Inovasi, Digitalisasi dan Inklusivitas; KUNCI EKONOMI NEW NORMAL

Ahada
Inovasi, Digitalisasi dan Inklusivitas; KUNCI EKONOMI NEW NORMAL
Dr Reniati, SE.,M.Si Ketua ISEI Bangka Belitung Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung

Inovasi, Digitalisasi dan Inklusivitas

KUNCI  EKONOMI NEW NORMAL

Dr  Reniati, SE.,M.Si

Ketua ISEI Bangka Belitung

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung

__________________

MEMASUKI bulan ke-empat sejak merebaknya Covid-19, semua daerah di Indonesia merasakan dampaknya yaitu berkurangnya transaksi perdagangan langsung dan terhentinya sejumlah industri manufaktur dan pengolahan, sehingga pengangguran terbuka, setengah pengangguran dan kemiskinan menjadi tantangan tersendiri untuk segera diselesaikan. 

Di sisi lain dampak positifnya adalah peningkatan transaksi perdagangan dengan platform digital, di berbagai sektor kita sudah mulai merasakan percepatan implementasi digitalisasi.

Vaksin yang diprediksi belum tersedia sampai dengan akhir tahun 2020, menjadikan program imunisasi memerlukan waktu lama untuk seluruh populasi yang ada di dunia.

Olah karenanya dalam waktu 2 tahun ke depan kita harus berdamai untuk hidup bersama covid-19.

Seperti dilansir oleh Harvard Study Science, (2020), bahwa  Intermittent distancing may be required into 2022 unless critical care capacity is increased substantially or a treatment or vaccine becomes available. So Good Byee pandemi, dan Wellcome Era New Normal.  

Definisi New Normal menurut  Pemerintah Indonesia adalah Tatanan baru untuk beradaptasi dengan Covid-19 (Achmad Yurianto, Jubir Penanganan Covid-19). 

Badan Bahasa sendiri sudah memberikan istilah Indonesia yaitu Kenormalan Baru, kata  Normal, dalam bahasa Inggris sendiri adalah nomina sehingga menjadi New Normal. 

Sedangkan dalam bahasa Indonesia menjadi Kenormalan Baru, kenormalan baru didefinisikan kembali setelah hampir 3-4 bulan ke belakang kita seperti hidup dalam ketidaknormalan yang sebelumnya.

Kenormalan baru menghendaki kedisiplinan dalam gaya hidup seperti menggunakan masker, mencuci tangan, jaga jarak, rajin olah raga dan minum suplemen untuk menjaga daya tahan tabuh. Sehingga kita tidak kembali kepada pandemi yang berulang.

Seperti sudah semua mahfum pekerjaan besar yang ditinggalkan wabah virus covid-19 menjadi resiko terbesar bagi perekonomian global yang mulai tumbuh, lebih besar dampaknya dari panasnya perang dagang Amerika dan China.

Indonesia juga memiliki dampak melalui jalur perdagangan barang maupun jasa hingga jalur pasar keuangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 diprediksi tertahan di 0,50%.

Adopsi teknologi, dan terkhusus teknologi digital diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia selama periode 2020-2040 yang menurut perkiraan ADB dari awalnya 5,2% menjadi 5,75%. 

Menciptakan ekonomi berbasis...

  • Halaman
  • 1
  • 2