Dampak Covid-19 Pada Restoran dan Warung Kopi di Pulau Bangka

buditio
Dampak Covid-19 Pada Restoran dan Warung Kopi di Pulau Bangka
Suasana Kedai Kopi Keluarga Muntok sebelum pandemi corona (buditio)

MUNTOK, BABELREVIEW.CO.ID - Munculnya Pandemi Virus corona (Covid-19) benar-benar membuat usaha Restoran dan Kafe mengalami kelesuan. Sepinya pengunjung, yang berakibat pada turunnya omset penjualan, kini sudah melanda Restoran dan Kafe di Pulau Bangka.

Jatra dari Dabelyu Coffe n Resto di Pangkalpinang mengatakan kepada BBR bahwa omset menurun drastis, tinggal tersisa  10% dibandingkan hari biasanya.

Senada yang disampaikan oleh Jatra, Towel dari BN 1 Coffe mengatakan bahwa ia sadar kebijakan ini untuk kebaikan bersama, namun pemerintah dalam menerapkan kebijakan ini juga harus memikirkan para pelaku usaha tongkrongan.

Towel melanjutkan “Kebijakan pemerintah untuk tutup pada pukul 20.00 siap kami ikuti, namun kebijakan ini seharusnya juga diikuti dengan kebijakan yang lain agar kami tetap bisa bertahan dalam situasi ini. Setiap bulannya kami harus mengeluarkan biaya tetap berupa tagihan listrik, PDAM, sewa ruko dan juga gaji karyawan. Bagaimana kebijakan pemerintah daerah terkait hal tersebut?”.

Towel menjelaskan bahwa usaha yang ia jalankan memiliki 5 orang karyawan yang juga harus diperhatikan. Kelima karyawan tersebut juga memiliki tanggungan keluarga, dan dalam kondisi yang tidak produktif ini ia kesulitan dalam membayar gaji mereka.

Kondisi yang sama juga terjadi di Kota Muntok, Kedai Kopi Keluarga yang biasanya setiap malam penuh dengan anak muda saat ini mendadak sepi. Pengelola Katiga Muntok, Indah, mengatakan kepada BBR bahwa sejak tanggal 21 Maret 2020 kedai kopi yang dia kelola sudah menerapkan pembelian untuk dibawa pulang (take away).

“Mulai tanggal 21 Maret kami sudah menerapkan kebijakan pembelian untuk dibawa pulang, jadi meja kursi kami simpan. Kepada para pelanggan juga kami siapkan tempat untuk mencuci tangan sebelum mereka memesan. Tetapi kebijakan untuk tutup jam 20.00 mempengaruhi penjualan kami, karena kami jika harus menutup jam 20.00 pelanggan sudah tidak bisa membeli untuk dibawa pulang”ujarnya.

Indah mengakui bahwa selama 3 hari ini omset penjualan tinggal tersisa 20% jika dibandingkan hari-hari sebelumnya, dan kondisi ini cukup berat untuk bisa bertahan karena harus menanggung gaji karyawan dan juga cicilan modal dari perbankan.

“Semoga ada solusi bagi kami pelaku UMKM yang selama ini juga memberikan kontribusi ke daerah sebagai penyedia lapangan pekerjaan.”harapnya.

Beredarnya informasi di laman OJK bahwa Otoritas Jasa Keuangan telah memberikan kebijakan ekonomi dalam menghadapi dampak dari wabah corona ini, pengelola Kedai Kopi Bang Yan di Pangkalpinang mengatakan bahwa kebijakan tersebut belum menyentuh sektor usaha yang ia geluti.

“Seharusnya ada kebijakan khusus buat pelaku UMKM yang memiliki tagihan atau pinjaman di Bank atau Leasing dengan menanggguhkan pembayaran kredit sementara waktu, atau pemberian subsidi kepada pelaku UMKM yang memiliki tagihan. Kebijakan keuangan oleh OJK dan juga disampaikan oleh Presiden belum kami rasakan”ujarnya.(BBR)


Penulis   : buditio

Editor     : Admin05

Sumber  : Babel Review