Desa Pusuk Kaya Destinasi Wisata Bahari, Ada Hutan Mangrove Jadi Benteng Desa

Ahada
Desa Pusuk Kaya Destinasi Wisata Bahari, Ada Hutan Mangrove Jadi Benteng Desa
Desa Pusuk kaya akan destinasi wisata, selain hutan mangrove yang membentengi desa dari hantaman gelombang ketika air pasang, perairan dan pulau-pulau di depan desa juga sangat potensial dijadikan objek wisata. (@hada/babelreview)
Desa Pusuk kaya akan destinasi wisata, selain hutan mangrove yang membentengi desa dari hantaman gelombang ketika air pasang, perairan dan pulau-pulau di depan desa juga sangat potensial dijadikan objek wisata. (@hada/babelreview)
Desa Pusuk kaya akan destinasi wisata, selain hutan mangrove yang membentengi desa dari hantaman gelombang ketika air pasang, perairan dan pulau-pulau di depan desa juga sangat potensial dijadikan objek wisata. (@hada/babelreview)
Sekdes Pusuk, Dani. (Ichsan MD/babelreview)
Sekdes Pusuk, Dani. (Ichsan MD/babelreview)

BABELREVIEW.CO.ID -- DESA Pusuk Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat tak saja dikenal sebagai sentra pertanian dan perkebunan.

Namun dengan letak geografis yang berbatasan langsung  dengan laut (Teluk Kelabat), membuat desa ini kaya dengan destinasi wisata yang menjanjikan, khususnya wisata bahari.

Di sepanjang pantai yang menjorok ke dalam, tampak dipagari hutan mangrove yang menghijau lebat.

Jika air laut pasang, hutan mangrove itu tak ubahnya belantara tergenang dan tempat habitat ikan dan kepiting bakau (keramangok) mencari makan.

Hutan mangrove yang diperkirakan seluas kurang lebih 3000 hektar  atau secara keseluruhan dari luas teluk yakni 13.000 hektar, juga salah satu destinasi wisata yang bakal digarap untuk menunjang PAD desa yang berpenduduk 2061 jiwa, terdiri dari 1.034 laki-laki dan 1.027 perempuan itu.

Pj Kepala Desa Pusuk Imron, melalui Sekretaris Desa (Sekdes) Dani  mengungkapkan, hutan mangrove tersebut adalah aset sekaligus mahakarya alam yang kelak bakal menjadi pundi-pundi uang bagi PAD Pusuk.

Sedianya, tahun ini Pemdes Pusuk sudah menggelontorkan ratusan juta dana untuk memulai investasi.

Sayangnya, pandemi Covid-19 membuat pemerintah mengalihkan hampir seluruh mata anggaran untuk melakukan pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran virus yang mematikan itu. Termasuk investasi di hutan mangrove, pun ikut tertunda.

"Sebenarnya kita sudah anggarkan Rp 251 juta untuk memulai investasi di kawasan mangrove. Kawasan yang kelak akan menjadi destinasi wisata alam mangrove. Tapi untuk  sementara dananya kita alihkan dan difokuskan untuk pengendalian Covid-19 dan dampaknya," ujar Dani, Kamis (25/06/2020).

Dani memastikan, jika pandemi Covid-19 sudah mulai teratasi, tahun depan (2021) rencana investasi kawasan wisata mangrove akan dilanjutkan dengan pagu dana lebih besar ketimbang rencana semula.

"Paling tidak kita anggarkan sekitar Rp 400 an juta. Investasi awal ini diprioritaskan untuk pembangunan tracking, spot photo dan lain sebagainya," ujar Dani.

Menurut Dani, saat ini izin pengelolaan hutan mangrove sebagai kawasan wisata alam sudah mereka kantongi.

"Izin sudah ada dari kabupaten. Kita diberikan izin untuk mengelola sekitar 12 hektar. Untuk sementara kita fokus melakukan garapan seluas 12 hektar dulu. Nanti kita usul seluas 34 hektar, dan izinnya harus lewat provinsi," papar Dani. (BBR)

Laporan: Ichsan Mokoginta
Editor: @hada