Gara-gara Jatuh Hati Dengan Dambus, Dato Kurnia Bisa Keliling Nusantara

Bangahada
Gara-gara Jatuh Hati Dengan Dambus, Dato Kurnia Bisa Keliling Nusantara
Dato' Kurnia Bakti (47) bergabung dengan Grup Dambus Mekar Serumpun sejak tahun 2010. (ist)
Dato' Kurnia Bakti (47) bergabung dengan Grup Dambus Mekar Serumpun sejak tahun 2010. (ist)
Dato' Kurnia Bakti (47) bergabung dengan Grup Dambus Mekar Serumpun sejak tahun 2010. (ist)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Dato' Kurnia Bakti (47) adalah salah satu pemain dambus yang dimiliki Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Di Lembaga Adat Melayu (LAM) Bangka Belitung, Dato' Kurnia Bakti merupakan salah seorang anggota.

Bagi Dato Kurnia, musik Dambus bukan barang baru. Setidaknya sudah 15 tahun ini Dirinya bergelut dengan musik yang khas dengan dentingan senar tersebut.

Diakui Dato Kurnia, ketertarikannya menekuni seni Dambus ini telah dimulai sejak tahun 2006 lalu.

"Saat itu kami sering lihat orang tua yang berada di Kampung Dul berkumpul dan bermain dambus di rumah orangtua kami sambil bercanda. Mereka berpantun dan bernyanyi," ungkap Dato Kurnia, saat disambangi dikediamannya di Kampung Dul Kelurahan Dul kecamatan Pangkalanbaru Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (7/6/2021).

Karena selalu melihat orang tuanya berlatih Dambus, maka lambat laun Dato Kurnia mulai jatuh hati dengan musik tradisional Melayu ini.

Bahkan tidak sekadar jatuh cinta, namun lebih jauh Dato Kurnia berusaha belajar dan menekuni musik Dambus ini.

"Karena selalu sering melihat orang tua latihan, dan akhirnya saya suka dengan musik Dambus ini," ujar Dato Kurnia.

Beruntung Dato Kurnia dapat belajar Dambus dengan para pelaku seni yang ada di Kampung Dul kala itu.

Sejak tahun 2010, Dato Kurnia Bhakti akhirnya bergabung dengan Grup Dambus Mekar Serumpun.

Sejak itulah Ia mulai fokus menekuni dunia seni tradisional ini.

Karena keseriusannya tersebut, Grup Dambus Mekar Serumpun sering tampil di acara-acara hajatan, hiburan rakyat, dan acara budaya maupun festival.

"Untuk mengisi acara dengan musik dambus Alhamdulillah sudah tidak terhitung lagi. Kami sering diundang, baik acara budaya, dinas, hajatan maupun hiburan rakyat. Bahkan kami juga ikut pestival lebih kurang di atas 30 kali," ujarnya.

Demikian juga bila ada acara dinas resmi seperti acara HUT Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, setiap tahun Grup Dambus Mekar Serumpun selalu jadi langganan untuk mengisi acara di Gedung DPRD Provinsi Babel.

Mereka juga langganan ikut menyambut tamu di bandara dan hotel di wilayah Bangka Belitung.

Sejak bergabung di Grup Dambus Mekar Serumpun, telah membawa Dato Kurnia menjelajahi beberapa daerah di luar Pulau Bangka.

"Sudah sering juga bermain Dambus ke luar Bangka. Kami pernah ke Bandung, Universitas Seni Indonesia Jogja, Ternate, Selat Nasik Belitung, Taman Mini Indonesia Indah. Dan setiap tampil sangat berkesan, misalnya mengisi acara pesta rakyat Maras Taun di Selat Nasik. Kita juga pernah bedambus selama 2 hari 2 malam, bermain dambus untuk memecah rekor muri Bedambus 24 jam non stop di Desa Perlang tahun 2010 lalu," ungkap Dato Kurnia bangga.

Terkait alat musik Dambus ini, Sejarahwan dan Kebudayawan Bangka Belitung, Penerima Anugerah Budaya, Dato Akhmad Elvian menuturkan bahwa Franz Epp dalam bukunya mengatakan; "man auch Saiteninstrumente in solchen wohnungen,... (tidak jarang orang melihat juga alat musik petik senar di rumah tersebut....”).

"Pada penjelasan tentang alat musik, Epp tidak menyebut secara terinci apa nama alat musik yang selalu ada di tiap rumah orang Darat, tetapi hanya menyebutnya dengan alat musik petik senar. Kemungkinan besar penamaan alat musik petik senar tersebut dengan penamaan Dambus," jelas Dato Elvian.

Dilanjutkannya bahwa setelah orang Darat pribumi Bangka banyak yang memeluk agama Islam (disebut orang Selam dan pengikut Muhammad).

"Dinamakannya alat musik petik senar tersebut kemudian oleh masyarakat Bangka dengan sebutan Dambus terutama setelah mendapat pengaruh penamaan alat musik irama padang pasir yang disebut Gambus. Dambus adalah salah satu bentuk kesenian yang unik dari masyarakat pribumi Bangka", imbuhnya. (BBR)
Laporan: mangkulul