Ikon Maritim Dilanda Corona

kasmirudin
Ikon Maritim Dilanda Corona
Kevin Sabri

NAMPAK seketika indah menawan, gemburnya pesisir pantai. Yang dulu menjadi hiasan, sekarang tak riang hilang menjadi ingatan. Sebuah gambaran dari permukaan pesisir pantai kini terbangkalai. Ikon maritim hanya gara-gara corona, semua menjadi hilang dalam seketika. Siapa nyangka dilanda corona? Dunia digemparkan seketika oleh corona yang membuat semua menjadi gelisa, yang berupa  sektor lingkungan, sektor ekonomi, sektor pendidikan maupun sektor pariwisatanya semua tak terkendali hingga detik ini corona menjadi pembincangan semua orang di seluruh dunia. Tak melihat mau masyarakat yang bergandeng status negara maju maupun negara berkembang semuanya dilanda corona dengan waktu seketika semua umat di dunia menjadi berkeluh kesah hanya penyebab corona semua ikon dunia terganggu sudah.

Sekarang corona tak lagi asing terdengar oleh telingga kita yang merupakan sebuah virus yang teramat mematikan. Semua sektor yang ada di dunia bahkan umat manusia juga ikut serta dalam pedihnya kematian. Corona yang biasa dikenal dengan Covid-19 ini sudah merenggut jiwa nyawa umat manusia bukan satu dua orang yang dijumpainya, tetapi hampir ribuan manusia yang dihampiri corona yang mengakibatkan fatal “kematian”.  Tentu penyebab dari corona ini tidak lain dan tidak bukan bentuk dari kerakusan manusia itu sendiri sehingga semua tak terkendali, detik ini menjadi uji nyali. Bermunculnya corona semua keindahan tak lagi terpandang oleh mata, semua di karantina demi menyelamatkan semua umat manusia. Pasti pariwisata bahari menjadi acuan penting setelah usainya dilanda corona siapa kira semua akan berakhir bila umat tak bekerja sama untuk memutuskan rantai penyebaran virus corona di permukaan kota dan Negara.

Kasus positif Covid-19 saat ini sudah tersebar ke 34 provinsi, 354 kabupaten/kota di Indonesia. Data Kamis (7/5), terjadi penambahan kasus positif sebanyak 338 orang. Sehingga totalnya menjadi 12.776 orang pasien positif Corona. Sementara untuk pasien sembuh terjadi penambahan 64 orang. Total akumulatifnya menjadi 2.381 pasien. Jumlah pasien meninggal dunia bertambah 35 orang hari ini. Sehingga totalnya menjadi 930 orang. kemudian hal ni pemerintah melakukan karantina agar memutuskan rantai penyebaran virus corona di permukaan bumi sehingga pastilah pariwisata bahari menjadi tak terkendali karna dapat dipastikan tak ada yang berkunjung untuk berwisata dan menikmati ikon keindahan alam semesta. Tembok dinding sekarang menjadi kaca keindahan umat manusia karna semua tak bisa berkumpul rasa untuk menikmati pemberian yang Maha kuasa. #tetapdirumahsaja

Indonesia memiliki berbagai ragam keindahan seperti ikon kemaritiman yaitu keindahan  pantai dan pulau-pulaunya siapa kira dilanda corona sebuah ikon maritim menjadi terganggu, dengan berbagai gejala salah satunya yakni aktivitas yang dilakukan orang lain yang berbasis pada bahari pariwisata. Kita akui bahwa kita mampu dalam mealokasikan suatu pariwisata menjadi pertumbuhan ekonomi kita dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kepulauan Bangka belitung seperti bekerja sama dengan komunitas maritim muda, dan dinas-dinas terkait pariwisata agar bekerja sama dalam membangun pariwisata bahari sehingga menumbuhkan keindahkan lokal kepulauan bangkaa belitung. Nasib, biasa di artikan manusia hanya nasib kepribadian manusia, hanya melatar belakangi kehidupan manusia sendiri, akan tetapi banyak nasib yang terjadi dalam bentuk pendidikan, ekonomi, bahkan nasib pariwisata sendiri. Semua udah ada ulasan kehadiran corona seperti membahas nasib masyarakat, nasib pendidikan, nasib keamanan pangan, nasib keamanan manusia, nasib pedagang, nasib pertanian bahkan nasib nelayan, dengan hal ini apakah nasib pariwisata baik-baik saja. Atau semakin bagus kualitas pembangunan pariwisatanya.

Ini menjadi acuan penting juga buat kita. Agar kita menyadari pentingnya dalam melihat sektor nasib pariwisata kita di tengah Covid-19. Tidak menutupi kemungkinan bisa jadi nasib pariwisata kita menjadi down dan tidak berkualitas lagi dikarnakan  akibat corona muncul menjadi sepi tempat-tempat wisata kita bahkan tak ada yang berkunjung. Dikarnakan taat dengan aturan pemerintah untuk tetap dirumahsaja demi kebaikan umat manusia di indonesia dan terkhusus di kepulauan Bangka belitung yang sektor pariwisatanya banyak diminati para wisatawan. Maritim adalah Negara yang terkait dengan kebaharian atau kelautan dan perlu ditegaskan juga bahwa Negara maritim adalah bukan jargon semata melainkan sebuah tindakan nyata. Kemudian bagaimana upaya-upaya kita untuk mengalokasikan hasil dari kelautan kita agar hal ini membuat sektor pertumbuhan kemaritiman akan tetap stabil walaupun dilanda corona semua menjadi acuan penting untuk membangkit dan mengembangkan potensi Negara maritim.

Konsep poros maritim dan konsep Negara maritime mempunyai perbedaan walaupun sama sama mengusung tema kemaritiman, tetapi pada kenyataannya maritime adalah tetap mengacu pada dimana Negara bisa mengoptimalkan sumber daya maritim. Kita ketahui bahwa maritim asal menurut bahasa inggris yaitu maritim yang berate navigasi, menurut kata ini lalu lahirlah istilah maritime power yaitu Negara dengan kekuatan maritime atau Negara mengunakan kekuatan yang berbasis pada bahari. Sementara, dalam kamus besar bahasa indonesia, maritim diartikan menjadi hal yang berkenaan mengunakan bahari, trutama hal yang berkaitan pelayaran dan perdagangan pada bahari. Pengertian tersebut menegaskan bahwa Negara maritim adalah Negara yang  terkait dengan kebaharian atau kelautan. Maka dengan hal ini sektor bahari dan kelautan pasti sangat tergangu dalam aktivitas untuk mengembangkan sebuah icon kemaritiman di suatu Negara dan icon kelautan pulau-pulau menjadi sektor yang tidak sangat diperhatikan lagi karna pemerintah dan masyarakat skarang sibuk memikirkan bagaimana  ekonomi serta bagaimana memutuskan rantai penyebaran virus corona di belahan dunia dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin.

Dengan demikian penulis mengajak semua masyarkat indoensia serta yang terkhusus di kepulauan bangak belitung agar kita bekerja sama dalam memutuskan rantai penyebaran virus corona sehingga kita bisa meningkatkan sistem bahari dan ekosistem kelautan menjadi sebuah pendapatan Negara kembali. Mengapa demikian bila kita ingin menyatakan bahwa indonesia merupakan Negara bahari maka Negara indoensia wajib memanfaatkan potensi lautnya dan pada akhirnya cita rasanya akan penggunaan kata Negara maritim akan lebih sempurna. Argumentasi alasanya adalah indoensia Negara maritime yang merupakan Negara yang memiliki sifat memanfaatkan potensi laut buat kemakmuran negaranya. Sedangkan Negara kelautan lebih menunjukan syarat fisik nya saja yaitu Negara yang berhubungan dekat mengunakan atau terdiri dari bahari dan sudah saat nya kita berorientasi menuju konsep Negara maju dengan catatan membuat potensi ekonominya merata yang di salurkan kepada masyarakat apa lagi dilanda corona pastilah masyarakat butuh bantuan uluran tangan penjabat pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tersebut.

Aroma alam tak lagi terpapar, hanya dinding tembok atau bambu yang menjadi kaca mata seni dari indahnya kelautan dan paparan alamnya. Indah, keindahan tak lagi di hirup aroma alam yang menawan, datangnya corona masyararkat dan pemerintah siap melawan. Tak cukup untuk membangun periwisata, ekonomi masyarakat menjadi tak tertata. Apa lagi wisata, tak tumbuh berkelana karna wisatawan  sama sama merana, dengan masyarakat mana saja. Tak dapat di pungkiri jiwa resah membasuhi wajah. Mencerut wisata tak jadi cerah. Karna semua takut dengan corona. Berdiam dirumahsaja sudah biasa, tak ada pembangunan wisata yang luar biasa apa lagi ditengah corona melanda. Emang nasib wisata menjadi merana. tak ada yang merindukan keindahan alamnya karna waktunya di rumah saja, hanya gara-gara corona gila. (BBR)


 

Penulis : Kevin Sabri (Mahasiswa Fisip UBB,  Departemen Ilmu Politik dan Penggiat litrasi Kosada Babel)

Editor   : Kasmir