Dukun Mewarisi Adat Istiadat dan Tradisi Lokal

Admin
Dukun Mewarisi Adat Istiadat dan Tradisi Lokal
ilustrasi foto : (net/IST)

Pangkalpinang ,BabelReview -- Sejarawan asal Bangka Belitung Ahmad Elvian kepada Babel Review mengungkapkan peran dukun dalam konteks sejarah dan budaya. Elvian menuturkan, sebelum terbentuknya kerajaan-kerajaan tradisional di nusantara masyarakat memilih pemimpin dengan konsep Primus Inter Pares, sebuah konsep musyawarah mufakat dalam masyarakat untuk memilih pemimpin.

Biasanya kriteria pemimpin yang dipilih masyarakat wajib memiliki kemampuan supranatural yang dak dimiliki oleh masyarakat kebanyakan. Dalam perkembangan berikutnya, orang yang memiliki kekuatan supranatural ini kemudian menjadi pemimpin informal oleh kelompok masyarakat, juga diakui keberadaannya sebagai pemimpin oleh wilayah lain dan posisinya sejajar dengan pemimpin pemerintahan, seper kepala kampung yang disebut Gegading dan kepala dusun yang disebut Lengan.

“Dalam perkembangan berikutnya, muncul lagi tokoh agama keka agama-agama besar masuk ke nusantara. Orang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut dengan dukun dan tokoh agama, menjadi pemimpin masyarakat.

Kalau di kampung tokoh agama bisa disebut dengan lebai, hab atau mudin. Kalau pada agama lain sesuai dengan derajat ilmu keagamaannya,” kata Elvian. Zaman terus berkembang, kehidupan masyarakat di nusantara khususnya di Bangka Belitung mulai terbentuk lembaga adat di seap kampung dan berdiri pula balai adat.

Lembaga adat itu secara garis besar terdiri dari dukun, ada yang disebut dukun kampung, dukun hutan, dukun sungai, tokoh agama dan tokoh pemerintahan, yakni gegading atau lengan. Dalam lembaga adat dukun memiliki peran yang sangat besar, terutama terkait dengan pelestarian lingkungan dan pantang larang atau norma adat di kampung itu.

Dukun juga memiliki tugas menjaga wilayah kampung yang terdiri dari kampung (pemukiman penduduk), hutan dan sungai. Wilayahnya pun berbeda dengan wilayah pemerintahan, wilayah dukun memiliki batas disebut riding yang membatasi antar wilayah kekuasaan dukun satu dengan yang lain.

Secara informal dukun sangat dipatuhi oleh masyarakat, karena sebagai tokoh yang dianggap dapat melestarikan alam dan pewaris adat isadat kampung. Elvian mencontohkan, pada tahun 1851, Residen Bangka pernah mengirim seorang Aspiran asal Belanda namanya I.H. Krokerit untuk meneli kandungan mah di Pulau Belitung.

Saat itu para Depa Belitung menugaskan para dukun kampung untuk mengiku kemana I.H. Krokerit pergi. Di daerah hutan yang dijaga seper hutan cadangan kampung, hutan konservasi air dan hutan tempat nggal mahluk halus oleh dukun kampung kadar mahnya dihilangkan, agar dak dilakukan penambangan. Sehingga kelestarian hutan tetap terjaga.

“Itu salah satu kearifan lokal yang dilakukan oleh para dukun, untuk melindungi pelestarian lingkungan dari pertambangan mah. Sehingga I.H. Krokerit melaporkan ke Residen Bangka kalau kandungan mah di Belitung itu sedikit. Sehingga dak perlu dikelola oleh pemerintah, cukup oleh swasta. Itu salah satu contoh bagaimana peran dukun kampung dalam sejarah,” jelasnya.

Menurut Elvian, peran dukun juga sangat besar dalam menjaga norma adat dan adat isadat, terutama budaya lokal yang terus mereka pertahankan. Dukun juga memiliki keahlian dalam mengoba penyakit dan mewarisi nilai-nilai pantang larang yang boleh dan dak boleh dilakukan masyarakat.

Beberapa pelaksanaan ritual dan upacara adat seper di sungai tradisi taber, taber kampung dan ceriak nerang negeri, merupakan warisan norma adat agar lingkungan, mata percaharian dan daur hidup bisa terus lestari. “Kalau Pak Gubernur menghimpun para dukun ini dalam konteks budaya dan sejarah, dukun itulah yang sebenarnya menjaga lingkungan dan melestarikan lingkungan, mewarisi adat isadat budaya jadi harus dipertahankan keberadaannya,” ujarnya. (BBR)


Penulis  : Irwan
Editor    : Sanjay
Sumber  :Babel Review