Jumlah Miliarder Dunia Tembus 3.000 Orang, Ketimpangan Kian Lebar

Jumlah miliarder di dunia pada 2025 resmi menembus angka 3.000 orang. Di tengah lonjakan tersebut, Elon Musk bahkan disebut-sebut berpeluang menjadi triliuner pertama di dunia.

Dalam setahun terakhir, sekitar 340 miliarder baru muncul secara global. Amerika Serikat menjadi negara dengan pertumbuhan kekayaan miliarder paling signifikan. Sepuluh orang terkaya di Negeri Paman Sam tercatat menambah harta hampir USD 700 miliar hanya dalam waktu satu tahun.

Bacaan Lainnya

Pengaruh para miliarder dalam politik Amerika Serikat juga semakin terlihat. Saat Presiden Donald Trump dilantik untuk kedua kalinya, sejumlah CEO teknologi ternama tampak duduk di barisan terdepan acara tersebut.

Beberapa tokoh superkaya bahkan masuk dalam kabinet dan mendorong kebijakan yang dinilai menguntungkan kalangan elite.

“Tahun 2025 adalah tahun yang luar biasa bagi para miliarder,” kata Rebecca Riddell, pemimpin kebijakan senior untuk keadilan ekonomi di Oxfam America, dikutip dari oxfamamerica.org, Sabtu (28/2/20208).

Lonjakan kekayaan ini terjadi di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, perumahan, biaya penitipan anak, hingga layanan kesehatan yang semakin membebani masyarakat.

Berdasarkan laporan Oxfam, sebanyak 12 orang terkaya di dunia kini menguasai harta yang nilainya melebihi total kekayaan separuh populasi global. Fakta ini kembali menyoroti jurang ketimpangan ekonomi yang semakin melebar.

Dalam laporan sebelumnya yang diterbitkan pada 2024, Oxfam menilai praktik sejumlah korporasi turut memperparah ketimpangan dan memperkaya pemilik modal. Tanpa pengawasan ketat dari pemerintah, dunia dinilai berisiko memasuki era yang disebut sebagai “supremasi miliarder.”

Perusahaan-perusahaan besar disebut aktif melakukan lobi, baik secara langsung maupun melalui asosiasi dagang, untuk melindungi kepentingan pemegang saham dan memaksimalkan keuntungan. Sepanjang 2024, perusahaan yang terafiliasi dengan 10 orang terkaya dunia tercatat menghabiskan sekitar US$88 juta untuk aktivitas lobi di Amerika Serikat.

Sebagian besar keuntungan perusahaan juga dinilai lebih banyak mengalir ke pemegang saham dibandingkan untuk investasi jangka panjang atau peningkatan kesejahteraan pekerja. Di sektor kesehatan AS, misalnya, sekitar 95% laba perusahaan besar dibagikan kepada pemegang saham.
Sumber : Liputan6.com

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *