Daya Beli Masyarakat Terus Jatuh, Pengusaha Kuliner Babel Mulai Ada Yang KO

Ahada
Daya Beli Masyarakat Terus Jatuh, Pengusaha Kuliner Babel Mulai Ada Yang KO
Akibat daya beli yang terus menurun, telah menyebabkan sejumlah pengusaha kuliner kewalahan menutupi biaya operasional. (Ilustrasi)

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW.CO.ID – Manajer Rumah Makan Warjo Zaky Abdurrauf mengatakan, usahanya sudah mulai mengalami penurunan omset hingga 20 persen sejak Januari 2020.

Penurunan omset tersebut dikarenakan daya beli masyarakat yang terus menurun.

Bisnis kuliner Warjo yang memiliki tujuh cabang di berbagai daerah Pulau Bangka ini lebih terpuruk lagi saat diberlakukannya social distancing dan imbauan untuk tetap di rumah.

“Kalau Januari ini dampak kelesuan ekonomi Babel karena tambang timah, harga lada jatuh akibatnya lalu daya beli rendah, apalagi kalau di kabupaten itu sangat terasa. Ditambah lagi dengan dampak covid-19, teman-teman yang usaha kuliner di Pangkalpinang bahkan beberapa tutup warungnya,” ungkapnya.

Dijelaskan Zaky, dampak covid-19 mulai dirasakan sejak Maret, namun puncak keterpurukan mulai pada April.

Akibatnya dua cabang Warjo (Cabang Semabung dan Warning) mengalami kerugian karena kondisi masyarakat yang terpaksa harus tetap di rumah dan pembatasan sosial.

Pada bulan Ramadan ini pun demikian karena ada imbauan untuk tidak melakukan buka puasa bersama. 

“Makanya usaha kuliner dilema. Masyarakat tidak boleh ke warung kemudian daya beli juga turun, semua masyarakat menahan untuk belanja karena tidak tahu sampai kapan pandemi ini, maka setiap orang mengamankan ekonominya masing-masing. Ditambah mungkin ada pemotongan gaji pegawai negeri dan ada PHK jadi faktornya domino,” ujarnya.

Yang dilakukan manajemen Warjo saat ini berusaha agar roda usaha bisa terus berjalan dan berjuang untuk karyawan dengan total 94 orang di tujuh cabang.

Dikatakan Zaky, Owner Warjo memiliki prinsip sebisa mungkin berusaha tidak akan melakukan pemecatan terhadap karyawan karena memiliki keluarga dan sudah lama bekerja dan berkembang bersama Warjo.

“Jadi perjuangan untuk karyawan itu membuat kami tetap buka sampai sekarang. Untuk tidak merugi itu tidak bisa karena pada kenyataannya dua warung kami merugi. Tapi usaha yang dilakukan tetap lewat kanal online delivery service yang tadinya tidak ada. Walaupun dampaknya tidak signifikan walaupun tidak cukup membantu,” jelasnya.

Untuk cabang yang rugi, pihak manajemen memberlakukan subsidi untuk menutupi gaji karyawan dan membayar sewa kontrakan.

Pihak manajemen pun ingin terus berjuang dengan berbagai cara dengan harapan agar tidak tutup.

“Kalau sampai tutup nanti mereka (karyawan) nanti kerja apa, makan apa. Cuma memang kalau tidak memungkinkan lagi paling dua kali gaji bisa bertahan. Memang kita akan terus berusaha bagaimana pun terus bertahan. Mungkin kalau kondisi seperti ini terus dengan berat akan ada pengurangan karyawan, kalau tutup mutlak itu tidak karena bagaimana pun roda ekonomi harus terus berjalan,” ujarnya.

Zaky berharap pandemi segera berlalu dan masyarakat bisa beraktifitas secara normal Kembali dan krisis bisa segera berakhir.

Berbeda dengan Warjo yang memilih untuk bertahan, Restoran Kembang Katis yang terletak di kawasan Tanjung Pesona, Sungailiat memilih untuk tutup sementara sejak 28 Maret 2020.

Owner Kembang Katis Yuna Ekowati mengatakan selain omset terus menurun dan tidak menutup biaya oprasional, Kembang Katis ditutup sementara juga untuk membantu pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19.

“Dampak covid-19 bagi wisata kuliner atau restoran cukup pahit, dan sudah di alami dari bulan maret, keadaan semakin menurun dan terus menurun. Sehingga kami (beberapa resto wisata kuliner) mulai mengurangi karyawan dan akhirnya harus merumahkan karyawan,” ujar Yuna.

Sebelum tutup Yuna sempat mencoba berbagai upaya, seperti delivery order melalui online tetapi hal itu tak cukup membantu.

“Dengan online pun biaya untuk gaji karyawan dan listrik tetap jalan, apalagi listrik kami cukup besar sehingga akhirnya tutup sementara,” katanya.

Setelah pandemi berakhir Yuna akan melakukan pemulihan Kembali dengan memanggil karyawan dan berjuang kembali dan memperbaiki minat beli masyarakat atau wisatawan dengan lebih baik.

Selain itu juga Kembang Katis nanti akan memberikan harga khusus sampai akhir tahun agar daya beli masyarakat stabil Kembali. 

“Semoga saja waktu seperti ini tidak berlanjut lama agar kami bisa bekerja lagi dan keadaan daerah kita akan bangkit di sektor pariwisatany sehingga semua yang termasuk dalam stakeholder pariwisata bisa bernapas Kembali,” harapnya.

Yuna juga berharap agar semua masyarakat saling menolong dan berperan aktif mengikuti imbauan pemerintah agar pendemi tidak terus menyebar sehingga semua bisa melakukan pemulihan pasca pandemic. (BBR)

Laporan: Irwan AR