Diterpa Teror Corona, Penghasilan Semakin Sulit, Beginilah Jeritan Buruh Harian dan Petani

Ahada
Diterpa Teror Corona, Penghasilan Semakin Sulit, Beginilah Jeritan Buruh Harian dan Petani
Ilustrasi. (Ist)

SIMPANGRIMBA, BABELREVIEW.CO.ID  -- Sejak merebaknya wabah penyakit covid 19 yang saat ini melanda seluruh dunia, telah membuat keresahan  di tengah kehidupan masyarakat.

Tidak terkecuali di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Apalagi didapati kabar sudah ada warga Bangka Belitung yang positif terpapar covid 19.

Tentu saja kabar ini semakin membuat  masyarakat cemas. Sebagian tidak berani lagi pergi jauh dari rumah.

Keresahan dan kecemasan juga dirasakan oleh warga di wilayah Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan.

Di Simpang Rimba, masyarakat merasakan imbas dari teror meluasnya wabah corona ini. Apalagi ada beberapa kebutuhan pokok masyarakat yang harganya  kini beranjak naik.

Terutama keluhan  dari masyarakat umum, tingkat ekonomi mereka yang setiap harinya hanya ditopang oleh pendapatan pada hari itu juga dan mereka yang berpenghasilan tidak tetap.

Para buruh harian, petani, pertukangan dan lain-lain, merasa terpukul, karena pemasukan menjadi sangat rentan jika  mereka tidak bekerja. Akibatnya pendapatan mereka tidak ada sama sekali.

Sebagaimana dikeluhkan oleh beberapa masyarakat di Kecamatan Simpang Rimba. Contohnya yang dialami Ustadz Sodiq, warga Desa Bangka Kota ini.

Seorang  tokoh agama yang berprofesi sebagai tukang kayu dan buruh harian ini mengaku bahwa tingkat kehidupan saat ini sangat sulit, ditambah lagi beberapa kebutuhan pokok naik.

"Saat ini rezeki agak sempit, pekerjaan tidak ada. Kami hanya mengandalkan dana yang ada yang semakin menipis. Apalagi beberapa kebutuhan hidup banyak yang naik. Entah, seberapa lama kami harus bertahan", ungkap Sodiq.

Demikian juga dengan Rojali, yang berprofesi sebagai penjual atau tengkulak ikan. Ia mengatakan bahwa pendapatannya saat ini hanya sekedar untuk menyambung hidup saja.

"Harga ikan jauh menurun pak, dan kami hanya boleh menjual di kampung kami saja, di kampung banyak yang jual ikan juga. Sementara pendapatan orang-orang saat ini hampir seluruhnya minim, bahkan ada pengeluaran tidak seimbang dengan pemasukan," keluh Rojali.

Senada dengan apa yang dikeluhkan oleh Suhari, petani dan penjual ikan yang tinggal di Simpang Rimba.

Ia  mengungkapkan bahwa saat ini pendapatannya benar-benar minim. Ditambah lagi hasil pertanian tidak laku dan mencari pekerjaan susah.

"Kemaren ubi racun (ubi kasesa) sudah di cabut, sudah di panen, tetapi tidak laku. Orang tidak mau belinya. Kabarnya pabrik ubi ditutup. Jadi kami harus jual dimana, dan kerugian kami lumayan.  Sementara ngulak (menjual) ikan, penghasilan tidak seperti biasanya. Ruang gerak dibatasi. Berjualan hanya untuk di Simpang Rimba saja, tidak boleh berjualan ke Kampung Gudang dan kampung lainnya. Pokoknya penghasilan kami hanya sebatas menyambung hiduplah," keluh Suhari.

Mendengar dari keluhan mereka, sepertinya tidak hanya mereka bertiga. Banyak juga dijumpai orang-orang merasakan hal yang sama.

Bukan hanya dari petani, buruh harian, tetapi hampir menyeluruh masyarakat merasakan.

Bila ini terus berlanjut dan memakan waktu lama, tidak menutup kemungkinan akan ada kerawanan sosial yang berdampak pada keamanan dan ketertiban umum.

Dan kita berharap itu tidak terjadi, dan wabah ini segera berakhir. (BBR)
Laporan: Kulul Sari