Ciam Si Tradisi Meramal Lewat Syair - Syair Kuno

Admin
Ciam Si Tradisi Meramal Lewat Syair - Syair Kuno
FOTO :( FERLY ADITYA )

BABELREVIEW -- Klotak...klotak...klotak... suara itu menggema dari dalam gua batu di atas bukit. Tak hanya sekali, namun terdengar beberapa kali. Sementara di luar gua, beberapa orang menunggu giliran Melihat catatan nasibnya pada selembar kertas syair kunoItu adalah tradisi ramalan khas Tionghoa yang biasa disebut chiam si. Sebuah tradisi yang biasanya dilakukan oleh warga Tionghoa pada awal tahun penanggalan imlek.

Chiam si dilakukan di kelenteng dengan bantuan petugas yang membimbing ritual. Uniknya di komplek wisata religi Fathin San, Bukit Betung, Sungailiat, chiam si dilakukan di dalam gua batu yang sejak 1954 digunakan untuk melakukan ritual sembahyang dan semedi. Chiam si menjadi tradisi yang melekat pada warga Tionghoa.

Tradisi melihat nasib atau peruntungan yang tergambar melalui naskah syair kuno. Syair yang menjadi catatan nasib dalam kehidupan setahun ke depan. Ramalan ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak terbatas untuk mereka yang beragama Konghucu, Budha atau etnis Tionghoa saja.

Ketika datang ke Fathin San untuk melakukan chiam si, kita langsung diterima oleh petugas yang akan menuntun. Langkah awal yang dilakukan adalah sembahyang atau berdoa di depan altar Kwan Se Im Phu Sat untuk mohon izin dan petunjuk mengetahui peruntungan. Di sini kita diminta untuk bersungguhsungguh dan yakin.

Sebab dipercaya bila hati kita belum yakin maka belum diizinkan untuk dibuka catatan ramalan Diizinkan atau tidak bisa dilihat dari langkah selanjutnya yaitu melempar siao poe, yakni dua bilah kayu memiliki bentuk melengkung setengah lingkaran dengan dua sisi berbeda. Bila dua bilah kayu jatuh dengan posisi sisi berbeda (tertelungkup dan terlentang) artinya sin kaw, kita diizinkan ke langkah berikutnya.

Namun bila kedua kayu tertelungkup, kita memiliki tiga kali kesempatan lagi untuk melempar kayu. Jika sudah menggunakan tiga kesempatan itu tidak berhasil juga, artinya kita belum diizinkan dan bisa coba kembali di lain waktu. Langkah selanjutnya me ngangkat wadah berisi sejumlah bambu berbentuk menyerupai sumpit.

Wadah lalu kita goyang-goyang. Selama menggoyangkan, kita wajib menyebut nama dan umur di dalam hati dan memohon petunjuk yang diinginkan. Bisa peruntungan kehidupan, usaha, pekerjaan, asmara dan lainnya. Terus goyangkan hingga sebatang bambu keluar dari wadah tersebut. Bambu yang keluar lalu kita tancapkan di depan altar, tempat biasa menancapkan hio. Lalu kembali kita lempar siao poe.

Sama seperti sebelumnya, bila jatuh dengan posisi tertelungkup dan terlentang artinya bambu itu memang sah dipilih untuk kita. Bila tidak, kita perlu mengulang menggoyang wadah tersebut. Tiap batang bambu diberi nomor pada salah satu permukaannya. Jumlah batang bambu bisa 60 atau 100 sesuai dengan jumlah kertas syair kuno.

Bila sudah dapat bamboo, kita dituntun oleh petugas keluar gua untuk mengambil kertas syair yang tersusun pada lemari khusus. Di lemari tersebut tiap kertas syair sudah diberi nomor yang berisi ramalan berbeda-beda. Tinggal kita mencocokan saja nomor yang tertera pada bambu dan kertas. Namanya juga syair kuno.

Tidak semua orang bisa mengartikan syair tersebut, namun jangan khawatir karena petugas siap menerjemahkan makna yang terkandung dalam syair tersebut. Bagi masyarakat Tionghoa, chiam si dipercaya dapat menuntun mereka menuju keberuntungan dan kebahagiaan. Selain dilakukan pada awal Tahun Imlek, ramalan biasanya juga dilakukan bila seseorang hendak memulai bisnis, karir, asmara dan hal lainnya.

Akan tetapi bila ramalan yang didapat hasilnya tidak beruntung/ buruk, jangan merasa takut, melainkan jadikan ramalan tersebut untuk bersikap hati-hati, namun semua kembali kepada kepercayaan masing-masing. Karena hakikatnya kehidupan di dunia tergantung bagaimana kita menjalankannya. Bagaimana dengan Anda, tertarik mencoba chiam si ? (BBR)



Penulis :Irwan
Editor   :sanjay
Sumber :Babelreview