Ini Tentang Pemusnahan Tanaman Gambir dan Kapas di Bangka

Ahada
Ini Tentang Pemusnahan Tanaman Gambir dan Kapas di Bangka
Akhmad Elvian. (Ist)

PEMUSNAHAN TANAMAN GAMBIR DAN KAPAS DI BANGKA

Oleh: Akhmad Elvian*)

 

DISAMPING menghasilkan Timah, pulau Bangka juga menghasilkan Rotan, Damar, Madu, dan Tikar Kajang serta kayu wangi dari Species Gonstylus Bankanus yang laku dengan harga mahal di Persia bahkan lebih mahal dari Gaharu (Aqualiria).

Pada masa Sultan Abdurrahman (Tahun 1659-1706), pada wilayah pulau Bangka yang berstatus Sindang yang Merdeka (Vryheren) diwajibkan mengembangkan tanaman Lada (Sahang), Gambir dan Kapas. Akan tetapi pada masa Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (Tahun 1702-1711) seiring dengan mulai dieksploitasinya Timah, karena laku di pasaran dunia, kebijakan kesultanan Palembang untuk wilayah pulau Bangka diubah dengan  penekanan pada sektor pertambangan Timah.

Pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I (Tahun 1724-1757) kekuasaannya atas pulau Bangka terancam oleh kakaknya Sultan Anom Alimuddin yang membangun kekuasaan di Kubak (Stocade of Koba) (Tahun 1722-1732), dan puteranya Raden Klip membangun benteng di Pakuk (Paku), serta sekutunya Arung Mapala, bangsawan Makassar membangun benteng di atas puncak karang karang laut di Tanjoeng Ular.

Dalam catatan Andaya dikatakan: Two-thirds of Bangka was under the control of either Arung Mappala or Sultan Anum (Andaya, 1993:187).

Sultan  Mahmud Badaruddin I mempertahankan pulau Bangka melalui Toboali (benteng di Oud/Oud Toboali yang dalam Kaart van het Eiland Banka zamengesteld in 1845-1846 door H.M. Lange terletak antara sungai Tagak dan Bacoon/Bakung dan Bukit Nangka) dengan mengerahkan 5.000 pasukan dan 130 Kapal.

Atas bantuan VOC (Abraham Patras), pada Tahun 1731 Masehi, Arung Mappala berhasil diusir dari Tanjung Ular melalui serangan dari laut, selanjutnya Arung Mappala kembali ke Banjarmasin dan 100 pasukannya tertawan.

Pasukan VOC (Abraham Patras) selanjutnya melewati darat menyerang benteng Raden Klip di Paku dan Raden Klip kemudian lari ke pulau Madura.

Pasukan VOC selanjutnya dari Paku dan Bangkakota menuju Koba.

Sepanjang perjalanan mereka menghancurkan benteng-benteng Sultan Anom dan akhirnya pada bulan Agustus 1731 Masehi, berhasil menghalau Sultan Anom dengan 500 pengikutnya dari Koba ke pulau Belitung.

Pada Tahun 1735 Masehi, Sultan Anom Alimuddin kembali menyerang Palembang; Ia ditangkap dan dibunuh (Schuurman, 1898:9n).

Tanpa bantuan VOC (Abraham Patras), Sultan Mahmud Badaruddin I, bisa saja kehilangan pulau Bangka dan seluruh kekayaan Timah dan Ladanya, termasuk Gambir dan Kapas.

Bantuan yang diberikan VOC tidak cuma-Cuma akan tetapi dengan syarat harus membayar semua biaya perang yang telah dikeluarkan, dan sultan wajib "membasmi" semua tanaman Gambir dan tanaman Kapas di pulau Bangka.

Kebijakan ini yang mengakibatkan tanaman Gambir dan Kapas tidak lagi dihasilkan di pulau Bangka.

Sultan Palembang dan VOC kemudian hanya mengeksplorasi mineral Timah di pulau Bangka. (*/BBR)

*) Disarikan dari Buku Kampoeng di Bangka, Jilid III, Bagian Distrik Kubak atau Koba  (Elvian, 2020:380-404) #bankanese history