Geopark Bangka Berkarakter Unik

Admin
Geopark Bangka Berkarakter Unik
foto: Irwan

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW – Geopark merupakan kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi di mana  masyarakat setempat diajak berperan serta untuk melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam, termasuk  nilai arkeologi,  ekologi dan budaya yang ada di dalamnya.

stilah geopark merupakan I singkatan dari geological park yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai taman geologi atau taman bumi. Indonesia memiliki Geopark yang tersebar di berbagai provinsi dan dikembangkan menjadi kawasan geopark nasional.

Bahkan beberapa diantaranya sudah diakui oleh UNESCO sebagai geopark dunia, seperti Ciletuh di Jawa Barat, Merangin di Jambi, Kaldera Danau Toba di Sumatera Utara, Rinjani di Nusa Tenggara Barat dan Batur di Bali.

Negeri Serumpun Sebalai sudah memiliki geopark di Pulau Belitung yang tersebar diberbagai daerah dan sudah ditetapkan sebagai geopark nasional pada 2017 lalu. Tak mau kalah dengan Pulau Belitung, Pulau Bangka saat ini terus dikaji oleh para ahli karena menyimpan potensi yang bisa dikembangkan menjadi geowisata dan kedepan menjadi geopark.

Kepala Seksi Daya Tarik Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Belitung Yuliarsyah berbincang dengan penulis mengenai proses kajian geopark Bangka bekerjasama dengan Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P2Par) Institute Teknologi Bandung (ITB).

“Jadi ini disusun konsepnya swakelola oleh perguruan tinggi karena sudah ada MoU antara gubernur dengan rektor ITB, jadi kita kerjasama dengan P2Par ITB mereka ditunjuk sebagai pelaksana penyusunan kajian geopark Bangka,” jelas pria yang akrab disapa Caca tersebut. Dalam kajian awal, dilakukan pengumpulan berbagai data dari dokumen daya tarik wisata yang memiliki tema unik di Bangka yang berpotensi dikembangkan menjadi geowisata.

Namun tidak menutup kemungkinan ada potensi baru yang kuat secara geologi yang bisa dikembangkan sebagai geowisata dan selanjutnya menjadi geopark. “Memang ada juga potensi baru, ternyata di pemerintah kabupaten ternyata banyak yang sudah terdata sebagai potensi geowisata walaupun di tingkat provinsi belum masuk,” katanya.  

Dalam melakukan kajian, Tim P2Par ITB yang berjumlah tujuh orang tenaga ahli yang dipimpin oleh Yani Adriani seorang ahli perencanaan pariwisata yang pernah mengkaji geopark Ciletuh di Sukabumi, Jawa Barat. Masingmasing tenaga ahli tersebut nantinya akan membuat analisa yang selanjutnya akan digabung menjadi sebuah konsep pengambangan geowisata dan geopark.

Dikatakan Yuliarsyah, sebenarnya kajian awal untuk menjadikan pengembangan arah geowisata dan geopark di Pulau Bangka itu sudah pernah dilakukan pada 2009. Saat itu dilakukan kajian lahan bekas pertambangan timah untuk pemanfaatan pariwisata.

Dari hasil kajian tersebut dibuatlah geotrack atau jalur-jalur geowisata mulai dari Bangka Barat, Belinyu dan seluruh Pulau Bangka namun saat itu arahnya hanya untuk pengembangan geowisata,” ujarnya.

Berbeda dengan di Belitung proses kajiannya baru dilakukan pada 2012, namun kajian pengembangan destinasi unggulan dan tematik tersebut pengembangannya sudah diarahkan untuk geowisata jangka pendek dan geopark jangka panjangnya.

Dalam prosesnya geopark Belitung termasuk sangat cepat karena pada 2017 sudah ditetapkan sebagai geopark nasional. Dalam kajian yang dilakukan tim P2Par ITB, sejumlah daerah yang memiliki potensi geowisata dan geopark disurvey dan disusun dalam laporan awal kajian geopark.

Tim menemukan potensi unik yang bisa dikembangkan menjadi geowisata. Keunikan geologinya pun tidak sama dengan yang ada di Belitung. Di Pulau Bangka dari segi geologi terutama bebatuan terdapat batu diabase dan stuktur batuan metamorf yang terletak di bukit dekat pantai daerah Penyabung, Bangka Barat.

Dalam geologi, Batuan diabase adalah batuan beku basa yang kaya kandungan Fe dan berwarna gelap terbentuk akibat tumbukan antara lempeng benua dengan lempeng samudera. Tumbukan tersebut menyebabkan terjadinya partial melting batuan menjadi magma yang bersifat basaltik (magma yang komposisinya kaya Fe dan bersifat relatif encer).

Batuan diabase di Bangka dinilai lebih dominan dari daerah lain atau memiliki keunikan yang berbeda. “Geopark ini harus berbeda tematiknya harus punya karakter tersendiri bahkan berbeda dengan geopark yang ada di seluruh dunia. Sehingga dia memang unik punya peran penting dalam proses terbentuknya bumi.

Kalau di Belitung itu memang lebih ke granit, tapi diakhir mereka cenderung ke lava bantal untuk keunikannya. kalau di bangka ini bebatuan diabasenya karena mungkin kita lebih dominan di daerah lain tidak sebagus dikita,” katanya. Dalam definisinya geopark adalah wilayah terpadu yang terdepan dalam perlindungan dan penggunaan warisan geologi dengan cara yang berkelanjutan, dan mempromosikan kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal.

Karenanya proses kajiannya meliputi tiga unsur, yakni geo diversity (kekayaan geologi), bio diversity (keanekaragaman hayati) dan culture diversity (kekayaan budaya). Yuliarsyah menjelaskan, untuk langkah awal ketiga unsur tersebut diambil datanya.

Untuk kekayaan geologi telah disurvey ke berbagai daerah, seperti Batu Belimbing di Toboali dan batuan sekitarnya yakni Batu Kodok dan Batu Perahu. Air panas di Nyelanding juga menjadi bahan penelitian karena terjadi akibat proses geologi dan sudah diambil sampel air dan batunya. Selain itu, berbagai daerah pun tak luput menjadi bahan kajian geologi.

“Untuk kekayaan budayanya itu di Muntok karena disana kota sejarah dan kota budaya, kita ambil juga data-data terkait budayanya. Di Kabupaten Bangka itu Kota Kapur kita punya data sekunder belum survey ke lokasi, lalu Puri Tri Agung, Kampung Gedong, Suku Lom di Mapur menjadi salah satu referensi yang akan dimasukan ke dalam kekayaan budaya. Itu baru pengumpulkan data, nanti dari data yang ada pihak peneliti akan mengkaji mana yang bisa mendukung dan memenuhi aspek kekayaan budaya,” ungkapnya.

Untuk keanekaragam hayati menurut Yuliarsyah, datanya sangat minim dan menjadi kendala dalam pengumpulan data. Data yang berhasil dikumpulkan dan disurvey yakni Hutan Pelawan di Desa Namang, Bangka Tengah. Selain itu didapat data sekunder kekayaan flora bunga anggrek hutan yang ditemukan di Sungai Opang, Kabupaten Bangka.

“Keanekaragaman hayati masih sedikit data yang didapat kita akan koordinasi lagi ke kehutanan dan BLHD untuk mendukung data keanekaragaman hayati. Kendalanya karena ada pelimpahan kewenangan dari kabupaten ke provinsi pada 2014 dan banyak data keanekaragaman hayati yang tidak terinventaris dengan baik di provinsi,” katanya.

Diharapkan dari hasil kajian ini nanti akan ada penyusunan jalurjalur geowisata. Jalur ini nanti akan mengatur secara fisik dan non fisik. Secara fisik meliputi konektivitas, sarana dan prasarana yang dibutuhkan termasuk direncanakan dalam kajian. Sedangkan non fisik sifatnya tematik dari masing-masing geosite karena tidak boleh sama antara geosite satu dengan yang lain namun saling melengkapi dan membentuk konsep besar.

“Jadi nanti ada tema besar dan ada sub tema yang mendukung. Sehingga nanti saling terhubung menjadi geowisata dan kedepannya menjadi geopark,” jelasnya. Hasil kajian lainnya yakni pengelolaan geopark dalam sebuah kelembagaan yang akan menyusun program dari berbagai aspek, seperti konservasi atau pelestarian, edukasi masyarakat untuk mengenal kekayaan geopark dan menumbuhkan kesadaran pelestarian lingkungan, dan aspek ekonomi yakni pemanfaatan pariwisata yang bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat lokal.

 “Ketika ditetapkan jadi geopark nasional nanti Bangka memiliki nilai daya saing pariwisata ditingkat nasional, bahkan bila ditetapkan sebagai geopark global pasti memiliki daya saing pariwisata di lingkup global dan masuk dalam jaringan global. Karena ini pengembangan pembangunan yang berkelanjutan lebih mengedepankan pelestarian lingkungan jadi lebih cenderung kearah pariwisata yang ramah lingkungan,” ungkapnya. (BBR)


Penulis : Irwan
Editor   : Sanjay
Sumber :Babelreview