H Sukri Ingin Kembalikan Kejayaan Lada BABEL

Admin
H Sukri Ingin Kembalikan Kejayaan Lada BABEL
FOTO :( FERLY ADITYA )

Bicara Lada, Bangka Belitung memang tempatnya. Disamping pertambangan timah, berkebun lada juga merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat di Bangka Belitung. Tak heran jika sepanjang rute jalan di Bangka maupun di Belitung masih didapati pemandangan hijau pohon lada. Namun, sejak pertambangan bijih timah dibebaskan secara umum sejak awal tahun 2000, banyak petani lada di Babel yang beralih profesi sebagai penambang bijih timah.

Salah satu petani Lada yang tetap eksis di Bangka Belitung yakni H Sukri. Ia mulai menekuni berkebun lada sejak awal tahun 2000-an, yang merupakan warisan turun temurun dari orang tuanya. H Sukri yang akrab disapa H Duk ini, sukes mengembangkan sedikit demi sedikit perkebunan ladanya. “Kita mulai berkebun itu pada tahun 2000-an, dengan luas kebun sekitar 2 hektare.

Kemudian hasil lada yang saya dapati, saya gunakan untuk menambah area kebun lada saya,” jelas H Duk. Diakui H Duk, dirinya sempat beralih profesi sebagai penambang bijih timah pada saat penambangan timah di Babel sedang booming.

Namun, ia menyadari kalau aktivitas penambangan bijih timah merusak alam. “ M e m a n g saya sempat membuka penambangan bijih timah selama beberapa tahun. Namun saya menyadari kalau, kalau penambangan bijih timah itu dapat merusak alam. Sehingga saya pada 2012 saya kembali menggeluti sebagai petani lada, yang sempat yang tinggalkan,” akunya.

Perlahan tapi pasti, sejak tahun 2006 hingga saat ini luas lahan perkebunan lada milik H Duk yang terletak di Desa Puput Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah ini sudah mencapai sekitar 50 Hektare. Sebagian kebun ladanya itu merupakan bekas tambang timah yang ditimbun kembali dan ditanami lada serta buah-buahan.

Dengan luas lahan kebun lada miliknya itu, H Duk mempekerjakan masyarakat sekitar sebanyak 100-200 orang, bahkan lebih dari itu jika sudah memasuki masa panen raya. Guna meningkatkan masa panen dari hanya satu kali dalam setahun, H Duk selalu melakukan terobosan dengan melakukan berbagai inovasi, agar kebun lada miliknya bisa panen dua kali dalam setahun. “Saya mencoba berinovasi, bagaimana caranya agar kebun lada saya bisa panen dua kali dalam setahun, dengan panen rayanya sekali dalam setahun,”imbuhnya.

Untuk mencapai keinginannya itu, H Duk bersama petani lada lainnya dikirim ke Vietnam untuk belajar cara produksi lada. “Kita dikirim ke Vietnam oleh Pemerintah Provinsi Bangka Belitung, untuk belajar cara supaya hasil lada kita bisa panen dua kali dalam satu tahun,” kata H Duk. H Duk mengungkapkan, hasil dari satu hektare kebun lada miliknya mampu mengasilkan minimal 2 ton bijih lada kering. “Untuk satu hektare rata-rata 2 ton sekali panen, jika diurus dengan baik dan tanpa kendala ada penyakit apapun yang menyerang pohon lada,” ungkapnya. Agar hasil panennya tetap baik dan melimpah, H Duk menggunakan bibit lada yang memang sudah direkomendasikan yakni jenis varietas Petaling 1 yang memang merupakan bibit unggul nasional dan Nyelungkup yang merupakan bibit unggulan lokal.

 “Saya menggunakan bibit jenis varietas unggul nasional dan lokal, yang sudah direkomendasikan oleh pemerintah yakni Petaling 1 dan Nyelungkup,” imbuhnya. Guna meningkatkan produksi hasil ladanya, H Duk menggunakan pupuk organik yang dikelolasendiri dan difermentasi.  “Untuk untuk lada saya menggunakan pupuk organik yang diolah sendiri, tapi masih menggunakan campuran urea dengan persentase yang lebih kecil,” ujarnya. Ia menambahkan, dalam satu kali panen mulai dari tanam minimal bisa menghabiskan 2,5 Kg pupuk untuk satu pohon.

Kalau sudah selesai panen, penggunaan pupuk dikurangi sekitar  1,5 kg sampai 1,8 kg. Kendala yang dihadapi selama kembali berkebun lada, kata haji Duk adalah sulitnya mencari junjung atau kayu penopang pohon lada. Sebab kondisi hutan di Pulau Bangka, sudah banyak yang rusak akibat penambangan timah. “Kalaupun ada harganya sudah selangit. Bisa mencapai Rp40-45 ribu per batang dengan ukuran standar 3 meter, untuk jenis kayu yang kuat dan tahan lama,” sebut H Duk. 

Untuk mengakali penggunaan kayu junjung, H Duk mengguna kan junjung hidup yaitu memakai pohon kapuk perdu yang saat ini semakin terkenal dan pertumbuhan pohon lada juga semakin bagus. “Kalau menggunakan pohon kapuk perdu itu lebih hemat dan ketinggiannya bisa mencapai 5 meter. Pohon kapuk perdu ini kita pupuk, yang kita kirim dari Pulau Jawa,” tandasnya.

Selain itu juga di perkebunan lada miliknya, H Duk memiliki tempat pembibitan pohon lada. Sehingga ia tidak perlu lagi repot-repot yang mencari bibit baru untuk ditanam. “Saya juga mengembangkan bibit lada dengan jenis varietas unggulan. Supaya begitu saya membutuhkan bibit lada yang baru, bisa langsung diambil dari tempat pembibitan. Bibit yang saya kembangkan ini, selain itu digunakan sendiri juga saya bagi kepada petani lada yang lain. saya sendiri berkeinginan untuk mengembalikan masa kejayaan lada Babel seperti di era tahun 80-an,” kata H Duk mengakhiri perbincangan. (BBR) 



Penulis :Diko
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview