Corona Belum Mau Pulang, Bisnis Di Babel Jadinya Goyang

Ahada
Corona Belum Mau Pulang, Bisnis Di Babel Jadinya Goyang
Pelemahan perekonomian akibat Covid-19 membuat aktifitas sektor manufaktur, perdagangan, transportasi, dan akomodasi seperti restoran dan perhotelan merupakan yang paling rentan. (Firly/babelreview)

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW.CO.ID – Dampak mewabahnya Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) kian terasa merasuki segala lini di dunia. Berbagai sektor ikut terpukul, tak terkecuali perekonomian dalam negeri, terutama dari sisi dunia usaha.

Pelemahan perekonomian akibat Covid-19 membuat aktifitas sektor manufaktur, perdagangan, transportasi, dan akomodasi seperti restoran dan perhotelan merupakan yang paling rentan.

Dampaknya terjadi gangguan aktifitas bisnis yang akan menurunkan kinerja, pemutusan hubungan kerja, dan bahkan mengalami ancaman kebangkrutan. 

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Bangka Belitung Thomas Jusman mengatakan, saat ini para pelaku usaha terutama korporasi lebih memprioritaskan kesehatan dan keselamatan.

Korporasi juga memiliki peran penting untuk membantu menghambat penyebaran wabah Covid-19 karena terkait dengan aktifitas karyawan. 

“Bagaimana para pengusaha ikut mensosialisasikan kepada masyarakat maupun kepada karyawannya bersama mencegah penyebaran Covid-19. Sekarang kita juga sedang berupaya melakukan pembagian masker sehingga bisa kami bagikan kepada masyarakat dan teman-teman sedang menggerakan Kadin Peduli. Kami sedang mengurus pengadaan masker,” ungkap Thomas. 

Thomas melihat masyarakat di Bangka Belitung masih banyak yang beraktifitas di luar rumah walaupun sudah ada himbauan untuk tetap berada di rumah bila terpaksa beraktifitas di luar rumah untuk hal penting saja.

Bahkan untuk tempat usaha sudah diberi batas buka hingga pukul 20.00 WIB.

Untuk itu, Thomas menghimbau kepada masyarakat agar bersama-sama membantu melawan Covid-19 dengan melakukan berbagai pencegahan, salah satunya dengan tetap berada di rumah. 

“Kami dunia usaha ingin memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa ini adalah pandemik global yang sudah banyak merengut nyawa, yang luar biasa adalah virus ini penyebarannya begitu cepat maka perlu diupayakan pencegahan agar tidak mewabah di Bangka Belitung,” ujarnya. 

“Kita tahu bahwa di Bangka Belitung banyak orang memiliki penyakit bawaannya penderita hipertensi dan diabetes juga banyak dan banyak orang tua, jadi perlu sekali mensosialisasikan kepada masyarakat bagi anak muda jangan lagi nongkrong. Kejadian di itali itu karena banyak anak muda yang tidak mengindahkan himbauan pemerintah lalu banyak menularkan kepada orang tua,” katanya. 

Terlebih lagi, dikatakan Thomas di Bangka Belitung kapasitas rumah sakit rujukan tidak banyak, maka itu bila diperlukan kamar isolasi ODP dan PDP, para pengusaha ingin berbuat membantu pemerintah dengan menyediakan kamar di penginapan atau hotel.  

Kadin Babel juga merasakan dampak Covid-19 terhadap dunia usaha di Bangka Belitung. Berbagai korporasi pun melakukan berbagai langkah agar roda perusahaan bisa terus berjalan walau harus terseok-seok.

Berbagai langkah tersebut yakni dengan melakukan efisiensi, bahkan beberapa perusahaan terpaksa merumahkan karyawan. 

“Tentu semua sektor terpukul dampak Covid-19 ini, bidang pariwisata seperti hotel, restoran dan tempat rekreasi yang paling terpukul karena ada aturan social distancing dan ada maklumat dari Kapolri agar tidak ada keramaian sehingga tentunya sangat berdampak,” jelasnya. 

Dikatakan Thomas, Kadin Babel sejak awal sudah memprioritaskan keselamatan namun juga bagaimana mengatur agar perekonomian masih bisa berjalan, yakni dengan mangatur bidang usaha apa yang masih tetap bisa berproduksi dan bidang usaha terpaksa harus berhenti.

Tentu juga dengan melihat wilayah produksi usaha tersebut, apakah masuk zona hijau atau merah. 

“Artinya tidak dipukul rata semua usaha dihentikan namun di kota-kota tertentu bisa tetap berjalan namun tetap dengan memprioritaskan keselamatan dan melakukan berbagai pencegahan agar Covid-19 tidak menyebar,” jelasnya.

Thomas mengatakan, kondisi pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung sebelum mewabahnya Covid-19 sudah terjadi pelemahan, bahkan terendah kedua se-Sumatera.
Tentu adanya wabah ini akan semakin berdampak pada pelemahan ekonomi di Bangka Belitung, terutama di Belitung yang sangat mengandalkan sektor pariwisata.  
Dengan kondisi tersebut, menurut Thomas, pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung diangka 2 persen saja sudah rasional.  
“Kita sangat mengharapkan intensif dari pemerintah, bisa dengan stimulus ekonomi misalnya bidang perbankan misalnya mengenai keringanan pembayaran pokok dan bunga perlu dipertimbangkan, kemudian dari pemerintah pusat kita harapkan ada kebijakan, ada subsidi pembayaran gaji karyawan swasta yang terdampak kalau tidak salah sebesar 70 persen. Hal-hal ini yang pengusaha harapkan karena usaha yang terdampak ini juga berbagai macam. Kalau perbankan mereka sudah menutup kantor cabang hanya kantor utama saja yang beroperasi. Bidang pariwisata yang paling terpukul karena mengharapkan kunjungan sementara harus social distancing,” jelasnya.  
Mengenai kondisi karyawan, dikatakan Thomas, tergantung dengan bidang usahanya masing-masing namun Kadin menghimbau agar menerapkan work from home (WFH).
Namun tidak semua bidang usaha bisa menerapkan WFH namun tetap memberi kebijakan 80 persen bekerja di kantor dan 20 persen WFH agar tetap bisa beroperasi.  
“Bagi yang mengandalkan pemasukan dari luar bidang perhotelan barang kali bisa melakukan efisiensi, bisa aplusan masuk karyawannya atau ada sebagian yang stop sementara atau dirumahkan. Ini memang tidak mudah tapi masing-masing perusahaan terus mengupayakan dengan langkah yang terbaik,” katanya.
Dikatakan Thomas, kunci agar perekonomian di Bangka Belitung bisa kembali pulih dengan tetap melakukan transformasi kebijakan ekonomi dari pertambangan ke pariwisata secara bertahap. 
 Saat ini juga diperlukan good mining practice dari hulu sampai hilir dan menumbuhkan industri hilirisasi.
Sambil menerapkan good mining practice juga perlu menumbuhkan sektor lainnya, seperti pariwisata, perkebunan dan perikanan. 
Habis gelap terbitlah terang, begitu kira-kira ungkapan Thomas mengenai kondisi perekonomian pasca wabah Covid-19. Ia optimis setelah masa-masa sulit akan kembali ada peluang.
Apalagi disaat kondisi nilai Dollar AS terhadap Rupiah tinggi maka peluang ada pada komoditi ekspor, seperti balok timah, CPO, karet dan lada. 
“Ini situasi seperti krisis moneter dulu banyak orang pulang ke Bangka Belitung untuk usaha timah dan cukup sukses karena Dollar AS sedang naik. Tapi bukan berarti kita berharap Dollar naik tetapi ini situasi baik bagi eksportir. Tentu setiap usaha ada masa pemulihan, saya belum bisa menjawab seberapa besar pengaruhnya karena ini belum tahu sampai kapan Covid-19 bisa berakhir di Indonesia. Berdasarkan informasi puncaknya pas bulan puasa dan lebaran. Lebaran juga kami harapkan bisa dirayakan di rumah, Idul Fitri mungkin tidak perlu mudik,” ujarnya.
“Tapi kunci dari itu semua bagaimana investasi bisa masuk. Investasi harus didukung oleh tingkat kemudahan berusaha itu yang paling penting. Jadi bagaimana perizinan tidak berbelit-belit, birokrasi tidak berbelit. Permasalahan yang kita rasakan di dunia usaha saat ini adalah kemudahan berusaha memang belum mudah karena pada prakteknya perlu harmonisasi dan sinkronisasi antara kebijakan pemerintah pusat dengan daerah, pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten sehingga tidak timbul ego sektoral,” jelasnya. (BBR)
Laporan:Irwan AR