Enam Bulan Pandemi, Nasib Guru Honorer Masih Menanti Bantuan Covid-19

Kasmirudin
Enam Bulan Pandemi, Nasib Guru Honorer Masih Menanti Bantuan Covid-19
Eqi Fitri Marehan

PANDEMI Corona Virus Disease 19 (Covid-19) yang melanda saat ini memiliki dampak besar bagi seluruh dunia. Karena seriusnya permasalahan Covid-19, pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB), serta adanya kebijakan untuk di rumah saja, sesuai dengan protokol kesehatan yang ada, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Virus Corona.

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tersebut mengakibatkan banyaknya perubahan-perubahan terjadi yang sebelumnya justru tidak pernah terpikirkan oleh banyak orang. Salah satunya perubahan dalam dunia pendidikan. Wabah ini mengakibatkan perubahan total pada proses pembelajaran, dimana kegiatan belajar mengajar yang tadinya berjalan normal diadakan di sekolah, kampus, pesantren, dan lain-lainya, tiba-tiba saja berubah yang mengharuskan siswa untuk belajar dari rumah.

Proses pembelajaran dilakukan secara online (pembelajaran Daring), dimana guru dan para siswa melakukan kegiatan belajar mengajar menggunakan aplikasi yang diinstalkan ke HP (telepon seluler) atau laptop. Orang tua juga diminta untuk bekerja sama dengan cara mendampingi siswa dalam proses pembelajaran online tersebut. Akan tetapi, kebijakan belajar dari rumah dengan dampingan orang tuanya tersebut, ternyata tidak semudah apa yang kita bayangkan. Banyak kendala-kendala yang dirasakan disana, mulai dari fasilitas pendukung seperti jaringan internet, perangkat yang dimiliki siswa, serta kemampuan masing-masing orang tua siswa juga berbeda. (dilansir: https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/0KvXgxlb-20-provinsi-akui-kesulitan-belajar-daring)

Di sisi lain bagi para guru, untuk melakukan pembelajaran secara online juga tidak mudah, banyak kendala-kendala yang dialami. Seperti masih terdapat guru yang merasa asing dengan penggunaan teknologi, seperti tidak bisa menggunakan smartphone atau mengoperasikan komputer. Mau tidak mau meraka harus menguasai teknologi dengan cepat, tidak gaptek. Dengan begitu, di beberapa daerah dapat dikatakan masih sangat sulit untuk menerapkan pembelajaran secara online, terkait masalah perangkat, siswa dan guru itu sendiri.

Berbagai kendala tersebut menjadi sebuah tantangan, baik bagi para siswa, orang tua maupun para guru. Mereka harus lebih giat lagi belajar, harus lebih siap dan mampu menguasai teknologi, agar ke depannya tidak tergilas arus zaman. Karena siapa yang akan menyangka, dengan terjadinya wabah Covid-19 ini, tiba-tiba saja tidak diperbolehkan untuk bertatap muka dan berkumpul. Dengan demikian, lembaga-lembaga atau instansi-instansi yang ingin mengadakan rapat, harus dilakukan secara online dengan aplikasi yang sebelumnya tidak banyak orang yang paham.

Akan tetapi seburuk apapun, ternyata di balik wabah Covid-19, ada hikmah luar biasa yang didapat. Dampak Wabah Virus Corona (Covid-19) mengharuskan kita untuk tetap disiplin, terus belajar berbagai hal, mulai dari penguasaan teknologi, serta pemanfaatan teknologi dengan baik. Sesungguhnya di balik musibah, ada hikmah yang tersembunyi, jika kita mau merenunginya dengan bijak.

Perlunya Kepedulian dan Perhatian Khusus Bagi Guru Honorer dan Tenaga Pendidikan

Dampak lain dari pandemi Covid-19 adalah sulitnya akses ekonomi bagi sebagian warga masyarakat, terutama bagi saudara-saudara kita, yang berprofesi sebagai pekerja harian, pengemudi ojek online misalnya. Selain itu imbas dari wabah ini banyak karyawan perusahaan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), dan jangan lupakan juga bagi saudara-saudara kita yang selama ini mengabdi sebagai guru honorer dan tenaga kontrak yang ada di lingkungan Dinas Pendidikan kabupatemn/kota, seperti penjaga sekolah, dll. Jasa dan pengabdian mereka sungguh sangat luar biasa mencerdaskan anak-anak bangsa, namun nasib mereka sering terlupakan.

Beban kehidupan para guru honorer dan tenaga kontrak di tengah wabah Virus Corona (Covid-19) ini, sungguh sangat terasa berat, dalam menapaki kehidupan kesehariannya.

Para guru honorer juga harus memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi kehidupan keluarganya. Dengan penghasilan yang minim ya kisaran 900 ribu hingga 1 juta, bahkan nyaris tidak mendapatkan honor, karena harus di rumah saja, para guru honorer dituntut untuk tetap memberikan pembelajaran secara online kepada para siswanya, dituntut untuk terus meningkatkan kemampuannya dalam menyerap perkembangan teknologi, termasuk penguasaan perangkatnya sebagai sarana melakukan pembelajaran secara online.

Dalam kondisi seperti ini, sungguh sangat miris, nasib para guru honorer ini. Di sinilah perlunya kepedulian dari semua pihak untuk memberikan perhatian secara serius terutama bagi para guru honorer dan tenaga kontrak ini. Jasa dan pengabdian para guru honorer dan tenaga kontrak sungguh luar biasa, dengan segala keterbatasanya, mereka tetap mengabdikan dirinya untuk mencerdasan anak-anak bangsa.

Pemerintah Kabupaten Bangka, harus benar-benar memperhatikan dan memiliki data yang valid dan akurat terkait keberadaan guru honorer dan tenaga kontrak ini, jangan sampai terdengar ada guru honorer dan tenaga kontrak yang terlewatkan, luput dari perhatian kita semua.

Di sisi lain peran penting dari kita semua, seluruh elemen masyarakat yang ada di Kabupaten Bangka untuk ikut berpartisipasi dan berperan aktif dalam menaruh kepedulian kepada para guru honorer dan tenaga kontrak, baik secara individu maupun kelembagaan.

Kita melihat, selama wabah Covid-19 ini gaji guru honorer cenderung terabaikan, terutama guru honor komite yang notabene mendapatkan gaji dari SPP siswa, dana BOS dan lainnya. Belum lagi beban kerja, guru honorer dan kontrak sepertinya memiliki beban kerja ekstra yang lebih berat dari yang lainnya. Guru honorer dan kontrak hanya berbeda status namun mereka juga pahlawan memajukan pendidikan bangsa kita.

Hak dan kewajiban perangkat pendidikan baik sebelum dan saat wabah Covid-19 ini mestinya sama, pemerintah wajib memperhatikannya, jangan ada pihak yang merasa dianaktirikan dan jangan pula seperti ada yang dianakemaskan, jangan budayakan prinsip belah bambu dalam mengambil kebijakan, baik guru honorer, kontrak dan PNS mereka semua adalah aset kita, pahlawan tanpa tanda jasa dan barometer kemajuan generasi muda kita. Bahkan sangat layak guru honorer dan kontrak kita prioritaskan untuk menerima BLT dan bantuan semacam lainnya. (dilansir : https://www.koranmadura.com/2020/04/nasib-guru-honorer-di-tengah-pandemi-covid-19-layak-dapat-blt/)

Sebuah contoh baik di tengah pandemi Covid-19, telah dilakukan oleh Anggota DPR RI Dapil asal Sumatera Barat, Ir. H.Mulyadi yang mengikhlaskan gajinya sebagai anggota dewan selama dua tahun untuk membantu pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis di Sumatera Barat, sebagaimana dilansir dari Mimbar Sumbar.id.

Kembali kepada persoalan guru honorer dan tenaga kontrak, contoh baik dari Ir. H. Mulyadi tersebut, harus menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama yang saat ini berada di lingkaran pemerintah, mulai dari pejabat beserta jajaranya di lingkungan Kabupaten Pasaman. (dilansir : https://www.topsatu.com/mulyadi-donasikan-dua-tahun-gajinya-perangi-corona-di-sumbar/)

Persoalannya adalah, sekali lagi perlunya data yang akurat dan valid dari pihak pemerintah. Pemetaannya bisa dimulai dari tingkat kecamatan, sehingga nantinya tidak ada lagi guru honorer dan tenaga kontrak yang terlewatkan, semua harus mendapat perhatian dan tercukupi kebutuhanya di tengah Pandemi Covid-19.

Sebagai salah satu kabupaten yang berada di provinsi Bangka Belitung, Kabupaten Bangka tentunya membutuhkan tenaga pendidik yang memadai, perbandingan jumlah sekolah dan siswa yang ada harusnya bisa disesuaikan dengan jumlah tenaga pendidik yang sesuai dan ideal. Selain diperlukan jumlah secara kuantitas, hal yang juga tidak kalah pentingnya adalah meningkatkan kualitas bagi tenaga pendidik itu sendiri, termasuk meningkatkan keberadaan tenaga guru honorer dan tenaga kontrak ini, baik dari sisi status mereka, maupun dari sisi kesejahteraanya.

Kita tentu tidak menutup mata, bahwa para guru honorer dan tenaga kontrak, di tengah pandemi Virus Corona, perannya sama dengan para tenaga medis yang mengabdi di bidang kesehatan, sedangkan para guru honorer dan tenaga kontrak, bidang pengabdianya ini dalam dunia pendidikan, jadi sudah sepantasnya, jangan pernah lupakan mereka.

Pendidikan Bagi Masa Depan

Sudah pasti kita memahami betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa kita. Kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh pendidikannya. Pengelolaan Sumber Daya Manusia yang baik tidak terlepas dari sistem pendidikan yang terstruktur, terarah dan berorientasi masa depan pula.

Wabah covid-19 tidak boleh menjadi alasan bagi tertinggalnya pendidikan kita, masih banyak kita menyaksikan siswa/i mulai dari SD sampai SMA yang menjadikan program Physical Distancing ini sebagai waktu liburan. Coba saja kita lihat jalan raya ketika sore hari, banyak anak usia sekolah yang berkumpul dengan rekannya, mejeng dan hilir mudik dengan motor mereka, sepertinya anak-anak sekolah itu tidak menghiraukan imbauan PSBB dari pemerintah.

Berbanding terbalik pula dengan mahasiswa atau siswa yang rajin, mereka akan susah payah mencari jaringan intenet, berupaya membeli paket data yang masih tergolong mahal, meminjam HP orangtuanya hanya untuk mendapatkan akses internet, miris memang.

Seperti itulah kenyataan yang hari-hari ini kita rasakan, pendidikan yang sebelumnya juga harus mendapat perhatian khusus semakin diperparah dengan adanya wabah covid-19 ini. Yang malas belajar makin malas, yang rajin tidak mendapat fasilitas maksimal.

Seharusnya pemerintah melalui dinas pendidikan mulai menggerakkan perangkat pendidikannya hadir dan menyelesaikan ini, fasilitasi guru-guru kita untuk membeli paket data, agar mereka semangat mengajar dari rumah, imbau siswa/i kita agar mematuhi protokol kesahatan, jaga kebersihan sekolah kita, kapan perlu beri sanksi mendidik bagi siswa/i yang tidak mengindahkan himbauan PSBB dari pemerintah.

Padahal di balik itu semua kita sangat sadar bahwa pendidikan adalah elemen maha penting dalam membentuk generasi muda kita, misalnya kita di Pasaman, pengelolaan sumber daya alam yang kita miliki tentu harus di tangan generasi penerus yang akademis, prestatif dan berdaya saing, jangan sampai ada generasi yang hilang hanya karena corona. (BBR)


Penulis : Eqi Fitri Marehan (Mahasiswa Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat, Bangka)