laporan: Ibnu Warsito