Cofee Shop Kafein 14 Mengenal Jenis dan Teknik Penyeduhan Kopi

Admin
Cofee Shop Kafein 14 Mengenal Jenis dan Teknik Penyeduhan Kopi
Cofee Kafein 14 Foto:Firly

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW – “Pahitnya kopi, ia menyenangkan. Dan kamu seperti rindu yang enggan untuk bertanggungjawab”. Kalimat tersebut tergores di sebuah papan tulis coffee shop sekaligus menjadi quote sang owner Kafein 14, Rizky Lapendi (25).

Kafein 14 terletak di Jalan Depati Hamzah, Semabung Lama, Pangkalpinang. Tempat ini belum lama dibuka, tepatnya pada 14 Februari 2019. Nama Kefein 14 juga tercetus dengan sederhana memadukan kandungan kopi dan hari jadinya. “Sebenarnya nama Kafein 14 itu cukup simpel, ketika kita bicara soal kopi pasti tidak lepas dari kafein dan angka 14 itu adalah hari jadinya Kafein 14 yaitu 14 Februari 2019,” ujar Rizky.

Ketertarikannya membuka usaha coffee shop berawal dari pengalamannya ketika kuliah di Jogjakarta menjadi seorang barista dan bartender. Ketika pulang ke Bangka, ia melihat peluang usaha karena masih jarang coffee shop. Menurutnya tradisi ngopi di Bangka hanya sekedar memesan kopi sambil nongkrong di café. “Aku buka Kafein 14 di Bangka ini biar orang tahu bagaimana proses kopi sampai dihidangkan di atas meja dalam sebuah cangkir,” katanya.

Semangat Rizky membuka coffee shop memang bukan hanya ingin mengikuti tren kaum milenial semata, namun juga ingin menularkan semangat dan edukasi pengetahuan tentang kopi dari berbagai sudut pandang. “Disini tidak hanya mengajak untuk minum kopi tapi juga mengedukasi bagaimana belajar, bagaimana mengolah rasa dengan teknik penyeduhan. Barista yang aku punya, kita sangat welcome, jadi tamu yang datang tidak hanya sekedar ngopi tapi juga saling tukar informasi bagaimana kopi itu diproses,” katanya.

Menurutnya bisnis coffee shop juga dinilai bagian dari melestarikan tradisi ngopi yang ada di berbagai daerah, termasuk di Bangka Belitung. Di Bangka umumnya orang memiliki tradisi ngopi pada pagi hari namun dengan penyeduhan sederhana dan kopi tubruk yang biasa dijual di pasaran. “Kalau di Aceh itu pagi, siang, sore, malam ngopi. Di Bangka punya tradisi ngopi setiap pagi tapi di rumah dengan kopi hitam dan seduhan yang masih sederhana.

Orang Bangka tahunya kopi hitam, belum begitu kenal dengan jenis arabika atau robusta dan jenis-jenis kopi nusantara, seperti Gayo, Kintamani Bali, Toraja, Sindoro dan lainnya. Untuk kopi hitam sendiri ada perbedaan tergantung biji kopi yang digunakan,” ungkapnya. Tak hanya itu, ia juga ingin mejadikan Kafein 14 sebagai wadah bagi orang yang ingin mengenal lebih jauh kekayaan kopi nusantara yang memiliki karakter dan rasa yang berbeda di setiap daerahnya.

Semakin memiliki rasa ingin tahu tentang kopi maka akan semakin masuk dalam proses panjang bagaimana secangkir kopi yang kita nikmati itu berawal. “Kita juga memperkenalkan berbagai jenis biji kopi, mulai disitu bagaimana proses penanaman, perlakuan terhadap tanaman, proses pemetikan, roasting, teknik penyeduhan dan lain sebagainya yang memerlukan proses sangat panjang.

Jadi disini aku ingin orang yang baru mau belajar maupun pecinta kopi bisa saling sharing disni,” jelasnya. Mengenai konsep ruangan ia memberikan sentuhan minimalis modern pada sudut dekorasi dan penggunaan furniture dengan penggunaan material kayu.

Penggunaan papan tulis atau black board untuk menu juga memberi kesan vintage agar lebih instagramable. Ia juga meletakkan rak kecil pada sebuah sudut dinding untuk menyimpan buku. “Perbedaannya disini aku menyediakan

dinding literatur supaya yang datang kesini bisa ngopi sambil baca, jadi sekalian mengajak untuk gemar membaca dikalangan anak muda,” ujarnya. Yang membedakan Kafein 14 dengan coffee shop lain yakni dengan konsep upgrading jenis biji kopi nusantara setiap tiga hari sekali.

Misalnya dalam tiga hari menyediakan Gayo, Toraja dam Lintong lalu tiga hari setelahnya menyediakan jenis kopi yang berbeda. Jadi ketika pelanggan memesan black coffee bisa memilih jenis kopi yang sedang disediakan dan ingin karakter rasa yang seperti apa. “Kita juga punya cold blue, itu kopi disajikan dalam kondisi dingin.

Kopi unik dengan penyeduhan yang tidak biasa yakni misalnya pakai Aceh Gayo diglinder dengan ukuran medium diseduh dengan air biasa tidak panas dan tidak dingin lalu didiamkan selama 8-10 jam kemudian berfermentasi baru siap disajikan dengan dingin.

Untuk peminat cold blue setiap harinya kita hanya menyediakan hanya 6 gelas jadi sangat terbatas jadi bisaanya sore atau malam sudah habis,” jelasnya. Menurutnya dua minggu pertama buka apresiasinya cukup baik, karena banyak yang penasaran.

Untuk tamu sendiri datang dari berbagai kalangan pelajar, mahasiswa, pegawai, politisi, advokat. Kafein 14 buka setiap hari, karena belum grand opening maka saat ini buka pukul 14.00-24.00 WIB, rencananya setelah grand opening akan dibuka pukul 10.00-24.00 WIB dan setiap Minggu akan mengadakan coffee morning. (BBR)


Penulis  : Irwan                                                               
Editor    : Sanjay
Sumber  :Babel Review