Kisah Nyata: Penjual Bubur Ayam Ini Marah, Pahalanya Mau Direbut Orang Lain

Kusuma Jaya
Kisah Nyata: Penjual Bubur Ayam Ini Marah, Pahalanya Mau Direbut Orang Lain
ilustrasi. (ist)

BABELREVIEW.CO.ID -- HARI itu hari Jumat. Jam di tangan baru saja menunjukan pukul 06.50 WIB. Masih pagi pikirku. Sementara perut mulai mrengek minta diisi.

Daripada perut terus bergemuruh, Aku paksakan diri untuk mampir di Warung Bubur Ayam, kebetulan jaraknya sekitar 1,5 Km dari kantorku.

Warung si Bung (begitu biasa saya memanggilnya). Warung ini hanya berukuran 2 m x 4 meter saja. Warung yang tidak luas ini berbagi tempat antara dapur dan meja pelanggan.

Kursi plastik berjejer rapi di dalam warung. Sedangkan di bagian belakang (nempel ke dinding) ada kursi kayu berbentuk U.

Pagi itu warung masih sepi, atau memang sebagian sudah pulang, karena tidak mau menunggu aku datang (he..he). Aku ambil kursi di sudut kanan warung, karena kebetulan hanya aku seorang yang berada di warung itu.

Aku pesan satu mangkok bubur dan segelas kopi susu, biasalah makanan yang kebetulan aku sukai akhir-akhir ini.

Tidak menunggu lama, --karena aku memang tidak meminta kepada pemilik warung untuk tambahan waktu – semangkok bubur ayam dan segelas kopi susu mampir di mejaku.

“Mau ke kantor Bang?,” tegur Si Bung pemilik warung ramah, sembari meletakan semangkok bubur dan segelas kopi susu.

“Ya, tapi perut ini mau diisi dulu. Agar cacing-cacing tidak bergemuruh,” gurauku sembari tersenyum.

Uap bubur ditambah uap kopi susu hangat membuat perut langsung berbunyi minta segera diisi. Selesai mengaduk sekedarnya, buburpun masuk ke mulutku sendok persendok suapan.

Sedangkan kopi susu di samping kanan tampaknya juga sudah minta dihirup. Tetapi karena masih panas, aku hanya mengaduknya saja agar panasnya berkurang.

Baru setengah bubur kumakan, tiba-tiba Aku melihat dua orang (satu pria dan satu wanita) mendekati warung.

“Mampir Bu, Pak,” ajak si Bung pemilik warung. “Silahkan duduk, mau makan apa, minum apa,” tanya Si Bung ramah.

Sejurus kemudian, si pria dan wanita tadi duduk di bagian depan warung. Si pria meminta bubur ayam. Sedang si wanita tiada bersuara kecuali hanya duduk di kursi plastik samping meja si Bung biasa membuat kopi pesanan pelanggan.

“ Ini buburnya pak,” ucap Si Bung sembari meletakkan satu mangkok bubur di hadapan si Pria.

Jika melihat penampilan...

  • Halaman
  • 1
  • 2
  • 3