Dilarang Mudik, Tiga Gadis Ini Menahan Rindu Di Tanah Rantau

Ahada
Dilarang Mudik, Tiga Gadis Ini Menahan Rindu Di Tanah Rantau
Feny Nuriahzah
Feny Nuriahzah
Feny Nuriahzah
Livia Maresa
Livia Maresa
Rima Vollantya
Rima Vollantya

"Pasti sedih ya, tapi mungkin bukan saya saja, semua orang yang merasakan atau berada di posisi yang sama pun pasti merasa demikian.  Belum lagi kalau mengingat saat bulan Ramadhan biasanya orang ramai memenuhi Masjid baik itu tadarusan atau sholat tarawih. Namun sekarang harus dialihkan dirumah saja tentu sedih banget, bakal merasakan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya"

Feny Nuriahzah

Tenaga Medis, Tinggal Di Jakarta

 

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Ditengah perperangan melawan Covid-19, Pemerintah Bangka Belitung terpaksa mengambil keputusan melarang para pemudik untuk masuk atau keluar dari Bangka Belitung.

Keputusan tersebut, menindaklanjuti intruksi presiden yang melarang masyarakatnya untuk melakukan mudik Lebaran di tahun ini.

Keputusan tersebut tentu mengukir kesedihan dihati para perantau.

Moment libur lebaran selalu menjadi yang ditunggu-tunggu karena moment tersebut adalah waktunya para perantau melepas rindu dengan bertemu keluarga tercinta.

Namun, apa hendak dikata, ditengah kondisi saat ini terbesit ketakutan dan kekhawatiran khususnya para perantau yang hendak pulang dari wilayah yang telah ditetapkan zona merah oleh pemerintah.

Kekhawatiran mereka tentunya beragam, tapi yang utama mereka takut menjadi carrier yang membawa penyakit tersebut ke tengah keluarga yang mereka cintai, sehingga opsi untuk tak mudik adalah yang paling realistis ditengah rasa rindu yang melanda.

Begitu pula yang dirasakan para perantau asal Bangka Belitung yang saat ini tengah mengadu nasib di negeri orang.

Keinginannya untuk pulang pun sedikit demi sedikit gugur melihat kondisi pandemi yang belum tahu kapan berhenti ini.

Ditengah perasaan sedih tersebut, Babelreview berkesempatan mewawancarai beberapa perantau yang saat ini tengah berada di sejumlah Daerah di Indonesia.

Salah satunya Livia Maresa (25). Gadis cantik asal Koba Bangka Tengah ini bekerja disalah satu perusahaan swasta di Yogyakarta. Ia menceritakan sudah 8 tahun menetap di yogya.

"Saya awal di Jogja tahun 2012 waktu itu pertama masuk kuliah, namun setelah selesai kuliah Alhamdulillah mungkin rezekinya disini saya keterima kerja. Jadi sampai sekarang masih disini," katanya kepada Babelreview.

Ia menuturkan, setiap tahun dia selalu pulang khususnya libur lebaran karena keluarga semua masih di Koba, Bangka Tengah.

Namun Tahun ini terpaksa tidak pulang karena larangan mudik oleh pemerintah.

"Yang jelas sedih ya, hanya libur lebaran saya bisa pulang. Tapi ditengah kondisi saat ini ada hal yang jauh lebih penting yakni keselamatan orang terdekat," katanya kepada Babelreview.

Ia menyadari, peluang penyebaran yang lebih besar dapat disebabkan oleh mereka yang datang dari wilayah yang telah ditetapkan Zona Merah, apalagi tak sedikit pasien positif Covid-19 adalah Orang Tanpa Gejala (OTG).

"Karena saya dari luar  Bangka balik ke Bangka, takutnya membawa bahaya bagi orang banyak. Saya berharap agar Indonesia bisa pulih kembali seperti dulu yang jauh dari namanya virus corona. Agar semua orang bisa berkumpul bersama orang tersayang dihari yang selalu ditunggu- tunggu setiap tahunnya," ungkapnya.

Perasaan serupa pun dirasakan tenaga medis asal Kota Pangkalpinang yang saat ini bekerja di salah satu rumah sakit rujukan di Jakarta, Feny Nuriahzah (24).

Gadis cantik yang menetap di Jakarta sejak 7 tahun silam ini menceritakan kesedihannya karena tak bisa pulang ke Bangka pada lebaran tahun ini.

"Pasti sedih ya, tapi mungkin bukan saya saja, semua orang yang merasakan atau berada di posisi yang sama pun pasti merasa demikian.  Belum lagi kalau mengingat saat bulan Ramadhan biasanya orang ramai memenuhi Masjid baik itu tadarusan atau sholat tarawih. Namun sekarang harus dialihkan dirumah saja tentu sedih banget, bakal merasakan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya," kata gadis yang akan genap berumur 25 tahun, pada 8 Mei mendatang.

Apalagi Ia tak tahu waktu yang jelas kapan bisa pulang kampung dengan kondisi kerjaan dan tanggungjawabnya di rumah sakit tempat bekerja saat ini.

"Saya sendiri biasanya bisa 2 sampai 3 kali pulang, hanya untuk waktunya saya tidak bisa pastikan. Mengingat kembali pekerjaan disini jadi tergantung mendapat cutinya kapan,  biasanya dihari besar atau libur Lebaran," ucapnya lirih. 

Pada kesempatan berbincang tersebut juga, kepada Babelreview Ia menceritakan pengalamannya bekerja dirumah sakit rujukan Covid-19 selama masa pandemi.

"Untuk kegiatan ditengah pandemi tentunya banyak yang saya batasi, karena ini bentuk kesadaran saya  memutus rantai penyebaran Covid-19 ditambah waktu saya pun banyak saya habiskan di rumah sakit, jarang dirumah, karena kami sudah disediakan penginapan jadi pulang pun tidak ke rumah, tapi langsung kepenginapan," ujarnya.

Sebagai tenaga medis yang merupakan garda terdepan dalam upaya percepatan Penanganan Covid-19 ini, Feny berpesan kepada masyarakat untuk berperan serta dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan cara mematuhi anjuran pemerintah baik itu dengan menggunakan masker saat keluar rumah, menjaga jarak serta #dirumahaja.

Kesadaran masyarakat itu sangat penting untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ini, dengan jaga jarak, disiplin hidup bersih, menjaga imunitas tubuh dengan makanan sehat olahraga dan istirahat yang cukup.

Tapi selain itu peran pemerintah dalam mengedukasi pemutusan rantai penyebaran covid-19 ini juga penting.

"Mungkin masih banyak masyarakat yang belum paham atau kurangnya informasi sehingga kurang kesadaran untuk pemutusan rantai penyebaran ini. Kadi harapan saya agar semua saling berperan salam upaya ini, terakhir harapan semoga covid-19 segera berakhir," harapnya.

Terakhir, Babelreview berkesempatan mewawancarai Rima (23). Wanita cantik asal  Sungailiat, Bangka yang saat ini bekerja disalah satu perusahaan di Jakarta dan sudah merantau kurang lebih selama 7 tahun.

Kepada Babelreview, Ia juga tak bisa membohongi perasaan sedihnya karena tak bisa bertemu keluarga di libur lebaran tahun ini. 

"Tidak bisa pulang yang pasti sedih ya. Tapi seperti yang kita tau larangan ini demi kebaikan kita semua," lirihnya

Ia mengungkapkan, biasanya kalo ada kesempatan libur untuk pulang kampung bisa dua kali pulang kampung yakni saat idul fitri dan saat lebaran haji.

"Untuk sekarang disaat kondisi pandemi seperti ini, yang pasti ada ketakutan untuk pulang. Karena saya gak pernah tahu bisa saja saya yang bawa virus kesana walaupun saya terlihat sangat sehat," ungkapnya.

Untuk Ia berharap, Pandemi Covid-19 ini dapat segera berakhir dan Ia bisa pulang untuk sesaat melepas rindu bersama keluarga tercinta.

"Harapan saya semoga pandemi segera berakhir dan kita semua bisa melaksanakan aktivitas seperti biasa lagi. Dan semoga saya dan kita semua bisa mengikuti ajuran pemerintah, salah satunya untuk tidak mudik demi kebaikan kita bersama. Saya tahu, saya, anda dan kita bisa melewati ini semua," pungkasnya. (BBR)

Laporan: Diko Subadya