“Generasi Alfa”/"Generasi Gadget (Mulet)"

Kasmirudin
“Generasi Alfa”/
ilustrasi. (ist)

“Salah didikan! bisa-bisa menjadi "Generasi Mulet" yang terlahir dari manusia, diasuh oleh sosial media dan tua sebelum waktunya", bisa bikin berbahaya”

 

PERKEMBANGAN zaman tidak terlepas dari perkembangan teknologi yang semakin pesat dan meningkat setiap harinya. Kita sebagai manusia tidak bisa menolak untuk mengikuti itu semua. Karena, jika kita tidak mengikuti perkembangan zaman kita bakal ketinggalan dan bisa disebut gaptek (gagap teknologi). Namun terlepas dari itu semua, sebagai penikmat teknologi kita harus dituntut untuk bisa mengontrol diri, karena sering kita temui banyak kasus sekarang ini yang melawan konsekuensi, yang semestinya teknologi bisa membuat kita pintar akan tetapi yang ada kita dibodohi oleh teknologi. Hal inilah yang menuntut kita untuk pandai dan pintar mengontrol diri.

Kita dewasa mungkin bisa dan mampu mengontrol serta mengatur pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan, namun bagaimana dengan seorang anak yang sekarang lahir kedunia sudah dikenalkan dengan teknologi, ini yang dinamakan anak atau kita kenal dengan generasi ALFA.

Generasi Alfa adalah generasi yang terlahir dari tahun 2010-2024. Sejak lahir mereka (generasi Alfa) sudah mengenali teknologi, yang paling umumnya adalah Gadget yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka sepenuhnya. Mereka tidak bisa tumbuh dan berkembang tanpa adanya gadget. Perubahan teknologi yang masif ini membuat anak di generasi ini sebagai generasi yang informatif dan komunikatif yang segalanya harus mereka lakukan dan terima secara instan.

Kemajuan teknologi yang pesat ini kedepannya sangat mempengaruhi mereka, mulai dari gaya belajar, materi yang dipelajari di sekolah, sampai prilaku mereka dikehidupan sehari-hari. Ruang dan waktu tidak lagi jadi batasan, jarak semakin tidak berarti, pergaulan tidak lagi ditentukan dari faktor lokasi. Sangat tidak heran apabila kita lihat dari semua yang mereka lakukan dan dapatkan membuat mereka menjadi generasi yang lebih cerdas dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya.

Di sekeliling kita banyak kita lihat dan kita temui anak-anak yang merupakan generasi alfa yang salah dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi, bahkan itu termasuk dari keluarga kita, sepupu, keponakan, dan bahkan adik kita sendiri. Gadget sudah menjadi teman mereka setiap harinya, dari mulai bermain game online sampai menonton sosial media di Facebook, Instagram, WhatsApp, dan YouTube. apalagi di masa pandemi covid 19 ini pembelajaran disekolah secara tatap muka ditiadakan, mayoritas pembelajaran dilakukan secara daring (online) dirumah, hal ini membuat waktu dan aktifitas anak-anak untuk bermain game dan sosial media semakin banyak, keefektifan pembelajaran via daring (online) dirumah memang sangat mengkhawatirkan dan mempengaruhi minat belajar anak, sudah pastinya didikan di sekolah dengan di rumah berbeda, di rumah anak-anak lebih bebas untuk melakukan sesuatu, sedangkan di sekolah biasanya anak-anak lebih diperhatikan aktifitas belajarnya, belum lagi kurangnya perhatian dari orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya, sehingga membuat aktifitas anak-anak kurang diawasi di rumah.

Sebagai generasi Alfa anak-anak sangat mudah mengakses dan menangkap informasi-informasi budaya luar di media sosial yang bisa-bisa mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, tentunya ini menjadi Kekhawatiran yang besar untuk kita takuti. Anak-anak tidak lagi mengetahui serta mengenal sejarah dan budaya lokal yang seharusnya menjadikan mereka sebagai investasi bangsa yang tertanam dalam jiwa mereka nilai idealis, nasionalis, patriot dan generasi penerus perjuangan bangsa dan negara. Oleh sebab itu, perlu cara dan strategi khusus dalam mendidik dan mengontrol anak-anak generasi Alfa ini agar mereka tidak terjebak dalam pengaruh teknologi.

Berikut strategi atau cara mendidik anak-anak generasi Alfa :

  1. Bekerja sama dengan guru di sekolah, agar dapat mengetahui perkembangannya
  2. Batasi waktu dan aktifitas anak-anak bermain gadget dan media sosial
  3. Tingkatkan komunikasi dengan sering mengajaknya berbicara dan bercerita
  4. Luangkan waktu lebih kepada anak, agar mereka tidak bebas dan selalu diawasi
  5. Pahami kebutuhan anak sesuai dengan usianya

Dengan demikian tugas dan peran orangtua di rumah sebagai pendidik, pembimbing, pengarah, dan pengontrol yang memberi keteladanan bagi anak-anaknya harus benar-benar ekstra, agar anak tidak terjerumus pada hal-hal negatif yang berdampak buruk pada kecerdasan dan perilaku mereka yang memungkinkan mereka dewasa dan tua sebelum waktunya. Begitu juga seorang guru di sekolah sebagai orang tua kedua yang mendidik, membina dan mengajarkan segala hal untuk pengetahuan anak-anak harus bisa membuat terobosan baru dalam proses pembelajaran di sekolah mengikuti perkembangan teknologi yang efektif agar anak-anak generasi Alfa ini tidak salah menggunakan dan memanfaatkan teknologi yang dapat mengakibatkan mereka menjadi budak teknologi yang diasuh dan dibesarkan oleh sosial media yang sering kita sebut "Generasi Mulet". (BBR)


Penulis : Aditya Abrifa (CJ)

Editor   : Kasmir