Ini Deretan Kelenteng di Pulau Belitung, Plural dan Multikultural(Bagian I)

fennie
Ini Deretan Kelenteng di Pulau Belitung, Plural dan Multikultural(Bagian I)
Kelenteng Sijuk, Belitung Timur

                TANJUNGPANDAN, BABELREVIEW.CO.ID-- Menapaki Negeri Laskar Pelangi, Pulau Belitung, tempat di mana lokasi shooting film Laskar Pelangi berlangsung adalah gambaran Indonesia mini yang sarat dengan kehidupan multietnis, multikultural dan heterogen. Yah… perpaduan masyarakat Melayu dan Tionghoa yang terjadi berabad-abad lamanya seakan melebur menjadi satu, terlihat pula dalam perpaduan budaya yang ada.

                 Kali ini, melalui catatan deretan kelenteng yang ada di Pulau Belitung, babelreview.co.id mencoba menyajikan sisi lain Pulau Belitung melalui bangunan kelentengnya yang rata-rata sudah berdiri sejak lama.Di antara kelenteng yang ada, ada kelenteng yang berdiri dekat bangunan masjid, bahkan ada yang berdiri di antara hunian masyarakat yang plural dan multikultural.

                 Anda penasaran? Yuk simak deretan kelenteng yang ada di Pulau Belitung itu.

 

  1. KelentengThai Bong Ya, Damar

Letaknya yang agak sunyi dan tenang dengan sejumlah perumahan warga menjadikan Kelenteng Thai Bong Ya, Damar, sangat cocok sebagai tempat ibadat. Apalagi pepohonan hijau di sekitarnya menambah nuansa asri dan adem.Suasana bangunan berarsitektur tradisional khas Tionghoa melekat kuat pada tempat ibadah satu ini.

Tempat ibadat umat Konghucu ini berdiri di Desa Mengkubang, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur ini.Yasinta, wisatawan domestik yang beberapa waktu lalu mengunjungi tempat ini mengaku senang melihat bangunan kelenteng yang ada. Selain bersih dan terawat, kelenteng ini berdiri di tengahmasyarakat sekitar yang plural dengan berbagai etnis, sehingga membuktikan kehidupan beragama yang penuh toleransi dengan sikap saling menghormati antar pemeluk agama sekaligus mengandung nilai-nilai kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat di Negeri Laskar Pelangi. 

“Hal ini menandakan bahwa kelenteng tidak hanya berfungsi sebagai tempat spiritual, tapi juga mampu memberikan kontribusinya dalam membangunan kerukunan antar umat beragama,” terangnya.

 

  1. KelentengHok Tek Ceng Sin, Sijuk

Salah satu kelenteng tertua di Pulau Belitung yang bernama Hok Tek Ceng Sin, Sijuk ini memiliki patung Dewi Kwan Im setinggi empat meter. Kelenteng yang ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah Kabupaten Belitung ini berdiri tahun 1815. Menariknya, ada sebuah mesjid berjarak sekitar 300 meter dari tempat ini bernama Mesjid Al-Ikhlas. Mesjid tersebut juga menjadi salah satu mesjid tertua di Pulau Belitung sehingga keberadaan dua tempat ibadah yang berdekatan ini mengesankan tingginya kehidupan toleransi, potret kerukunan, dan keakraban antar umat beragama sejak dulu.

Kelenteng yang memusatkan pemujaannya pada Dewa Bumi (Hok Tek Seng Sin/ Thu Thi Pak Kung) ini dilengkapi dengan berbagai lukisan pada sisi pintu gerbang, dinding, dan pagar serta dekorasi eksterior lainnya.

 

  1. Kelenteng Hok Tet Che, Tanjungpandan

                 Berdiri pada tahun 1868 dan sempat direnovasi pada tahun 2017, kelenteng ini berada di Jalan Siburik Timur, Tanjungpandan. Berlokasi di pusat kota, dekat dengan pasar utama dan pelabuhan perikanan, tempat ibadah ini memudahkan orang untuk menjangkaunya, bahkan tetap dikunjungi warga lokal dari berbagai generasi untuk beribadah. Meski ukurannya tidak terlalu besar, namun kelenteng ini cukup menarik dengan ciri khas sepasang naga di atas gentengnya.Dari info yang diperoleh, kelenteng ini dulunya dibangun untuk para pekerja Tionghoa yang dibawa ke Pulau Belitung untuk bekerja pada tambang-tambang timah.(BBR)


Penulis : Pras

Editor : Fennie