CORONA: Kantong Kosong Hidup Merana

kasmirudin
CORONA: Kantong Kosong Hidup Merana
Kevin Sabri .

CORONA, semakin hari semakin merajarela di belahan dunia. Tak cukup manusia menjadi korban jiwa, Tapi yang kaya juga merana hanya gara-gara corona. Masyarakat  hidup tak lagi merajarela, karena kaya miskin menjadi bencana. Karena datangnya corona, terlena  menjadi hidup merana selamanya. Teka teki selalu menebak diri, karena siapa yang dihampiri oleh corona ia akan mati merana. Mari menumbuhkan kerja sama dalam memutuskan penyebaran corona dengan cara berdiam di rumah saja. Dengan hal ini pemerintah ikut campur atas bencana corona, karena tak kuasa melihat masyarakat merana. Makanya, anjuran pada yang memegang kuasa mari bantu maysarakat yang terkena corona dengan cara memberikan asupan pangan, agar masyarakat aman berdiam di rumah saja.

Rumus hidup, kesejahteraan merupakan harapan bangsa. Tatkala para pemegang kuasa merajarela, masyarakat menjadi terlena dengan harapan pemberian omongan belaka. Oleh  pada itu semua adalah janji manis sang penguasa, sekarang berubah sedemikian rupa. Munculnya corona menjadi merarat masyarakat bangsa. Dengan demikian pula semua adalah ujian untuk kita semua. Terus berupaya yang dilakukan seseorang yaitu menjauhi keramaian, menjaga jarak dengan orang lain 1-2 meter, tidak berjabat tangan, bergandeng atau berpelukan, pergi hanya keadaan mendesak. Apalagi yang dilakukan oleh mahasiswa adalah melakukan kuliah online, menyelesaikan tugas, tidak mengadakan kegiatan masal, menjaga kebersihan, oleh karena itu apa yang dilakukan oleh pemerintah kita saat ini adalah memberlakukan belajar jarak jauh untuk sekolah, menutup ruang publik seperti tempat wisata, menunda event-event besar dan memberlakukan kerja jarak jauh. #dirumahsaja.

Virus Corona atau yang disebut COVID-19 ini menjadi musuh Bersama setiap negara dan saling bahu membahu melawan Virus Corona. Setiap negara berlomba lomba menemukan vaksin virus corona. virus corona tidak memandang negara mana saja, apakah negara maju, negara berkembang. Semua tak dilihat dari sebuah status Negara, manusia, dan tak melihat siapa “DIA”,  Hingga saat ini vaksin virus corona  belum juga ditemukan oleh ilmuan-ilmuan setiap negara yang ingin menciptakan  penangkal virus mematikan ini. Dengan demikian Negara-negara yang terkena  dampak  dari virus corona tentu saja akan berakibat pada biaya ataupun anggaran dalam penanganan corona. Biaya kehidupan tak lagi terkontrol, kantong kering, kepala pusing. Mikir utang ngelilit pinggang. Karena corona tak lagi hilang, susah payah merana sering, hingga hidup meraning.

Amerika Serikat jadi Negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia. Hingga tercatat ada 645.922 orang  terinfeksi, dengan 28.640 kematian dan 49.091pasien pulih. Sementara di level dunia, angka positif COVID-19 udah tembus dua juta kasus. Lantas semua ini kejadian tak terbayang oleh umat manusia di belahan dunia, sampai detik ini menyebar luas ke negara-negara manapun. Tentu efek dari corona tidak terkontrolnya pendidikan, krisis pangan, bahkan semaking tidak meratanya pertumbuhan ekonomi. Maka dapat dipastikan efek jangka panjang akan mengakibatkan kantong kosong, hidup merana, Yah... itulah Corona penyebabnya. Nasib merana hingga sepanjang usia, menjadi sejarah sepanjang masa dengan berjumpa pada corona semua orang mengeluh merana, hanya ingin memperbaiki diri dari pelajaran yang di ambil hari ini. Beribu puluhan jiwa yang terbungkus dari peti kayu, itu hanya penyebab dari sebuah penderita corona.

Sedih, merana, dari golongan atas, menenggah, bawah. Virus Corona ini bila terjadi beberapa tahun yang akan mendatang tak berhentinya Corona menyerang umat manusia. Semua akan menuju kerisis pangan merajarela, yang dimana tidak lagi saling berempati, bersimpati. Semua akan mementingkan diri masing-masing untuk melindungi dari ancaman ekonomi yang semakin parah, entah sampai kapan semua normal seperti biasa dalam beraktivitas. Tidak ada yang bisa memastikan semua ini akan berhenti. Hanya doa, bertasbi, bertawakal, berusaha, berikthiar dalam melakukan memutuskan rantai penyebaran corona agar semua berhenti dengan usaha semua yang dilakukan setiap orang, sehingga kita bisa beraktivitas seperti biasa agar menciptakan peluang ekonomi dan membangkitkan kesejahteraan masyarakat bangsa.

Ekonomi merana, masyarakat sengsara

Berbalik ke sejarah krisis moneter yang melanda indonesia sejak awal Juli 1997, sementara ini telah berlangsung hampir dua tahun dan telah berubah menjadi kerisis ekonomi, yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan menigkatkan jumlah pekerja yang menganggur, bahkan pendidikan tidak lagi efesien di era sekarang. Hal ini sangat rentang dengan munculnya corona diberbagai sektor lingkungan maupun sektor-sektor lainnya. Dan kemudian menyimak potret ekonomi krisis keuangan global sampai tahun 1998. Situasi ini memiliki dampak sangat buruk terhadap roda perekonomian, dan sedikit banyak membawa trautama tersendiri. Fakta ini stidaknya terlihat ketika ekonomi dunia kembali mengalami kerisis global di tahun 2008-2009. Disebut banyak ekonomi sebagai krisis financial terburuk di sepanjang 80 tahun trakhir, krisis 2008-2009 disebut sebagai “the mother of all crises”

Namun hari ini mencatat sejarah kembali, bahwa munculnya corona pada desember 2019 di wuhan, perdaganggan china. Dan menyebar luas keseluruh belahan dunia hingga saat ini menjadi primadona di dunia, corona merupakan virus mematikan banyak ribuan orang, bukan saja jiwa yang mati tapi dari sektor pertumbuhan ekonomi bahkan berantakannya kehidupan sosial, ketakutan dalam keamanan manusia (Human security), keamanan pangan, akan mencatat sejarah kembali di tahun ini. Belum sampai 3-4 bulan munculnya virus vorona masyarkat sudah tidak terkendali prekonomian nya. Dengan demikian siapa kira bila hal ini terjadi setahun atau lebih maka semua akan berantakan. Negara-negara melindungi Negara nya. Masyarakat melindungi diri sendiri, lalu semua akan acuh tak acuh (tidak memperdulikan sesama) karena saling melindunggi diri sendiri dari ancaman ekonomi yang memulai memudar.

Kemudian meninjau sebagaimana dilansir dari majalah Tempo: kematian karena virus corona di amerika 20 ribu orang, amerika kini menjadi episentrum pandemi dunia, dengan jumlah kematian sebanyak 20,000 jiwa dan dan melampui italia yang semula menjadi Negara tertinggi penyumbang kematian wabah dengan jumlah kematian 19.000 jiwa, hal ini indonesia sebagai bagian dari prekonomian global turut serta pula terkena imbas dari ktidakstabilan ekonomi. Seperti halnya ketimpangan ekonomi di indonesia yang berbelit-belit seharusnya juga membuat indonesia perlu mengavaluasi apa yang paling subtansial dari permaslaahan ekonomi di Negara ini dan menciptakan keseimbangan ekonomi sebagai sebuah tolak ukur kemudian menjadi sesuatu yang perlu diacu oleh pemerintah, sehingga peningkatan ekonomi dapat beriringan dengan kesejahteraan masyarakat di tengah maraknya corona.

Tidak dapat dipungkiri hal ini membuat masyarakat menjadi sengsara dalam kehidupan, tidak jauh di tinjau penulis juga merasakan hal yang sama dengan masyarakat lainnya, menderita tak kuasa menahan sengsara walaupun para penguasa tidak memberikan apa-apa, tapi jiwa tetap mendoa. Semua sengsara hanya gara-gara corona ekonomi menjadi buta, para kelompok birokrat berpura-pura sengsara tetapi tabungan uang Negara bertriliuan limpah hanya untuk makan mereka saja yang memiliki gandengan pangkat mereka yang berkuasa. Masyarakat hanya meminta perhatian pertumbuahan ekonomi di tenggah suburnya corona. Agar cinta bersama keluarga tercipta ria karena ekonomi diperhatikan juga. Ke sana kemari hanya berhutang diri, ekonomi mati bagaikan hidup tanpa hati. Siapa kira akan begini semua terwujud dari perkara keserakahan diri.

Para pekerja bersama pemerintah mereka masih tetap di gajih walaupun ada potongan persen dari gajih normal, adakah pemerintah berfikir untuk melihat sektor para buruh harian, petani, kuli lepas. Mereka-mereka yang bekerja sehari makan sehari hanya menjual keringat dan tulang untuk mendapatkan perkilo beras. Memang betul karantina dan berdiam dirumah saja bisa menciptakan memutuskan pencegahan penyebaran corona kepada manusia lain. Tetapi manakala mereka yang bekerja serabutan, kuli buruh, mereka harus menjual keringatnya terlebih dahulu baru bisa membelikan segumpalan beras. Beda dengan yang bekerja bersama pemerintah mereka yang berdiam dirumah saja masih tetap di gajih walaupun sebagian persen gajinya di tiadakan.

Ini hanya bentuk dari kekecewaan penulis terhadap orang-orang yang tidak memperdulikan rakyat jelata hingga merana dan sangsara...hhhhhh program apa yang kalian buat setelah corona datang dan pulang sang penguasa. Aku tunggu perubahan nyata. Dari perbuatan janji belaka sebelum kau bermain peran untuk merebut kursi tercinta yaitu kuasa. Aku ingin ada perubahan nyata di negeri ku tercinta.

Seperti yang dilansir dari laman Medium.com dengan judul artikel “kesenjangan ekonomi sosial”, ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi bukanlah kejadian alam yang tiba-tiba terjadi begitu saja, namun ia dibentuk  dari ekspresi kekecewaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang di alami. Adapun faktor penyebab terjadinya kedua hal di atas meliputi 8 faktor: menurunnya pendapatan perkapita, ketidakmerataan pembangunan antar daerah, rendahnya mobilitas sosial, pencemaran lingkungan alam, biaya pendidikan mahal, tingginya pengangguran, lahirnya ideologi kapitalis, dan hilangnya asas gotong royong. Salam hangat dari penulis...! (BBR)


Penulis : Kevin Sabri (Mahasiswa Departemen Ilmu politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UBB, Penggiat Literasi Kosada Babel)

Editor   : Kasmir

Sumber : -