Ditetapkan sebagai OTG, Sopir Travel ini Beri Pesan Menohok Kepada Gugus Tugas Covid-19 Bangka Barat

diko subadya
Ditetapkan sebagai OTG, Sopir Travel ini Beri Pesan Menohok Kepada Gugus Tugas Covid-19 Bangka Barat
Suasana Pelabuhan Tanjung Kalian Muntok saat arus mudik pada tahun 2019, Lalu (Babelreview/Fierly)

MUNTOK, BABELREVIEW.CO.ID --  Masih ingat dengan Sopir Travel Muntok berinisial M yang baru-baru ini ditetapkan berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG).

Ia dinyatakan berstatus OTG, usai menjemput dua penumpang yang datang dari tanjung api-api (Palembang) ke Tanjung Kalian (Muntok) yang diluar dugaannya ternyata penumpang tersebut dinyatakan Reaktif dari hasil Rapid Test yang dilakukan.

Alhasil, Ia pun harus menjalani karantina di Wisma karantina Bangka Barat dengan status OTG karena membawa penumpang yang dicurigai terjangkit covid-19.

Ia menyesalkan penetapan status OTG kepada dirinya. Ia mengungkapkan seharusnya status OTG tersebut tak disandangnya, jika saja tim gugus tugas Covid-19 Kabupaten Bangka Barat lebih proaktif melakukan pencegahan penyebaran Covid-19 ini.

Kepada Babelreview.co.id, Ia pun menceritakan kronologi lengkap hingga akhirnya Ia ditetapkan berstatus OTG oleh gugus tugas.

" awalnya sayakan ditelpon bos untuk menjemput dua penumpang ini di pelabuhan tanjung kalian, disini saya gak tau riwayat perjalanan mereka. Setelah kapal bersandar dua penumpang ini ditanya-tanya oleh petugas, lalu mereka menjelaskan riwayat perjalanan mereka sebelumnya bahwa pernah ke Maroko, Malaysia, Lampung lalu tiba ke Bangka," katanya mengawali cerita.

Setelah petugas di Pelabuhan selesai mendapatkan informasi dari dua penumpang, Tak lama, Ia di telpon lagi oleh bosnya, untuk menjemput kedua penumpang ini dari posko Covid-19 muntok ke puskemas.

Sesampainya di posko, Ia sempat di tanya-tanya oleh tim gugus tugas di posko Covid-19 Muntok.

" Abang ok yang jemput ?," katanya menirukan petugas saat mengintrogasi dirinya.

" saya jawab iya, lalu saya diminta untuk ke Puskesmas mengantarkan dua Penumpang ini, untuk dilakukan test sampel darah, sesampainya disana usai diambil darah kami diminta menunggu hasil kurang lebih 30 menitan," ujarnya.

" Setelah menunggu, Petugas Puskesmas tersebut datang, tiba-tiba kami diminta mengikuti mobil mereka dari belakang, saya sempat tanya mau kemana, tapi petugas hanya minta kami ikut saja, jadi kami ikut," sebutnya.

" Sesampainya dilokasi baru saya tau, ternyata kami diminta mengikuti mereka tujuannya adalah tempat karantina, untuk mengkarantina kami," ungkapnya kepada Babelreview.co.id.

Hal tersebut lah yang kemudian membuat dirinya kecewa. Ia merasa seperti di jebak, karena dari awal petugas di pelabuhan sebenarnya sudah mengetahui riwayat perjalanan penumpang ini, kenapa mereka tidak berinisiatif untuk mengantarkannya ke posko Covid atau Puskesmas padahal banyak petugas gugus tugas di situ.

" yang buat saya kecewa, para petugas dipelabuhan kan sudah tau riwayat perjalanannya, apalagi mereka beberapa daerah atau negara yang cukup tinggi kasus Covid-19 nya, ditambah lagi mereka berstatus ODP tapi kok gak ada inisiatif mereka untuk mengantarkannya ke Puskesmas untuk dilakukan Pemeriksaan lebih lanjut, apalagi mereka kan punya APD lebih lengkap, disitu juga ada Almbulans," katanya.

" seharusnya petugas lebih proaktif dengan mencegah saya membawa penumpang apalagi kondisinya seperti itu, bisa saja kan mereka terlebih dulu yang bawa kepuskesmas untuk memastikan ada gak virus tersebut di tubuh mereka, setelah dipastikan gak ada baru kemudian mengizinkan saya untuk menjemput mereka, kalau seperti itu kan bisa memutus rantai penyebarannya, setidaknya jika harus dikarantina, penumpang yang dikarantina, gak perlu kemudian saya juga di karantina," sambungnya.

Tak sampai disitu, Ia juga menyayangkan para petugas medis di puskesmas tersebut yang meski sudah mengetahui hasil Rapid test yang dilakukan kepada kedua penumpang ini, namun masih memintanya untuk mengantar hingga ke tempat karantina.

" meski penumpang ini telah dinyatakan Reaktif dari hasil Rapid Test, saya kecewanya kenapa masih saya yang harus bawa mereka ke karantina, seolah-olah apa fungsi Petugas kalau begitu," ungkapnya lagi.

Belajar dari pengalaman tak menyenangkan tersebut, Ia berharap kedepan tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bangka Barat lebih proaktif dalam Penanganan Covid-19 khususnya di Muntok.

" kedepannya, jangan terjadi lah kejadian seperti ini, ini terkesan mereka tidak bertanggung jawab, tidak mau mengambil resiko padahal ini tugas mereka. karena jika mereka inisiatif saat itu, tak perlu lah saya di karantina tidak perlu juga ada tambahan pasien OTG di Babar, karena mereka ber APD lengkap jadi mereka bisa tangani," pungkasnya. (BBR)


Laporan : Diko Subadya

Sumber : Babelreview