Kepala BEI Babel: Jangan Ragu Lagi Berinvestasi Saham dan Modal Awal tidak Harus Besar

kasmirudin
Kepala BEI Babel: Jangan Ragu Lagi Berinvestasi Saham dan Modal Awal tidak Harus Besar
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Bangka Belitung Yoseph Kaburuan. (Foto: Irwan)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bangka Belitung Yoseph Kaburuan mengungkapkan, mengapa masyarakat masih banyak yang enggan atau ragu untuk menabung saham.

Dikatakan Yoseph, alasan masyarakat pertama adalah masih banyak yang beranggapan menabung saham sama dengan berjudi. Padahal nabung saham adalah sebuah investasi yang berbeda dengan perjudian.

“Banyak orang berfikir saham itu judi padahal berbeda, kalau judi itu ada pihak yang diuntungkan dan ada pihak yang dirugikan tentu sangat berbeda dengan nabung saham dimana uang yang kita investasikan sejalan dengan perkembangan perusahaan, kalau perusahaannya berkembang baik maka semua pemegang sahamnya untung karena nilai sahamnya naik, begitu pun sebaliknya nilai sahamnya juga bisa turun,” jelas Yoseph dalam Media Gathering Investival, Kamis (24/10/2019) malam di Bebek Tepi Sawah Pangkalpinang.

Alasan kedua adalah masih banyak orang yang beranggapan menabung saham butuh modal yang besar. Padahal menurut Yoseph nabung saham tidak harus dengan modal besar bahkan BEI siap memfasilitasi pembukaan rekening dan investor bisa trial (mencoba) buka rekening dan mendapat subsidi Rp 100 ribu serta belajar langsung bagaimana membeli saham perusahaan yang sudah terdaftar di pasar modal. 

Baca Juga: Mau Belajar Nabung Saham, Inilah Lokasi dan Tanggal Festival Investasi di Pangkalpinang

“Setiap kali sosialisasi kita mengajak masyarakat berfikir logikanya nilai uang makin lama makin berkurang, karena adanya inflasi jadi bagaimana uang ini tidak berkurang nilainya untuk masa depan. Caranya adalah kita sebagai pribadi atau kepala keluarga harus tau uangnya tidak hanya di tabungan tapi uangnya diinvestasikan dalam bentuk saham perusahaan, ketika dia sudah beli saham perusahaan maka nilai uang yang ia miliki akan berkembang seiring perusahaan itu berkembang. Kalau tabungan rata-rata per tahun memberikan bunga 2,5 persen, sedangkan inflasi bisa naik lebih tinggi dari itu secara rata-rata,” ungkapnya.

Dikatakan Yoseph, saham menjadi salah satu produk pasar modal Indonesia menjadi pilihan yang tepat bagi investasi masyarakat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan IHSG yang cukup tinggi dalam 1 dekade terakhir. Pertumbuhan investor di pasar modal juga cukup signifikan. Per tanggal 30 September 2019 tercatat investor di Indonesia sudah mencapai 1.015.062 SID yang berarti telah menembus angka satu juta investor.

“Tentu angka itu tidak berhenti disitu saja, namun terus tumbuh mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia yang sudah diatas 250 juta jiwa,” katanya.

Kasmirudin, karyawan sebuah media lokal ini sejak 2018 berfikir cermat mengelola keuangannya dengan berinvestasi menabung saham. Modal awalnya pun tidak besar hanya Rp 1 juta untuk membeli saham beberapa perusahaan di pasar modal, salah satunya adalah perusahaan penerbangan milik negara Garuda Indonesia yang memiliki kode emiten saham GIAA.

“Buka rekening tidak sulit kita datang saja ke kantor BEI disitu ada beberapa perusahaan sekuritas yang sudah terjamin, kita mau konsultasi juga bisa nanti dilayani dengan baik. Saya tertarik membeli saham Garuda Indonesia karena perusahaan itu sedang berkembang baik dan nilai saham saya pun meningkat,” aku Kasmirudin. (BBR)


Penulis  : Kasmir
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review