Gula Merah Yang Menjanjikan

Admin
Gula Merah Yang Menjanjikan
foto:(net/ist)

Belitung Timur, BBR -- Maisinun warga kecamatan Gantung, Belitung Timur ini memilih usaha gula merah sebagai rutinitas hariannya. Meneruskan usaha turun-temurun dari orangtuanya hingga sekarang, ibu empat anak ini melihat cukup tingginya permintaan gula merah di Pulau Belitung sebagai peluang usaha.

Gula merah atau gula aren yang dalam Bahasa Belitong biasa disebut gula kirik menjadi salah satu usaha kecil menengah yang menjanjikan di Kabupaten Belitung Timur. Selain untuk kebutuhan sehari hari, gula merah menjadi salah satu oleholeh khas Belitong yang banyak dicari wisatawan.

Desa Limbongan dan Jangkar Asam untuk bersama-sama mengembangkan usaha pembuatan gula merah,” ujar nenek satu cucu ini. Di daerahnya pohon aren banyak tersedia sehingga usahanya jalan terus hingga saat ini.

Untuk menghasilkan gula merah yang berkualitas, bahan baku yang digunakan adalah air sadapan bunga pohon aren yang berasal dari pohon aren. Untuk satu pohon aren bisa menghasilkan 10 liter nira. Nira yang telah diperoleh kemudian disaring, selanjutnya dimasak secara tradisional samapi mengental dengan lama pemasakan tergantung dari banyaknya nira. Apabila sudah mengental dan berwarna kemerahan maka dituang kedalam cetakan bambu. Gula aren yang sudah membeku dibiarkan satu malam, baru dibungkus.

Membungkus gula saat masih hangat akan membuat gula basah dan mudah berjamur. Harga yang dijualnyapun kisaran Rp 21.000 hingga Rp 25.000 per bungkus dengan isi 10 keping gula merah. Tentunya itu harga eceran. “Apabila membeli dalam jumlah banyak di t e m p a t pengolahannya, maka akan mendapat Dikenal dari dulu sebagai keluarga yang ramah dan perhatian kepada masyarakat, sosok ibu 47 tahun ini tidak sekedar pengusaha gula aren, tetapi juga duduk di kursi DPRD Beltim sebgai wakil rakyat.

Walaupun sebagai anggota dewan sekaligus  istri Camat Gantung Khairil Anwar, usaha pembuatan gula merah masih terus dilakukannya. Maisinun menilai keberadaan industri gula merah terhadap sosial ekonomi masyarakat cukup besar karena bisa membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Usaha industri gula merah ini usaha turun menurun dari orangtua. Dari dulu saya selalu mengajak warga desa yakni potongan harga,” lanjutnya. Awalnya, masyarakat desa setempat melakon industri gula merah sebagai mata pencaharian sampingan, namun seiring tingginya biaya hidup usaha ini menjadi alternatif utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Penghasilan usaha gula merah ini untuk memenuhi kebutuhan hari-hari, sedangkan pertanian untuk penghasilan tahunan,” kata Maisinun.(BBR)


Penulis  :VERA VLESIA

Editor    :Sanjay

Sumber :BBR