Jamu Minuman Tradisonal yang Tetap Laris Manis

Admin
Jamu Minuman Tradisonal yang Tetap Laris Manis
Foto: Sartika

PANGKALPINANG, BABEL REVIEW – Minum jamu di kalangan masyarakat Indonesia telah menjadi gaya hidup yang dilakukan sejak dahulu hingga sekarang. Jamu menjadi warisan nenek moyang yang senantiasa eksis di tengah kehidupan masyarakat. Beragam varian jamu banyak dijumpai di pasaran dengan berbagai kemasan yang semakin menarik dan modern.  Walaupun kini banyak sekali metode pengobatan dan obat-obatan modern yang beredar di masyarakat tetap saja jamu diyakini memberikan khasiat yang lebih awet dan aman.

Eksistensi jamu sebagai minuman menyehatkan tak lain ditopang oleh khasiat jamu yang manjur dan sesuai dengan lidah masyarakat. Selain itu, jamu tidak menggunakan pengawet sehingga kealamiannya senantiasa terjaga. Ditambah lagi dengan kepercayaan yang muncul dari masyarakat akan manfaat dan khasiat jamu yang tidak pernah luntur. Salah seorang pembuat jamu       tradisional, Suparti (65), menuturkan produk jamu buatannya selalu dinanti oleh pembeli yang sudah menjadi langganannya setiap hari. “Saya sudah berjualan selama 35 tahun, penjualan tidak pernah sepi. Pelanggan saya datang dari berbagai kalangan usia, minat masyarakat akan jamu selalu tinggi,” katanya.

Suparti menjajakan jamunya de ngan cara berkeliling dari kampung ke kampung. Setiap pukul 15.00 wib ia mulai mengayuh sepeda miliknya dengan membawa botol-botol penuh berisi jamu buatannya. Ada beberapa varian jamu yang Suparti tawarkan kepada para pelanggannya, masingmasing memiliki khasiat yang berbedabeda.  Ada jamu beras kencur, kunyit asam, manjakani, pahitan dan jamujamu bubuk lainnya. Dalam sehari ia mampu menjual hingga 60 gelas jamu. Harga jamu yang ditawarkan oleh Suparti juga sangat ramah di kantong, Rp 3 – 5 ribu per gelas. Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi pelanggan jamu Suparti sehingga jamu yang ia jajakan tidak pernah sepi peminat. (BBR)



Penulis :Sartika
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview