Generasi Ketiga dan Anak Muda Yang Menjadi Nakhoda UBB

Ahada
Generasi Ketiga dan Anak Muda Yang Menjadi Nakhoda UBB
Prof Bustami Racman, mantan Rektor UBB. (IST)

Generasi Ketiga dan Anak Muda

Yang Menjadi Nakhoda

(Bustami Rahman 'Membaca' Rektor Baru UUB)

 

"Ibrahim bagaikan bulan sabit muda yang subuh ini saya lihat bersinar terang di ufuk timur. Mungkin nanti ada awan juga yang akan menutupi sinarnya sepanjang bulan itu menjadi purnama."

 

PAGI ini seperti biasanya selepas subuh, saya menuju ke balai kecil di samping rumah meneruskan kebiasaan rutin saya mengaji di situ.

Sebelum datangnya corona ini  saya juga menerima para mahasiswa untuk konsultasi berbagai hal di balai mungil ini sejak usai subuh sampai pukul 07.30 WIB.

Setelah itu saya ke kampus untuk menunaikan tugas yang diamanatkan negara sebagai dosen. 

Balai ini saya namakan Balai Peradaban Abdul Rahman Ilyas. Beliau (Allahyarham) adalah ayah saya (1905-1968), seorang guru di Belinyu dan wafat di Pangkalpinang. Semoga Allah mengasihinya. Aamiin YRA.

Pagi ini cuaca tampak bagus. Saya mendongak di luar balai, bulan sabit muda tampak bersinar terang.

Di sekitarnya ada tiga bintang yang salah satunya bintang timur juga bersinar cerah.

Saya pikir pagi ini matahari juga akan bersinar cerah dan saya harapkan demikianlah hendaknya.

Mengapa saya agak peduli dengan sinar matahari? Tentu saja betapa pentingnya sinar matahari beberapa bulan terakhir ini.

Penyebaran virus corona ini konon dapat dihambat oleh panasnya cuaca matahari.

Selain itu cuaca hari ini semoga cerah, karena saya menerima undangan terbatas sebagai rektor pertama UBB untuk menghadiri pelantikan rektor baru melalui vicon oleh Mendikbud RI di Rektorat UBB pagi ini.

Sebagai rektor pertama yang mengawali proses perjalanan universitas pertama di Bangka Belitung ini, saya bersyukur dan sekaligus terharu bahwa generasi baru mampu muncul sebagai rektor yg ketiga.

Ibrahim yang usianya baru mencapai 38 tahun adalah rektor universitas negeri  termuda di Indonesia.

Ibrahim kelahiran Sungaiselan Bangka Tengah dan merupakan generasi muda awal di UBB. 

Ibrahim diharapkan sebagai kader awal terbaik yang telah mengalami sejarah panjang UBB dan telah berguru kepada para seniornya, dosen-dosen awal para pejuang UBB.

Dosen-dosen dan tendik awal itu pun banyak berharap kepada rektor baru tetap bergandeng tangan bersama membangun UBB sebagai kampus peradaban Indonesia dan dunia.

Ibrahim bagaikan bulan sabit muda yang subuh ini saya lihat bersinar terang di ufuk timur.

Mungkin nanti ada awan juga yang akan menutupi sinarnya sepanjang bulan itu menjadi purnama.

Namun, sejatinya bulan itu tetap akan purnama karena dia tahu bahwa dia pun adalah bintang yang di sekelilingnya ada banyak bintang bersama dengannya.

Ibrahim sadar betul bahwa dia masih muda dan harus banyak belajar.

Dengan rendah hati selalu dia katakan ingin belajar banyak dengan para senior.

Saya katakan belajar dengan siapa saja. Belajar dengan pengalaman, belajar dengan lingkungan, belajar dengan kepahitan.

No pain no gain kata pepatah Barat. Berakit- rakit ke hulu berenang- renang ke tepian kata pepatah Melayu.

Selamat memimpin UBB. Selamat menjadi nakhoda baru. Semoga Allah meridhoi dan melindungi, dan semoga universitas ini sudah bisa mulai berlari mencapai visinya dengan sepenuh hati.

*)Habis Subuh di Balai Peradaban Abdul Rahman Ilyas, 16 April 2020