Gara-Gara Corona Tak Jelas Kapan Berakhir, Usaha Kuliner Babel Nyaris Ke Titik NOL

Ahada
Gara-Gara Corona Tak Jelas Kapan Berakhir, Usaha Kuliner Babel Nyaris Ke Titik NOL
Neneng Triani, Owner Mia Pizzeria. (Firly/babelreview.co.id)

"Setelah pandemi berakhir ini banyak sekali pelaku usaha yang kembali ke garis start. Inilah kesempatan untuk maju. Kita sudah berapa lama dengan kondisi seperti ini, pasti kangen dengan restoran, kangen dengan nongkrong, pergi belanja. Setelah ini selesai ini pasti booming, tugas kita bagaimana menangkap booming ini"

Raden Indra Sandy

Ketua HIPMI Babel

 

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID – Pandemi Covid-19 memiliki dampak besar pada keberlangsungan bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) khususnya usaha kuliner. 

Pelaku UMKM mengaku sudah mengalami dampak negatif Covid-19 terhadap proses bisnisnya karena mengalami dampak penurunan penjualan yang signifikan.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bangka Belitung Raden Indra Sandy mengungkapkan, pelaku usaha kuliner di Bangka Belitung mengeluhkan penurunan omset hingga 70-75 persen. 

Penurunan tersebut akibat mewabahnya covid-19 yang mengharuskan semua orang untuk menjaga jarak (social distancing) dan pembatasan waktu. 

Untuk menyiasati agar usaha tetap berjalan dan menggapai konsumen, pelaku usaha sudah mencoba e-commerce dengan memanfaatkan media sosial.

Dengan begitu cukup mambantu memperluas pemasaran walaupun belum signifikan. 

“Sebelumnya 70-75 persen omset yang menurun bahkan hampir tidak ada penghasilan, tetapi sekarang dengan memanfaatkan online mereka ada peningkatan walaupun belum signifikan. Yang tadinya menurutn hingga 70 persen jadi 60 persen dengan memanfaatkan online,” ungkap Sandy.

Untuk bisa tetap bertahan, pelaku usaha kuliner harus menjaga kepercayaan pelanggan dengan menjaga kebersihan dan membuat yakin dengan kemasan.

Hal itu dikarenakan pelanggan saat ini sangat memperhatikan Kebersihan dan Kesehatan. Namun demikian di sisi lain pelaku usaha mau tidak mau harus melakukan efisiensi.

“Karena zaman ini kan penghasilan menurun jadi harus betul-betul pintar mengatur keuangan, apalagi usaha kuliner yang memiliki karyawan harus dipikirkan gajinya,” katanya. 

Dikatakan Sandy, HIPMI sudah memberikan protokol bagaimana melakukan usaha di tengah pandemic kepada pelaku usaha agar tetap berjalan walaupun protokol tersebut tidak bisa membuat usaha tersebut kembali normal.

Protokol tersebut dibuat untuk membantu pemerintah dalam pengatasi penyebaran covid-19 namun tetap bisa melakukan kegiatan usaha.

“Contohnya yang tadinya rumah makan muat untuk 50 orang namun dengan social distancing harus berjarak 1,5 hingga 2 meter itu mengurangi space, jadi daya tampung juga menurun hingga 50 persen. Kembali lagi, selagi pandemi ini masih ada posisi kita bertahan, minimal usaha kita tetap berlanjut, masih ada untuk bertahan hidup dan masih sanggup menampung tenaga kerja yang ada,” ujarnya.

Selain itu, HIPMI juga sedang mengajukan protokol untuk usaha makanan, yakni bagaimana makanan diproses dan disajikan secara higienis dan bagaimana melakukan jaga jarak antar pelanggan.

Sandy mengatakan saat ini usaha yang sedang memiliki pangsa pasar yang besar adalah usaha alat-alat Kesehatan, suplemen kesehatan, makanan dan miniman kesehatan, herbal dan buah-buahan.

Hal itu dikarenakan setiap orang ingin meningkatkan kesehatan dan kekebalan tubuh dari serangan penyakit.

Beberapa pelaku usaha pun untuk sementara sudah beralih melirik pasar ini, seperti menjahit masker kain, menjual masker dan menjadi reseller herbal.

“Di Babel kita punya madu yang baik, jahe merah yang baik dan herbal-herbal lain sekarang menjadi sesuatu orang yang merasa perlu mengkonsumsi itu untuk menjaga stamina tubuh, sekarang market ini yang terbuka menjadi peluang UMKM,” katanya.

Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus mambantu perekonomian lokal dengan menjadi konsumen produk-produk UMKM.

Begitu pun dengan BUMN di daerah perlu mengutamakan konsumsi produk lokal agar perekonomian di daerah tetap berputar.

“Sekarang yang punya uang pemerintah dan BUMN, walaupun ada BUMN yang merugi tapi mereka lebih kuat dari sektor-sektor masyarakat. Konsumsi mereka bisa dialihkan ke UMKM, bisa ke restoran, kedai-kedai makanan. Beli masker juga tidak perlu yang merk 3M tapi belilah masker kain masyarakat, kan ada imbauan dari Kemenkes pakai masker kain sudah cukup,” ujarnya.

Sandy belum lama melakukan diskusi mengenai UMKM dengan Gubernur, PLUT, 1001 Enterpreneur dan pelaku UMKM.

Dalam diskusi tersebut Sandy sependapat agar sama-sama membantu perekonomian Bangka Belitung dengan membeli produk lokal. 

Pemerintah diharapkan terus mengimbau masyarakat agar membeli produk UMKM dan juga mengedukasi pelaku usaha agar lebih menjaga kebersihan dan membuat kemasan lebih menarik.

“Nanti akan timbul kebiasaan baru dan pola hidup baru, saat ini kita sedang belajar membentuk hidup dengan pola baru, istilahnya new normal. Contohnya sekarang UMKM di desa sudah bisa pakai zoom dan bisa memanfaatkan e-commerce jadi ada kemajuan digital yang tadinya mungkin kalau tidak dipaksa tidak akan bisa,” jelasnya.

Dikatakan Sandy, pada dasarnya UMKM harus jadi sektor yang paling bertahan, seperti yang berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia yaitu kuliner tidak akan mati. Hanya saja saat ini untuk berkembang akan sulit.

“Kalau kapan (pandemi) berakhir saya berharap minggu depan sudah selesai. Cuma saya juga tidak bisa prediksi kapan, karena sebenarnya saya beranggapan semua ini akan berakhir kalau sudah dapat obatnya atau vaksinnya, ini urusan tuhan, kalau dikasih saja ilmuan rahasianya ini akan berakhir,” katanya.

Mengenai seberapa lama UMKM bisa bertahan, Sandy mengatakan, bukan seberapa lama bertahan, tapi pelaku UMKM harus bertahan karena manusia harus makan dan hidup.

Saat ini membangun usaha lebih walaupun berat namun tetap berpeluang dibanding dengan harus mencari lapangan kerja.

“Bantuan pemerintah sejauh ini bentuknya seperti pemerintah membeli produk-produk UMKM, ada beberapa dinas baik di provinsi dan pemerintah kota, kalau di kabupaten saya rasa juga, mereka keliling dari resto ini ke resto ini digilir bagaimana berbagi rezeki. Dari anggaran makan dibagi sebagaimana rupa,” ujarnya.

“Pemerintah juga sekarang dalam proses pendataan kartu pra kerja yang mana proses pendataan ini bukan hanya untuk kartu pra kerja  tetapi juga nanti juga untuk menyalurkan bantuan berikutnya dari pemerintah pusat,” lanjut Sandy.

Kalau kemarin pemerintah fokus hanya pada bagaimana penanganan, sekarang ini pemerintah sudah mulai menyusun langkah-langkah pemulihan ekonomi dimulai dengan melakukan survey dan mendataan dengan anggaran yang tersedia.

“Kita berharap desain APBN dan APBNP 2021 ini mengarah pada bagaimana stimulus-stilulus dilakukan dengan baik dan tepat sasaran dan fokusnya economic recovery untuk masyarakat luas, harapan kami dari hipmi itu. Kalau pakai baju bagus tetapi perutnya kelaparan juga tidak ada gunanya jadi bagaimana bajunya tidak perlu bagus dulu yang terpenting perutnya kenyang dulu. Tapi itu masih dalam proses pendataan, kita juga harus bersabar karena semuanya juga ada aturannya,” jelasnya.

Sandy berkeyakinan sesuatu yang sudah menyentuh dasar (bottom) itu harus naik sampai atas.

Virus corona adalah momen ekonomi terpuruk habis-habisan terutama pada sektor rill seperti UMKM, bahkan semua sektor terkena dampaknya.

Ini adalah momen pelaku usaha untuk berkreasi, yang tadinya tidak memakai e-commerce maka sekarang menggunakan. Yang tadinya tidak pakai e-conference maka sekarang pakai. Maka saat ini pola pikir pelaku usaha harus lebih maju.

“Setelah pandemi berakhir ini banyak sekali pelaku usaha yang kembali ke garis start. Inilah kesempatan untuk maju. Kita sudah berapa lama dengan kondisi seperti ini, pasti kangen dengan restoran, kangen dengan nongkrong, pergi belanja. Setelah ini selesai ini pasti booming, tugas kita bagaimana menangkap booming ini, bagaimana mereka tidak hanya menjadi pembeli lalu pergi tetapi juga jadi pelanggan yang akan Kembali lagi,” ujarnya. (BBR)

Laporan: Irwan AR