Jejak Lampau Sungai Rangkui

Admin
Jejak Lampau Sungai Rangkui
Foto :ilustrasi foto net

SUNGAI Pangkalpinang atau yang sekarang bernama Sungai Rangkui memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat Kota Pangkalpinang. Sebab awal berdirinya Pangkalpinang sebagai tempat kedudukan Demang pada 17 September 1757 memiliki peran sebagai pelabuhan pengumpul hasil bumi dan tambang timah dari berbagai wilayah di Pulau Bangka.

Komoditas tersebut diangkut baik melalui sungai maupun jalan darat ke Pangkalpinang yang kemudian dibawa sampai ke muara yang sekarang orang mengenal daerah tersebut Pangkalbalam. “Berdasarkan peta Pulau Bangka tahun 1819 atau pada saat awal Belanda kembali berkuasa di Pulau Bangka setelah serah terima dengan Inggris, pada bagian muara Sungai Rangkui yang terletak di dekat Sungai Baturusa (dahulu bernama Sungai Merawang) karena Sungai Rangkui bermuara di Sungai Baturusa itu sudah ada kantor atau jawatan yang menangani kepelabuhanan pada 1819,” ujar sejarawan, penulis sekaligus pegiat budaya Bangka Akhmad Elvian.

Bahkan menurut Elvian, Sungai Rangkui sampai dengan tahun 1970 masih bisa dilayari oleh kapal barang dan kapal nelayan sampai dengan jembatan dekat Bank BNI. “Disamping fungsinya sebagai sarana transportasi sungai juga memiliki fungsi sebagai pengendali banjir dan air genangan. Pada masyarakat yang tinggal di tepi sungai, seperti di Pelipur, Kampung Dalam, Pintu Air (Tebet) sungai juga memiliki fungsi untuk mandi dan mencuci.

Kalau dulu sungainya sangat jernih dan bersih, ikan, udang, buaya juga banyak. Sekarang mungkin pengaruh banyak tambang di hulu jadi keruh,” katanya. Menurut catatan yang ditulis pada tahun 1836 oleh Dr Frans F, seorang warga negara asal Jerman yang berkunjung ke Pangkalpinang menyebut bahwa Pangkalpinang sebagai kota yang kaya akan air dan hanya sehat pada saat musim kering atau kemarau karena sebagian wilayah Pangkalpinang merupakan daratan rendah, seperti Kampung Katak, Jalan Trem dan Lembawai.

Dikatakan Elvian, Sungai Rangkui memiliki banyak kelokan, ada sekitar 21 kelokan namun menurut peta  tofograļ¬ pada tahun 1928, Sungai Rangkui oleh Belanda dari pintu air Trem dibuat lurus sampai ke pintu air Tebet (dekat lapangan mandara) dengan diberi sepadan atau dinding batu kanan kiri sehingga kemudian berfungsi sebagai kanal pengendali banjir dan air genangan.

“Frans F. pada tahun 1953 dalam bukunya mengatakan untuk menjaga dan merawat sungai ditugaskan hampir 20 orang kuat, baik menjaga sungai rangkui, menjaga kebersihan, menjaga alur, termasuk juga menjaga pintu air, jadi benar-benar dirawat pada masa Belanda,” katanya. Sungai Rangkui masa lampau juga memiliki beberapa anak sungai, seperti aik ati, aik tiung dan aik kujut yang mungkin keberadaannya saat ini sudah hilang atau tersidemantasi.

Anak Sungai Rangkui juga memiliki peran yang penting dalam pengendali banjir ketika air laut pasang. Anak sungai berfungsi memperlambat masuknya air laut karena akan masuk ke anak sungai dan dalam hitungan beberapa jam kemudian air akan surut kembali. “Sungai Rangkui juga merupakan sungai bersejarah ketika perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir melawan Belanda.

Ketika Depati Walikota Siapkan Water Tourism Sungai RangkuiAmir dikepung ingin ditangkap di rumah Demang Abdurrasyid dalam kondisi sudah dikasih racun, Depati Amir masih bisa meloloskan diri melewati Sungai Rangkui tahun 1848.

Jadi sungai yang bersejarah tempat Depati Amir melarikan diri dari polisi, jaksa dan tantara Belanda,” Jelasnya. Setelah Indonesia merdeka, Pangkalpinang dibagi atas dua kecamatan, yakni Kecamatan Pangkalpinang 1 di sebelah utara yang kini terbagi atas Kecamatan Taman Sari, Pangkalbalam, Gabek dan Grunggang dan Pangkalpinang 2 di sebelah selatan yang kini terbagi atas Kecamatan Rangkui, Bukit Intan dan Giri Maya.

“Sungai Rangkui juga jadi batas wilayah administrasi, karena tiaptiap kecamatan itu secara administrasi pada tahun 50an dibagi atas berapa kenegerian kemudian dibagi atas beberapa blok. Ada 6 blok di Pangkalpinang 1 dan 6 blok di Pangkaklpinang 2,” terangnya. (BBR)


Penulis : Irwan
Editor   : Sanjay
Sumber :Babelreview