Dorong Komitmen Pelayanan Darah, DPRD Basel Sampaikan 7 Poin ke Pemda

Irwan
Dorong Komitmen Pelayanan Darah, DPRD Basel Sampaikan 7 Poin ke Pemda
Samsir

TOBOALI, BABELREVIEW.CO.ID -- Setelah Bapemperda DPRD Basel melakukan studi banding di dalam maupun luar daerah tentang rencana membentuk Perda Pelayanan Darah, ada beberapa hal yang perlu dilakukan dan perlu menjadi komitmen kepala daerah dalam mengalokasikan anggaran dinas terkait.

Anggota DPRD Bangka Selatan Samsir mengatakan, Dinas Kesahatan Bangka Selatan dalam pengadaan Unit Tranfusi Darah Rumah Sakit (UTDRS) milik RSUD masih banyak yang manual, sehingga dalam memproses darah 1 kantong perlu waktu 2 jam.

"Adapun peralatan lain yang perlu diadakan, diantaranya Instalasi dan sapras UTD apakah nanti RSUD atau di PMI termasuk bank Darah, Lab pemisahan termasuk Lab pemisahan trombosit," jelas Samsir.

Tak hanya itu, kedua, SDM pelayanan darah untuk tiga regu jaga dengan satu regu berisikan tiga orang yang perlu dilatih.

"Ketiga, gedung PMI untuk operasional PMI, keempat Dinas Kesehatan perlu memfasilitasi pembentukan komunitas pendonor bangka selatan yang sekarang jumlahnya kurang lebih 400-an orang dengan membuat aplikasi dan dibentuk struktur organisasinya," katanya.

Menurutnya, sekarang aktivitas PMI jalan tapi tanpa struktur organisasi dan hanya diatur oleh satu orang untuk semua urusan.

"Kelima, Ketua PMI perlu segera melakukan restrukturisasi PMI untuk menentukan Pengurus mulai dari ketua, staf, hingga relawan agar kegiatan berjalan efesien dan efektif," ujarnya.

Keenam, lanjutnya perlu mengalokasi anggaran minimal Rp 2 miliar untuk pengadaan peralatan, dan ketujuh harus ada hibah setiap tahun untuk operasional, di mana sekarang untuk Basel paling kecil hanya Rp 300 juta, sedangkan Pangkalpinang Rp 500 juta dan Kabupaten Bangka Rp 1,2 miliar. Jika sudah ada UTD baru jumlah hibah harus disesuaikan

"Kenapa Bapemperda konsen ke Perda Pelayanan Darah, karena selama ini pemkab kurang komitmen kepada pelayanan darah. Ini terbukti pencairan dana hibah kecil, strukturisasi tidak terurus, padahal ini merupakan urusan wajib yang berhubungan langsung dalam meningkatkan indeks kesehatan untuk mencapai lama harapan hidup di basel masih rendah," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pada saat ini kebutuhan darah trennya terus meningkat di Babel tak terkecuali di Basel yang setiap butuh darah harus ke Pangkalpinang. Tidak jarang pasien operasi melahirkan tidak terselamatkan karena lambatnya distribusi darah dari Pangkalpinang.

"Padahal PMI Basel setiap tahun produksi darah kurang lebih 1000 an kantong dari kurang lebih 400-an pendonor tetap yang tersebar di setiap kabupaten tapi pengolahan dan penyimpanannya harus di PMI Pangkalpinang," katanya. (BBR)

Laporan: Andre

Editor: Irwan