Dari Hobi, Mahasiswa Akuakultur UBB Sukses Tetaskan Kura-Kura Lokal di Tengah Ancaman Kerusakan Habitat

Di tengah bayang-bayang kerusakan ekosistem akibat aktivitas penambangan ilegal dan alih fungsi lahan yang marak terjadi di Pulau Bangka, sebuah aksi nyata penyelamatan lingkungan lahir dari tangan seorang anak muda. Muhammad Faiq Elfaruq, mahasiswa semester 4 Program Studi Akuakultur Universitas Bangka Belitung (UBB), sukses menorehkan prestasi luar biasa dengan membudidayakan dan menetaskan hampir 300 ekor kura-kura lokal yang kian terancam kelestariannya.

Langkah inspiratif Faiq dimulai sejak ia duduk di bangku kelas 3 SMA. Didorong oleh kecintaannya pada fauna dan keprihatinan mendalam melihat habitat kura-kura lokal yang kian terkikis, ia membulatkan tekad untuk melakukan konservasi mandiri secara ex-situ (di luar habitat asli).

Melalui ketekunan dan trial-and-error, pada tahun pertama Faiq berhasil menetaskan jenis Kura-Kura Ambon (Cuora amboinensis). Tidak berhenti di situ, dua tahun berikutnya ia kembali mencetak keberhasilan dengan menetaskan Kura-Kura Pipit Hitam (Siebenrockiella crassicollis). Hingga saat ini, total kura-kura lokal yang berhasil ia tetaskan hampir mendekati angka 300 ekor—sebuah pencapaian yang tergolong langka dan patut diapresiasi untuk skala penangkaran mandiri oleh seorang mahasiswa.

“Melihat potensi alam Bangka yang semakin berkurang dan habitat asli mereka yang habis akibat tambang ilegal, saya merasa harus ada tindakan nyata. Awalnya dari hobi, tapi sekarang ini menjadi tanggung jawab untuk menjaga apa yang tersisa,” ujar Faiq.

Konsistensi Membangun Branding dan Menolak Pasar Luar Pulau

Dedikasi yang konsisten membuat personal branding Faiq di dunia reptil perlahan melesat naik. Saat ini, selain berfokus pada jenis lokal, ia juga berhasil memperluas keberhasilan budidayanya ke jenis Kura-Kura Brazil (Trachemys scripta elegans).

Uniknya, meski produk budidayanya beberapa kali dilirik oleh kolektor dan pasar dari luar Pulau Bangka, Faiq memilih untuk tetap membatasi ruang lingkup penjualannya hanya di area lokal Bangka. Keterbatasan logistik serta komitmennya untuk memastikan kualitas dan keamanan hewan menjadi alasan utama ia menolak berbagai permintaan dari luar pulau tersebut.

Misi Masa Depan: Restorasi Ekosistem Bangka

Bagi Faiq, budidaya ini bukan sekadar urusan bisnis komersial. Ke depan, ia memiliki rencana besar untuk mencoba membudidayakan jenis kura-kura lokal lainnya yang memungkinkan untuk ditangkarkan.

Visi terbesar dari mahasiswa Akuakultur UBB ini adalah melakukan aksi restocking atau pelepasliaran kembali (release) sebagian dari hasil budidayanya ke alam liar Bangka yang kondisinya masih asri dan terjaga. Langkah ini diharapkan mampu memulihkan populasi kura-kura di alam dan menjaga keseimbangan rantai makanan serta ekosistem perairan darat di Bangka Belitung.

Aksi nyata Muhammad Faiq Elfaruq menjadi bukti bahwa pemuda dan akademisi memiliki peran krusial dalam mitigasi krisis lingkungan. Di tangan generasi seperti Faiq, harapan agar kekayaan biodiversitas lokal Bangka tetap lestari dan terhindar dari kepunahan kini kembali menyala.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *