Dampak Kejiwaan Masyarakat Terhadap Pandemi Covid-19

Ibnuwasisto
Dampak Kejiwaan Masyarakat Terhadap Pandemi Covid-19
Andi Rika Fardaliana, Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat Bangka. (Foto.Ist)

COVID-19 dari Wuhan, China berasal dari pasar yang menjual satwa liar secara illegal, yang muncul pada awal Desember. COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Dengan kata lain, SARS-CoV-2 adalah nama virusnya, sementara COVID-19 adalah nama penyakitnya.

Covid-19 dapat menular melalui system pernafasan yaitu hidung dan mulut bahkan mata, yang dapat menyebar melalui bersin atau meler. Cairan yang dihasilkan dari bersinlah yang akan menjadi sumber penularan, jika menyentuh cairan, yang kemudian menempel ditangan lalu menyentuh wajah, orang yang sehat pun akan tertular dari cairan bersin tersebut.

Hal yang dapat dilakukan agar terjaga dari Covid-19, dengan cara melakukan pencegahan yang terbaik:

1. Mencuci tangan secara rutin dengan gel pembersih berbasis alkohol atau sabun dan bilas dengan air.

2. Menutup hidung dan mulut dengan tisu atau batuk dan bersin pada bagian dalam siku.

3. Hindari interaksi fisik (1 meter atau 3 kaki) dengan siapa pun yang memiliki gejala batuk pilek atau flu.

Sejak awal kemunculan virus Covid-19, orang-orang rentan mengalami kecemasan. Akibat ketakutan yang dialami, banyak yang mengalami sress dan depresi akibat sering memupuk rasa cemas yang berlebih karena menggap dirinya akan mudah terkena dan sudah mengalami gejala.

Strees dan depresi yang diakibatkan kekhawatiran dan rasa was-was yang berlebih sebenarnya berbahaya bagi tubuh karena akan membuat seseorang rentan terhadap penyakit. Sebab kecemasan ini akan memengaruhi turunnya imun tubuh yang membuat seseorang mudah terserang sakit bahkan tertular Covid-19.

Di Indonesia sendiri jumlah pasien terinfeksi positif Covid-19 terus bertambah dan masih belum memperlihatkan tanda penurunan. Update terakhir 08-05-2020 dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 BNPB Indonesia, pasien positif sebanyak 13.112, sembuh 2.494 dan meninggal 943. Ini membuktikan adanya peningkatan penambahan kasus dari hari sebelumnya.

Dikutip dari alinea.id, menurut sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Ida Ruwaida menganggap, kecemasan merupakan hal yang manusiawi karena Covid-19 adalah jenis virus baru, yang penyebarannya masif dan mengancam nyawa.

Ida mengatakan, ada beberapa penyebab munculnya kecemasan, yakni karena sosialisasi yang terbatas, pengaruh lingkungan, media, dan minimnya budaya hidup bersih.

Menurutnya, arus informasi yang deras dari media massa dan media sosial sangat memengaruhi kondisi psikososial seseorang. Edukasi ke publik yang minim pun, sebut Ida, menimbulkan sikap yang tak acuh.

“Hal ini diperparah dengan banyaknya masyarakat mengonsumsi hoaks atau terpaan informasi terkait Covid-19 yang menakutkan, tidak selektif, dan kritis,” ujarnya.

Rasa khawatir atau cemas berlebihan akibat sering menerima informasi tersebut yang akhirnya menyebabkan tubuh menciptakan gejala mirip coronavirus. Akibatnya, seseorang akan berpikir telah terinfeksi virus corona. Dengan gejala sedemikian rupa yang dialami bukan karena terinfeksi Covid-19, kondisi ini dikenal dengan istilah Psikosomatik akibat Covid-19.

Melansir dari SehatQ.com, Psikosomatik sendiri berasal dari dua kata, yaitu pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Pada umumnya, psikosomatik adalah suatu kondisi atau gangguan ketika pikiran memengaruhi tubuh hingga memicu munculnya keluhan fisik tanpa adanya penyakit.

Gejala psikosomatik dapat terjadi akibat ketidakstabilan sistem saraf otonom, di mana sistem saraf simpatis dan saraf parasimpatis menjadi tidak seimbang. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh faktor stres yang tidak mampu diadaptasi dengan baik. Kemudian, tubuh mengalami tekanan terus-menerus dan adrenalin akan mengalir ke seluruh tubuh sehingga menimbulkan gejala psikosomatik.

Umumnya, gejala psikosomatik mirip dengan gangguan kecemasan, seperti nyeri dada, sesak napas, merasa tubuh terlalu panas atau demam. Akan tetapi, gejala psikosomatik yang muncul dapat dikaitkan dengan kondisi yang sedang terjadi. Ada beberapa tips untuk menghindari dari kondisi Psikosomatik, antara lain cari informasi yang dapat dipercaya, istirahat sejenak dari pemberitaan Covid-19, berkomunikasi dengan orang-orang yang tercinta, menjaga kesehatan dan kebersihan diri dengan baik, tetap berpikir positif.

Dalam menghadapi pandemi semua orang memiliki peran penting untuk melindungi diri, mengikuti setiap himbauan pemerintah serta mempelajari setiap kejadian yang sedang terjadi. Pandemi Covid-19 akan cepat teratasi jika setiap orang memiliki kesadaran bahwa melindungi diri berarti menolong orang untuk tidak terinfeksi.

Penulis : Andi Rika Fardaliana, Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Bangka


Editor :

Sumber : Babel Review