Dilema Covid-19 (Kajian Sholat Jum’at dan Sholat Jama’ah di Masjid)

kasmirudin
Dilema Covid-19 (Kajian Sholat Jum’at dan Sholat Jama’ah di Masjid)
Wendi Rais, S.Pd.I.,M.Pd.I.

PENYEBARAN Corona Virus Disease (Covid-19) di negara kita Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan, karena jangkauan penyebarannya terus  meluas. Hingga kini data tertanggal 1 Mei 2020 tercatat sebanyak 10.551 orang dinyatakan positif, sembuh sebanyak 1.591 orang dan yang meninggal dunia sebanyak 800 orang. Karenanya pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan social distancing/physical distancing untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona agar tidak semakin luas. Hal ini tentu saja berdampak signifikan bagi banyak orang, tak terkecuali bagi kaum Muslimin yang akan melaksanakan ibadah ritual seperti shalat jama’ah 5 waktu dan sholat Jum’at.

Lalu pertanyaannya, bolehkah sholat Jum’at diganti dengan shalat Dzuhur di rumah?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita harus mulai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطَّاعُونُ آيَةُ الرِّجْزِ ابْتَلَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلَا تَدْخُلُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَفِرُّوا مِنْهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Azza Wajalla untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Hadit diatas dapat disimpulkan bahwa jika ada wabah penyakit terutama penyakit menular, bakteri, virus termasuk Corona Virus Disease (Covid-19) yang ada di suatu tempat, maka kita tidak boleh mendatangi tempat tersebut dan sebaliknya jika di tempat tinggal kita terdapat wabah maka kita dilarang juga untuk keluar dari tempat tinggal. Karena dikhawatirkan tertular dan menularkan wabah penyakit atau virus ke orang lain.

Selanjutnya Hadits Rasulullah SAW yang di riwayatkan oleh Imam Muslim menjelaskan :

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

Larilah dari penyakit menular (kusta) seperti engkau lari dari singa (HR. Muslim)

Rasul SAW memerintahkan menggunakan kemampuan yang ada dalam diri kita dengan sekuat tenaga untuk mengindari penyakit menular agar tidak tertular dan menularkan seperti menghindari atau lari dari kejaran singa yang buas.

Sholat berjama’ah adalah mencari manfaat, tetapi jika manfaat dihadapkan dengan mudharat. Artinya, ketika kita mau mengambil manfaat dari sholat jama’ah tetapi di sisi lain kita berhadapan dengan mudharat wabah penyakit atau virus, maka kita harus memilih menghindari mudharat, sebagaimana kaidah fiqih menjelaskan :

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada Mengambil sebuah kemaslahatan.”

Bahkan jangankan wabah atau virus yang menular, hujan deras yang mengakibatkan tanah menjadi lumpur sehingga tidak bisa dilewati, kita diperbolehkan untuk tidak sholat Juma’at, sesuai dengan Sabda Rasulillah SAW :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِى يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ  قَالَ  فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِى الطِّينِ وَالدَّحْضِ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, beliau mengatakan kepada mu’adzin pada saat hujan, ”Apabila engkau mengucapkan ’Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’, maka janganlah engkau ucapkan ’Hayya ’alash sholaah’. Tetapi ucapkanlah ’Sholluu fii buyutikum’ (Shalatlah di rumah kalian). Lalu perawi mengatakan, ”Seakan-akan manusia mengingkari perkataan Ibnu Abbas tersebut”. Lalu Ibnu Abbas mengatakan, ”Apakah kalian merasa heran dengan hal itu. Sungguh orang yang lebih baik dariku telah melakukan seperti ini. Sesungguhnya (shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban. Namun aku tidak suka jika kalian merasa susah (berat) jika harus berjalan di tanah yang penuh lumpur.” Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas mengatakan, ”Orang yang lebih baik dariku telah melakukan hal ini yaitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa : apabila ada wabah penyakit dalam hal sekarang ini wabah Corona Virus Disease (Covid-19) maka shalat jum’at boleh diganti dengan shalat Dzuhur di rumah begitu juga shalat jama’ah.

Hal ini juga merujuk kepada Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19 pada poin 4 menyebutkan bahwa “Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing.

Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/ rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim”. (BBR)


Penulis : Wendi Rais, S.Pd.I.,M.Pd.I. (Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMKN 1 Muntok/ Dosen/Tutor Universitas Terbuka Pangkalpinang                                                               

Editor   : Kasmir