Halal Tourism Bukanlah Mimpi  

Admin
Halal Tourism Bukanlah Mimpi  
Foto: Dok Kemendikbud

BABELREVIEW – MastercardCrescentRating sebuah lembaga rating wisata muslim dunia pada April lalu merilis hasil studi Global Muslim Travel Index (GMTI) untuk tahun 2018. Dalam studi tersebut, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai destinasi wisata halal populer di dunia. Ini sebagai bukti bahwa pasar wisata muslim akan terus tumbuh dengan pesat.

MenteriPariwisata Arief Yahya saat itu pun mengemukakan beberapa strategi untuk menjadikan Indonesia destinasi wisata halal populer di Asia dan dunia. Saat ini, destinasi yang tercatat sebagai wisata halal di Indoneia yakni Lombok, Sumatera Barat dan Aceh. Arief Yahya pun mempersilahkan daerah lain untuk mengambangkan wisata halal yang memiliki potensi besar bagi kemajuan daerah.

Bagaimana dengan Kepulauan Bangka Belitung? Apakah potensi wisata halal ini mulai dilirik? Belum lama ini terdengar kabar bahwa beberapa tempat rumah makan atau restoran belum atau tidak lolos sertifikasi halal yang dikeluarkan oleh LPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bangka Belitung.

Seharusnya problem ini dijadikan pemerintah daerah sebagai pemicu untuk mengembangkan destinasi wisata halal di Bumi Serumpun Sebalai. Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Belitung Ari Primajaya mengakui bahwa wisata halal (halal tourism) memiliki prospek yang bagus bagi perkembangan sektor pariwisata di Indonesia dan Bangka Belitung.

Bahkan destinasi wisata halal selalu menjadi prioritas para wisatawan dari mancanegara untuk mengisi liburan dengan jaminan halal. “Memang sekarang ini sedang gencarnya halal tourism, bahkan sudah booming karena memang gencarnya juga wisatawan muslim mengunjungi dan mengeksplor destinasi yang ada di dunia.

Negara yang dikunjunginya itu kadang-kadang bukan negara yang penduduknya mayoritas islam.  Sehingga terkadang mereka mengalihkan kunjungan tersebut ke destinasi wisata halal, nah itu pula yang menjadi PR (pekerjaan rumah) kita,” ungkap Ari. Ari mencatat sebelum Indonesia dalam hal ini Lombok, Nusa Tenggara Barat mencanangkan destinasi wisata halal justru negara seperti thailand yang penduduknya mayoritas non muslim sudah lebih dulu mengembangkan wisata halal kepada dunia.

Alhasil pariwisata Thailand maju dengan pesat. Bahkan beberapa agen perjalanan Thailand menjual paket destinasi wisata halal kepada rombongan jamaah umroh di negaranegara mayoritas muslim seperti Indonesia.  “Seharusnya Indonesia lebih dulu dibandingkan dengan negara lain mengembangkan halal tourism, peluang-peluang seperti ini yang menurut saya harus dikembangkan.

Seperti Thailand pada 2015 sudah mendata sekitar 5 juta wisatawan muslim setiap tahunnya berkunjung karena mereka berani mengembangkan halal tourism, bukan sebatas makanan tetapi juga hotelnya, pelayanannya, spa, laundry dan pendukung lainnya agar kekhawatiran wisatawan untuk berkunjung akan hilang,” ujarnya.

Di Bangka Belitung sendiri, mayoritas penduduk beragama islam namun banyak juga penduduk non muslim juga membuka usaha, seperti kuliner, akomodasi maupun pelaku wisata. Menurut Ari, sudah seharusnya penduduk non muslim yang memiliki usaha berkoordinasi dengan pihak terkait agar produk barang atau jasa mendapat sertifikat halal, tidak hanya sekedar legalitas namun juga sebagai kepastian atau jaminan halal bagi konsumen.

“Untuk yang belum memiliki legalitas halal di Bangka Belitung segera saja berkoordinasi dengan instansi terkait yang mengeluarkan label halal tersebut. Sehingga usaha mereka akan dinikmati bukan hanya non muslim saja dan ini juga menjadi pekerjaan rumah dinas-dinas terkait seperti Disperindag, Dinas Koperasi UMKM, MUI yang perlu memberikan sosialisasi tentang pentingnya produk halal dan mendukung pengambangan halal tourism ini,” katanya. Menurut Ari, Bangka Belitung sudah seharusnya mengambangkan destinasi wisata halal. Hanya saja perlu koordinasi yang dilakukan pihak terkait khususnya pemangku kepentingan untuk mengarahkan pengambangan destinasi wisata halal.

“Saya rasa halal tourism sangat bagus karena dengan adanya kunjungan Raja Salman ke Indonesia mungkin bisa memancing kunjungan wisatawan dari timur tengah, tidak hanya ke Bali tetapi juga ke Bangka Belitung. Apalagi kementerian pariwisata juga sedang bergerak untuk mensosialisasikan halal tourism tersebut,” jelasnya. Dengan adanya destinasi wisata halal di Bangka Belitung, Ari mengatakan pasti akan memberi dampak kepada sektor pariwisata, apalagi wisatawan dari negara mayoritas muslim terus berkembang pesat.

Apalagi jika pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata terus melakukan promosi destinasi wisata halal dan memadukannya dengan tradisi Melayu yang didominasi dengan nilai-nilai Islam. Tentunya akan menjadi daya tarik baru dalam pilihan destinasi di Bangka Belitung. “Untuk mengembangkan destinasi wisata halal tahap pertama itu OPD akan mensosialisasikan dahulu pentingnya halal tourism bagi pelaku pariwisata, bagi pengelola wisata sehingga memberikan rasa aman dan mereka (pelaku usaha) akan menerima dan segera menerapkan sertifikasi halal terhadap usahanya,” jelasnya.

Menurut Ari yang menjadi indikator destinasi wisata halal berkembang yakni apabila tingkat kunjungan wisatawan muslim meningkat dan menjamurnya usaha pendukung wisata seperti rumah makan, hotel, destinasi, pelayanan/jasa, produk buah tangan yang memiliki kesadaran untuk mendapatkan sertifikasi halal. “Harapannya Bangka Belitung segera menyusul untuk diterapkan halal tourism karena ini sudah menjadi tuntutan pasar pariwisata, wisatawan dari negara muslim juga sedang gencar melakukan perjalanan liburan karena kemungkin tingkat kesejahteraan mereka memang diatas ratarata kita sehingga mereka punya waktu luang untuk mengadakan perjalanan ke negara-negara yang selama ini ada dipikiran mereka,” harapnya. (BBR)


Penulis : BBR
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview