Ini Kisah Andry, Kades Tionghoa Yang Memimpin Hampir 4000 Muslim di Bukit Layang

Ahada
Ini Kisah Andry, Kades Tionghoa Yang Memimpin Hampir 4000 Muslim di Bukit Layang
Andry, Kades Bukit Layang Kecamatan Bakam. (Ist)

BABELREVIEW.CO.ID -- TAK pernah terlintas dalam benak seorang Andry jika suatu saat kelak ia akan menjadi orang nomor satu di desa tempat ia dilahirkan. 

Terlebih manakala ia menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian dari kelompok minoritas, mustahil rasanya jika seekor  Menjangan menjadi pemimpin untuk sekawanan Gajah.

Akan tetapi tak selamanya minoritas adalah bagian yang harus terkucilkan, demikian Andry.

Pria keturunan Tionghoa, kelahiran 8 Mei 1985 ini sukses menggugah dan membangkitkan kepercayaan masyarakat Desa Bukit Layang Kecamatan Bakam, desa yang warganya mayoritas muslim, untuk mengangkatnya sebagai Kepala Desa Periode 2016-2022.

"Sedikit pun awalnya tak terpikirkan untuk maju (Pilkades). Tapi desakan justeru banyak berdatangan dari teman-teman muslim. Ini dorongan semangat yang luar biasa bagi saya. Apalagi di Bukit Layang ini 80 persen penduduknya adalah muslim, 10 persen pandatang dan 10 persen keturunan. Secara akal sehat, mana mungkin saya bisa memenangkan 'pertarungan' dengan basis saya yang sangat dikit yakni 10 persen," ungkap Andry dalam bincang-bincang dengan jurnalis Babelriview.co.id beberapa waktu lalu.

Tetapi dengan sosok Andry yang supel, kritis, energik dan intelek, menggugah dan membuat banyak warga masyarakat untuk menaruh kepercayaan di pundaknya. 

Perbedaan pun tak lagi menjadi sekat, agama dan ras menjadi nyanyian kebersamaan. Wal hasil, dalam Pilkades tahun 2016 itu, Andry pun melenggang dan sukses menyisihkan empat calon lainnya dengan meraup 500 lebih suara dari 1500 mata pilih yang diperebutkan.

Pilkades Bukit Layang Periode  2016-2022 tersebut juga sekaligus menderetkan nama Andry sebagai warga keturunan Tionghoa ke 6 yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa dari 62 desa dalam wilayah Kabupaten Bangka.

Yakni Desa Bukit Layang Kecamatan Bakam, Desa Rebo Kecamatan Sungailiat, Desa Merawang dan Desa Dwi Makmur Kecamatan Merawang, Desa Lumut Kecamatan Riau Silip, serta Desa Gunung Pelawan Kecamatan Belinyu.

Diungkapkan Andry, memimpin desa dengan mayoritas muslim berpenduduk 4000 jiwa dengan 1081 KK yang tersebar di tujuh dusun dan 16 RT tersebut, bukanlah perkara gampang.

"Tetapi segala sesuatu tergantung dengan niat. Semuanya tak harus dilihat dalam perspektif suku, agama, ras dan golongan. Semuanya kita perlakukan sama, kerja bersama, kita rangkul bersama," kata suami dari Srinani ini.

Dalam suasana Ramadhan di tengah wabah Covid-19 seperti sekarang, kata Andry, selaku kepala desa maka seluruh pikiran dan tenaga ia kerahkan untuk ketenteraman dan kelancaran beribadah warganya.

"Yang ada di pikiran saya adalah bagaimana semata-mata warga muslim saya bisa khusu' beribadah, merasa aman, kebutuhan tercukupi. Saya ingin Ramdhan mereka lancar tanpa ada rasa takut di tengah ancaman wabah ini," kata ayah dari seorang putra ini.

Memperlebar ruang kebersamaan dan mendiskusikan setiap perbedaan, adalah salah satu cara bagi seorang Andry dalam memimpin.

"Desa kuat, negara maju. Jadi semuanya berawal di desa. Kebersamaan kita jaga, perbedaan kita selesaikan dengan cara diskusi. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Yang terpenting lagi harus transfaran, jujur dan amanah," tandasnya.

Dalam hal penggunaan dana desa misalnya, menurut Andry, selama ini ia selalu terbuka dan transfaran.

"Penggunaan dana desa transfaran, tak ada yang kita tutupi.  Dari mulai perencanaan sampai ke pelaksanaaan. Usulan dari dusun, apa yang jadi skala prioritas akan kita ajukan. Bahkan soal segala macam tentang dana desa ini, sudah kita bikin posternya dan semua masyarakat bisa lihat bahkan bisa langsung mengontrol jika ada terjadi penyelewengan," ungkap Andry.

Disinggung apakah nanti ia akan terjun ke kancah politik sebagaimana banyak dilakukan oleh para seniornya dari kalangan etnis Tionghoa, Andry tak mau berandai-andai.

"Itu masih jauh. Saya sekarang fokus mengabdikan diri di penghujung masa bhakti saya sebagai kapala desa. Masih banyak hal penting yang belum saya rampungkan," kata Andry.

Ia  selalu terobsesi memberdayakan potensi SDM di desanya, khususnya kalangan muda, agar kelak menjadi manusia yang hebat dan generasi yang tangguh untuk  membangun Desa Bukit Layang di masa depan. (BBR)

Laporan: Ichsan Mokoginta