Dilema Ramadhan Pada Masa Covid-19 (Antara Iman dan Imun)

kasmirudin
Dilema Ramadhan Pada Masa Covid-19 (Antara Iman dan Imun)
Wendi Rais, S.Pd.I.,M.Pd.I.

RAMADHAN tahun 1441 H/2020 M sedikit mendapatkan ujian dari makhluk tidak kasat mata berdiameter 400-500 micro bernama Corona. Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) di negara kita Indonesia semakin hari semakin mengkhawatirkan, karena jangkauan penyebarannya terus  meluas. Walau pun rasio pasien sembuh lebih banyak dari pasien yang meningggal dunia. Hingga  kini data tertanggal 1 Mei 2020 tercatat sebanyak 10.551 orang dinyatakan positif, sembuh sebanyak 1.591 orang dan yang meninggal dunia sebanyak 800 orang.

Ramadhan adalah bulan dimana umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa, sebagaiman Firman Alla SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al Baqarah/02 : 183).

Panggilan kewajiban melaksanakan puasa dikhususkan kepada orang-orang yang beriman saja dalam redaksi di awal ayat disebutkan  ‘ya ayyuhalladzina amanu’ yang berarti ‘wahai orang-orang yang beriman’ ini artinya yang belum mencapai derajat iman hatinya tidak akan terpangggil untuk melaksanakan Puasa di bulan Ramadhan, lalu apa sih iman itu?

Drs. Syaiful Mikdar, M.Pd dalam modul Pendidikan Agama Islam menyebutkan Untuk memahami pengertian iman dalam ajaran Islam strateginya yaitu mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an atau Hadits yang redaksionalnya terdapat kata iman, atau kata lain yang dibentuk dari kata tersebut yaitu “aamana” (fi'il madhi/bentuk telah), “yu’minu" (fi'il mudhari/bentuk sedang atau akan), dan mukminun (pelaku/orang yang beriman). Selanjutnya dari ayat-ayat atau hadits tersebut dicari pengertiannya.

Dalam Al-Quran terdapat sejumlah ayat, yang berbicara tentang iman di antaranya. QS. Al- Baqarah (2) : 165.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Artinya : dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Berdasarkan redaksi ayat tersebut, iman identik dengan asyaddu hubban lillah. Hub  artinya kecintaan atau kerinduan. Asyaddu adalah kata superlatif syadiid  (sangat). Asyaddu hubban berarti sikap yang menunjukkan kecintaan atau kerinduan luar biasa. Lillah artinya kepada atau terhadap Allah. Dari ayat tersebut tergambar bahwa iman adalah sikap (atitude), yaitu kondisi mental yang menunjukkan kecenderungan atau keinginan luar biasa terhadap Allah. Orang-orang yang beriman kepada Allah berarti orang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk mewujudkan harapan atau kemauan yang dituntut oleh Allah kepadanya.

Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan bahwa nabi pernah bersabda sebagai berikut.

“Iman adalah keterikatan antara kalbu, ucapan dan perilaku”. (Menurut

Al-Sakawy dalam, Al-Maqasid, Al-Hasanah, hlm 140, kesahihan hadits tersebut dapat dipertanggungjawabkan).

Maka dapat disimpulkan bahwa Iman adalah keterikatan antara ucapan, hati dan perbuatan dalam mewujudkan kepercayaan dengan kecenderungan atau kecintaan yang luar biasa teradap Allah SWT yang dibuktikan dengan pengorbanan jiwa dan raga dengan semboyan inna shalati, wanusuki, wamahyaya, wamamati lillahirabbil ‘alamin (sesunggunya shalatku, ibadah ku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam).

Orang yang melaksanakan puasa selama  lebih kurang 14 jam tidak makan dan minum, ini artinya secara teori biologis  tubuh manusia akan kekurangan asupan gizi dan menyebabkan turunnya daya tahan tubuh atau yang disebut dengan imun.

Imunitas berasal dari  kata immune  atau immunis (bahasa latin)  yang berarti  kebal atau bebas penyakit. Dalam bahasa Indonesia disebut  dengan system kekebalan, Imunitas atau system kekebalan merupakan jawaban reaksi  tubuh  terhadap bahan asing  baik secara  molekular maupun seluler. Pada awalnya system imun ini dikenal sebagai system  yang melindungi tubuh dari  penyakit,  terutama  penyakit  infeksi  akibat  masuknya  kuman  ke  dalam  tubuh,  misalnya kuman plasmodium yang menyebabkan malaria, kuman salmonella tifosa yangenyebabkan  demam  tifus  dsb,  namun  dengan  perkembangan  ilmu  pengetahuan akhirnya diketahui system imun tidak hanya melindungi terhadap adanya infeksi tetapi juga terhadap proses karsinogenesis, degenerasi dan autoimun (Akrom, 2017).

Pertanyaannya benarkah puasa menurunkan imunitas tubuh? Sehingga dalam kondisi pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) ini akan rentan terkena virus tersebut?

Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dalam artikel iNew.id, saat seseorang melaksanakan ibadah puasa dengan sendirinya memberikan kesempatan bagi tubuh untuk meningkatkan sistem imun.

"Sebab tubuh kita mendapatkan fase istirahat, termasuk usus dan perut," kata dokter spesialis penyakit dalam sekaligus pengurus PAPDI, Profesor Iris Rengganis.

Dia mengatakan, dengan adanya fase istirahat bagi tubuh pada saat berpuasa, sel-sel peradangan menurunkan efek-efek agar tidak mengeluarkan zat yang menimbulkan peradangan. Secara sederhana, apabila makan saat sahur dan berbuka sudah dilakukan dengan cukup, maka akan tercipta fase istirahat bagi tubuh saat tidak ada makanan atau apa pun yang masuk ketika berpuasa.

"Kadang-kadang orang bilang istilah detoks, ada benarnya karena sistem imun diberi kesempatan untuk meningkat. Jadi, justru ditingkatkan karena tidak ada apa-apa yang mengganggu," katanya.

Selain itu, Ahli Gizi Universitas Gadjah Mada ( UGM), R. Dwi Budiningsari, SP., M.Kes., Ph.D., dalam artikel Kompas.com menyatakan, puasa bermanfaat pada sistem kekebalan tubuh atau imunitas.

Maka benarlah apa yang di Sabdakan oleh Rasulullah SAW dari Abu  Hurairah r.a :

صُومُوا تَصِحُّوا

Berpuasala niscaya kalian akan sehat (HR. At-Tabrani)

Sebagaimana kita ketahui bahwa hadist tersebut adalah hadits dhaif (lemah), tetapi  bukan berarti kita serta merta menolak makna yang terkandung dalam hadist tersebut. Karena memang makna yang terdapat hadist tersebut adalah shahih dan telah di akui secara medis. berkata Fadhilatu Syeikh Shalih Fauzan –Hafidzhullah- sebagaimana dalam Muntaqo Fatawa:

“(Hadist ini) meskipun sanadnya tidak kuat akan tetapi maknanya benar, karena puasa itu bisa membuat badan menjadi sehat dan mencegah suatu yang dapat mendatangkan penyakit. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh para dokter dan dibuktikan dengan beberapa penelitian.”

Pernyataan tersebut sangat diperkuat oleh Firman Allah SWT yang berbunyi :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (QS.  Al A’raf/07: 31)

Maka dapat disimpulkan bahwa puasa selain meningkatkan keimanan kepada Allah SWT juga meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh seseorang so jangan takut untuk berpuasa karena Agama dan Ahli Kesehatan sudah seiya sekata dalam hal imunitas dan tentunya berguna untuk mencegah terinfeksinya tubuh manusia dari pandemi virus yang di kenal dengan Corona Virus Disease (Covid-19) yang sedang melanda dunia tidak terkecuali di negara kita tercinta negara Indonesia. (BBR)


Penulis  : Wendi Rais, S.Pd.I.,M.Pd.I.   (Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMKN 1 Muntok/ Dosen/Tutor Universitas Terbuka (UT) Pangkalpinang

Editor    : Kasmir