BANGKA TENGAH, BABELREVIEW.CO.ID — Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Tengah berencana menambah delapan unit mesin obras untuk mendukung kegiatan pelatihan keterampilan di Sanggar Kegiatan Belajar Bangka Tengah. Langkah ini merupakan bagian dari penguatan pembelajaran vokasional sekaligus peningkatan kualitas hasil praktik warga belajar program pendidikan kesetaraan. Jumat (13/2/2026).
Penambahan delapan unit mesin obras dinilai sebagai kebutuhan strategis mengingat SKB berfungsi sebagai ruang pendidikan alternatif bagi masyarakat yang tidak menempuh jalur formal. Kehadiran fasilitas praktik tersebut diharapkan memperluas kompetensi teknis warga belajar, sehingga proses pelatihan tidak berhenti pada pemahaman teori, melainkan menghasilkan keterampilan aplikatif yang memiliki nilai ekonomi.
Program ini menyasar warga belajar yang sebagian besar berasal dari kelompok pekerja informal, pegawai pendukung di lingkungan pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, serta masyarakat yang sebelumnya putus sekolah. Dengan dukungan sarana praktik yang memadai, pelatihan diarahkan untuk memperkuat kesiapan kerja sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi di Bangka Tengah.
Berdasarkan data internal Dinas Pendidikan Bangka Tengah, SKB Bangka Tengah saat ini melayani 266 warga belajar yang terdiri dari 58 peserta Paket A, 103 peserta Paket B, dan 105 peserta Paket C. Kegiatan belajar mengajar sendiri berlangsung dua kali dalam sepekan dengan dukungan empat tenaga pengajar dan satu kepala satuan pendidikan. Profil peserta yang didominasi pekerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menegaskan peran SKB sebagai instrumen mobilitas sosial dan peningkatan kapasitas kerja bagi kelompok rentan pendidikan.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Tengah, Esdras Silverius Bangun, menyatakan bahwa penguatan sarana praktik merupakan bagian dari pendekatan pendidikan berbasis keterampilan hidup.
“SKB berperan penting dalam memberikan kesempatan kedua bagi syarat untuk memperoleh pendidikan sekaligus keterampilan kerja. Penambahan mesin obras kami arahkan untuk memperkuat kompetensi praktis warga belajar. Namun, kami tetap harus menyesuaikan dengan kondisi fiskal daerah, terutama setelah adanya pengurangan dana transfer pusat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa rencana pengadaan mesin obras tidak semata penguatan fasilitas teknis, tetapi bagian dari desain intervensi sosial yang menempatkan pendidikan kesetaraan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia di Bangka Tengah.
“Realisasi program ini akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara kemampuan anggaran dan komitmen pemerintah daerah dalam mempertahankan akses pendidikan inklusif. Sejauh ini kami telah mengajukan delapan unit mesin obras untuk menunjang sarana dan prasarana SKB. Mudah-mudahan dapat terealisasi dengan baik,” katanya.
Menurut Esdras, secara kebijakan, rencana tersebut mencerminkan orientasi pendidikan nonformal yang semakin menekankan keterampilan hidup dan kesiapan kerja.
“Pemerintah daerah memandang investasi pada sarana praktik sebagai langkah strategis untuk menjaga relevansi dan masa depan SKB sebagai instrumen peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan kedua,” tutupnya.












