Dilema Berwisata di Pantai Pasir Padi, Kepala Dinas Pariwisata Pangkalpinang Tak Mau Dikonfirmasi

Ahada
Dilema Berwisata di Pantai Pasir Padi, Kepala Dinas Pariwisata Pangkalpinang Tak Mau Dikonfirmasi
Pantai Pasir Padi Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (Foto: firly/babelreview)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Pantai Pasir Padi masih menjadi salah satu lokasi berlibur favorit masyarakat Kota Pangkalpinang dan sekitar.

Tidak heran jika wisatawan lokal maupun luar daerah menjadikan Pasir Padi sebagai pilihan berwisata. Keindahan pantai berpasir putih ini telah harum namanya sejak dahulu.

Lokasi yang terbilang dekat dari pusat Kota Pangkalpinang ini, selalu mampu menghipnotis masyarakat untuk menikmati deburan ombak dan desiran angin tepi pantai.

Kawasan  yang memiliki garis bibir pantai lebih dari tiga kilometer ini memberikan kehangatan tersendiri bagi wisatawan.

Tidak hanya bisa menikmati ombak bekerjaran di tepi pantai sembari duduk diatas tanggul laut (Talut), namun bagi wisatawan yang mau menghangatkan badan, bisa berolahraga lari ataupun jalan santai di sepanjang pantai.

Bagi wisatawan yang lapar dan haus sehabis berolahraga maupun berjalan menyusuri tepi pantai, tidak perlu pusing. Pasalnya di sepanjang pinggir pantai sudah berbaris warung makanan.

Kursi-kursi dan meja juga sudah tersusun rapi di atas Talut, yang terkadang sudah menghalangi wisatawan untuk berjalan menikmati desiran angin dan percikan gelombang.

Mulai dari jajanan Bakso,  es kelapa, kopi dan nasi juga bisa dipesan kepada pemilik warung. Bahkan bagi yang suka menyantap lempah kuning yang merupakan makanan khas Bangka, juga bisa dipesan di warung-warung di pinggir pantai ini.

"Alhamdulillah, saya dan keluarga bisa menikmati indahnya pantai Pasir Padi ini. Kebetulan kami sedang berlibur ke Bangka. Kami dari Bengkulu. Liburan sambil silahturrahmi ke rumah saudara di sini," ujar Topani, sembari melahap pempek yang mereka bawa dari rumah.

Topani mengaku senang bisa berwisata di Pantai Pasir Padi. Selain jarak yang tidak jauh dari rumah saudaranya di Kacang Pedang Pangkalpinang, suasana di kawasan Pantai Pasir Padi ini sangat bagus dan indah, dengan pemandangan lepas pantai dan rerimbunan pohon cemara di pinggirnya.

"Cukup adem di sini. Pohon-pohonya menambah sejuk kawasan pantai ini," tukas Topani.

Hal serupa juga dirasakan oleh Fauzan. Pekerja swasta salah satu perusahaan di Kota Pangkalpinang ini mengaku cukup sering main ke Pasir Padi.

Bahkan Fauzan mengaku sering bersepeda dari rumahnya di seputaran Air Itam menuju Pasir Padi.

"Jika masih pagi seperti ini, saya sering bersepeda bersama istri dan anak-anak. Tetapi hari ini kebetulan kami membawa keluarga yang cukup banyak, jadi kami bawa mobil. Hari ini, kami pengen makan siang bersama keluarga di tepi pantai," ujar Fauzan.

Namun apa hendak dikata, keindahan dan kenyamanan berwisata di Pantai Pasir Padi ini sedikit terluka oleh banyaknya kursi dan meja yang mengambil jatah publik untuk bersantai menikmati tepi pantai.

Kini hampir seluruh sisi Talut yang biasanya digunakan wisatawan untuk duduk dan bersantai, sekarang sudah penuh diisi oleh kursi dan meja para penjual makanan.

Akibatnya, warga kekurangan ruang publik untuk menikmati indahnya berwisata pantai.

"Sekarang kita sudah sulit untuk duduk santai di pinggir pantai. Karena sepanjang talut yang biasa tempat duduk, sekarang sudah ada kursi semua. Kita kan tidak nyaman mau duduk di kursi-kursi tersebut. Ya, kepada pemerintah tolonglah diatur, sehingga warga yang mencari rezeki tetap bisa, tetapi tidak mengurangi hak publik untuk mendapatkan kenyamanan menikmati pantai. Masuk pantai ini kita kan bayar," tukas Subran, yang terpaksa duduk di bagian belakang mobil yang dibuka.

Kondisi ini, menurut Subran perlu penataan dari pihak terkait. Tujuannya ada pembagian ruang bisnis dan ruang publik di kawasan Pantai Pasir Padi kebanggaan masyarakat Kota Pangkalpinang ini.

"Sebenarnya kita beruntung masih ada pasir padi ini. Kalo di daerah lain kan sudah dimiliki oleh pribadi dan pengusaha, sehingga kita tidak bisa sembarangan bermain dan menikmati pantai. Tetapi ya tadi, harus ada pengaturan, jangan sampai ruang publik sudah berganti ruang bisnis," ujar Subran. 

Menyikapi kondisi ini,  Babel Review mewawancari salah satu pedagang di kawasan Wisata Pasir Padi. Isa salah satu pedagang kawasan Pantai Pasir Padi ini mengatakan, keluarganya sudah berjualan sekitar 20 tahun yang lalu.

"Lahan yang kami tempati milik pribadi, kami numpang disini. Untuk pengutan di Pasir Padi sendiri kami hanya menyetorkan Rp 50 ribu untuk uang kebersihan," kata Isa.

Ia juga mengatakan, Tahun 2019 lalu, saat pertemuan dengan seluruh pedagang di Pantai Pasir Padi, Walikota Pangkalpinang menyampaikan untuk selalu menjaga kebersihan dan keindahan pantai.

"Pernah disampaikan untuk hanya berdagang di sebelah deretan bangunan saja, namun pak wali tidak terlalu melarang atau apa, cuma Beliau meminta menjaga  kebersihan pantai kita dan  kerjasamanya," ujarnya.

Ia juga mengatakan, banyaknya para pedagang yang berjualan di kawasan fasilitas umum terrsebut, setelah 6 bulan usai dibuat.

Hal tersebut dikarenakan pengunjung ingin menikmati makanan dengan pemandangan pantai. 

"Kalau di warung sepi, pengunjung tidak mau lagi makan ke warung, mereka mau langsung memandang pantai," katanya.

Ia juga mengatakan, apabila dilakukan penertiban untuk tidak boleh menggelar dagangan maupun perlengkapan di kawasan pantai tersebut, Dirinya meminta toleransi dan jalan terbaik kepada Pemkot Pangkalpinang.

"Kalau memang mau ditertibkan jangan timpang lah, kalau seandai sebelah kami ditertibkan. Sedangkan sebelah sana tidak, yang sudah masuk pantai dengan bangunan permanen, sedangkan kami tidak permanen," jelasnya.

Terkait hal tersebut, Babel Review berusaha mewawancarai Kepala Dinas Parawisata Kota Pangkalpinang, Dr Eti Fahriaty. Namun Eti tidak bersedia dikonfrimasi dan memberikan  penjelasan terkait persoalan tata tertib berdagang di Kawasan Pantai Pasir Padi. (BBR)

Penulis: Gusti Randa