Ishadi Cual Babel Harus Punya Kain Khas Daerah

Admin
Ishadi Cual Babel Harus Punya Kain Khas Daerah
FOTO :( FERLY ADITYA )

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW --Masyarakat Bangka Belitung tentunya sudah sangat mengenal kain cual, kain khas Negeri Serumpun Sebalai. Kain cual di Bangka Belitung dikenalkan oleh Isnawaty dan Abdul Hadi (alm) pada 21 November 2000.

Menurut Isnawaty Hadi awalnya pengenalan kain cual ini oleh suaminya Abdul Hadi. Almarhum suaminya berpendapat bahwa Bangka Belitung yang saat itu sudah menjadi provinsi harus memiliki kain khas daerah. "Setelah terbentuknya Provinsi Bangka Belitung, suami saya mengatakan bahwa Babel harus ada kain khas daerah sendiri. Dari itulah kami memperkenalkan kain cual kepada masyarakat Babel. Lalu kami menawarkan kepada Pemerintah Kota Pangkalpinang yang saat itu dipimpin Sofian Rebuin. Kain cual kami pertama kali digunakan sebagai seragam PNS pada hari-hari tertentu," cerita Isnawaty di museum kain cual Ishadi, Jalan A. Yani No.46 Pangkalpinang.   

Lalu pada kepemimpinan Walikota Zulkarnain Karim, Isnawaty yang belakangan dikenal dengan nama Ishadi menawarkan ke sekolah-sekolah supaya siswa mengetahui kalau Bangka Belitung memiliki kain daerah sendiri."Kami menawarkan kain cual untuk seragam siswa-siswi di sekolah, untuk  promo dengan harga spesial yang terjangkau. Kami buat dengan mesin print. Sebab harga kain cual yang ditenun sangat mahal. Itu kita lakukan agar kain cual Bangka Belitung bisa terkenal di nusantara dengan harga yang murah," jelasnya seraya menjelaskan bahwa kain cual tenun itu dipakai pada saat acara adat, pernikahan, hari-hari besar seperti HUT Kota Pangkalpinang, HUT Provinsi Babel serta acara lainnya.           

Menurut perempuan kelahiran Pangkalpinang 61 tahun yang lalu ini, kain cual diangkat dari cual kuno dengan motif flora dan fauna. Kalau yang motif fauna itu berbentuk abstrak seperti motif naga bertarung. Sedangkan yang motif flora itu berbentuk kembang gajah. Masing-masing motif ada filosofinya.    Kain cual ini merupakan peninggal kakek buyutnya yaitu Demang Abdurrachman Redjab yang sudah berusia ratusan tahun dan mereka merupakan generasi ke-4.    

"Kain cual ini pertama kali di tenun di Kota Muntok pada abad ke-17. Pada saat perang eropa pecah pada tahun 1914, pasokan benang emas dan benang sutra melalui Pelabuhan Muntok menjadi terhambat," paparnya.Lebih lanjut Ishadi menceritakan, kain cual miliknya itu diberi nama Ishadi Cual bermula dari kedatangan orang Jepang bersama perwakilan dari Kemekumham."Pada 2004 kami kedatangan tamu orang Jepang bersama dengan perwakilan Kemenkumham RI ke gerai cual kami, lalu ia bertanya apa merek untuk hak paten. Kemudian saya berpikir untuk memberi nama Ishadi Cual," tandasnya.   

Ia mengharapkan, agar kain cual ini bisa bersinergi dengan pariwisata Babel. Setiap ada event pariwisata selalu mempromosikan kain cual Babel, baik sebagai souvenir maupun untuk digunakan sebagai pakaian adat. "Pemerintah daerah sangat mendukung sekali untuk promosi kain cual Babel ini, apalagi Gubernur Erzaldi Rosman Djohan mengharapkan kain khas daerah ini bisa digunakan untuk pakaian adat atau seragam setiap pemerintah kabupaten/kota," imbuhnya.         

Ibu empat orang anak ini mengaku, permintaan kain cual agak menurun sejak tahun 2016 lalu. Ini disebabkan perekonomian di Babel yang juga menurun, sehingga sangat mempengaruhi penjualan kain cual Babel."Kondisi perekonomian saat ini tidak hanya terjadi di Babel saja, tetapi secara nasional juga sedang menurun. Hal ini sangat mempengaruhi permintaan kain cual. Kami mengharapkan kerja sama dengan seluruh pemda di Babel, agar mau menggunakan kain adat cual sebagai seragam," harapnya.   

Saat ini pemda yang sudah menggunakan kain cual Babel sebagai seragam PNS yaitu, Pemkot Pangkalpinang, Pemprov Babel, Pemkab Bangka Barat, Bangka Induk dan Belitung Timur. Selain itu ada daerah lain yang memesan kain cual Babel seperti dari Pulau Jawa, Banten dan Kalimantan."Saya tetap optimis, karena keunikan kain cual ini. Sebab ada satu kabupaten di Jawa Timur yang pesan seragam kepada saya. Untuk saat ini pameran tetap berjalan," imbuhnya.

Saat ini Ishadi Cual telah memiliki museum cual sendiri, dan dapat bantuan dari Kemendiknas untuk renovasi. Tujuan berdirinya museum cual ini untuk mengenalkan kain cual kedepan, supaya masyarakat luas tahu bahwa Babel memiliki kain khas daerah sendiri."Dengan berdirinya museum cual ini, membuktikan bahwa sejarah kain cual di Babel itu memang ada. Alhamdulillah keinginan kami untuk memiliki museum cual sendiri terlaksana dengan dana pribadi yang kami kumpulkan selama ini dan museum ini terbuka untuk umum," tukasnya.           

Berbagai penghargaan telah diraih Ishadi Cual mulai dari Walikota Pangkalpinang sampai penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Di Museum Ishadi cual, masyarakat bisa melihat langsung kain tenun cual yang sudah berusia ratusan tahun serta alat tenun tradisional. (BBR)


Penulis :Kasmir
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview