Kisah Perawat Wisma Karantina Covid-19, Diawali Doa Pagi Hari Dan Ditutup Video Call Malam Hari

Ahada
Kisah Perawat Wisma Karantina Covid-19, Diawali Doa Pagi Hari Dan Ditutup Video Call Malam Hari
Para petugas medis di Karantina Covid-19 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (Ist)
"... kadang mereka sempat bercerita menyampaikan keluhan, misalnya susah tidur dan sebagainya. Kegiatan semacam inilah yang kita lakukan sebagai support sistem. Ini juga mungkin yang membedakan perawat di rumah sakit dan karantina.."
Sayang Permatasari
Koordinator Keperawatan Wisma Karantina Covid-19 Provinsi Bangka Belitung
 
PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Selama para pasien berjuang melawan Covid-19, tentu akan banyak kisah dan cerita terukir, baik kisah duka maunpun suka.
 
Tak bisa dipungkiri, bahwa pengalaman dimasa pandemi Covid-19 ini,  akan punya cerita dimasa depan.Setiap orang pasti memiliki pengalamannya masing-masing dalam berjuang melawan Covid-19, begitu juga pasien dan para tenaga medis. 
 
Jurnalis Babel Review berkesempatan berbincang dengan Koordinator Keperawatan Wisma Karantina Covid-19 Provinsi Bangka Belitung, Sayang Permatasari.
 
Namanya indah dan juga unik, seperti suaranya kala menceritakan suka duka bertugas di Wisma Karantina, ketika merawat sejumlah pasien baik yang terkonfirmasi positif Covid-19 atau yang beresiko Covid-19.
 
Kepada Babelreview, Ayang panggilan akrab Sayang Permtasari ini, berbagi cerita kepada Babelreview tentang aktivitas dan keseruan yang ada di Wisma Karantina selama merawat pasien yang ada.
 
Dari suaranya, Ia begitu bersemangat dan cukup mengagetkan Babel Rebiew, setidaknya hal ini menunjukkan sesuatu yang positif di Wisma Karantina.
 
Kepada Babelreview, Ayang mengawali ceritanya dengan aktivitas Wisma Karantina pada pagi hari, dimana setiap pagi para petugas selalu melakukan briefing dengan ketua tim, perawat serta cleaning service sembari memanjatkan doa bersama untuk mengawali segala aktivitas.
 
Setelah itu para petugas akan melakukan observasi pasien,  mulai dari pemeriksaan suhu tubuh, tekanan darah, dan pertanyaan seputar keluhan pasien.
Untuk observasi sendiri, Ayang mengungkapkan diawali dari cluster di Wisma 3, dimana dihuni pasien yang sedang dalam proses penyembuhan dan sudah tidak ada gejala klinis serta hasil swab-nya biasanya sudah negatif.
 
Kemudian dilanjutkan observasi di cluster kedua yakni Wisma 4, dimana dihuni oleh pasien yang terkonfirmasi positif. 
 
Setelah dilakukan Observasi dan Visiter Dokter, beberapa pasien dengan status rapid reaktif atau masa recovery diperbolehkan melakukan olahraga ringan, disela itu para petugas membersihkan kamar mereka, baru mereka balik ruangan. 
 
Hanya saja untuk pasien terkonfirmasi positif belum diizinkan untuk keluar ruangan, jadi pasien ini  masih melakukan aktivitasnya di dalam ruangan termasuk olahraga.
 
"Setelah aktivitas tersebut, perawat akan melakukan pencatatan laporan di lembar perawatan, serta dokter mencatat perkembangan kondisi pasien," katanya.
 
Dikarantina sendiri, saat ini ada 10 orang yang bertugas shift-shiftan dalam melaksanakan tugas jaga, dimana pagi hari ada 3 petugas, siang 4 petugas dan malam 3 petugas.
 
Hal tersebut dilakukan setiap harinya secara bergantian dan merekapun melakukannya dengan senang hati, apalagi banyak dari mereka adalah freshgradaute yang semangatnya masih sangat luar biasa.
 
"Alhamdulillah selama ini berjalan lancar, para perawat juga senang sekali merawat para pasien. Tak hanya altivitas di pagi hari, pada Bulan Ramdhan ini, petugas shift sore setiap harinya akan menyiapkan makan minum untuk berbuka puasa pasien sekaligus pembagian obat karena semua pasien harus rutin mengkonsumsi suplemen dan vitamin serta obat kepada pasien yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau yang selama ini mendapat pengobatan rutin seperti Diabetes Melitus," ungkapnya.
 
Pada malam harinya, petugas akan melakukan observasi kembali, tapi bukan ke kamar-kamar pasien tetapi observasi melalui via telpon atau video call.
 
Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kedekatan antara petugas dan para pasien, sehingga para pasien merasa nyaman selama masa perawatan di Wisma Karantina.
 
"Malamnya mereka kita observasi, lewat telpon atau video call.  Jadi kami punya WA Group antar perawat dan pasien.  Kalau ada keluhan mereka langsung bisa sampaikan," katanya.
 
"Bahkan di sesi tersebut, kadang mereka sempat bercerita menyampaikan keluhan, misalnya susah tidur dan sebagainya. Kegiatan semacam inilah yang kita lakukan sebagai support sistem. Ini juga mungkin yang membedakan perawat di rumah sakit dan karantina, dengan komunikasi dua arah ini, walau tidak ketemu langsung jadi menambah semangat untuk mereka dan muncul kedekatan juga antara kami dan mereka," tambahnya.
 
Dengan kedekatan itu pun, saat ini para pasien tak canggung untuk bersenda gurau,  baik itu kepada perawat atau cleaning service.
Bahkan saking dekatnya para pasien pun telah mengenal nama-nama para petugas, begitu pun sebaliknya.
 
"Kadang pasien nanya, kalo ada petugas yang mungkin tengah tidak bertugas. Hal ini tentu jadi kepuasan tersendiri bagi kami. Artinya apa yang kami lakukan mereka apresiasi. Menurutku juga secara etika itu sangat bagus, dengan saling mengenal artinya ada kedekatan. Bahkan jujur kadang saya pribadi lagi di rumah kepikiran para pasien di wisma lagi ngapain. Hal-hal semacam itu muncul secara spontan seiring berjalannya waktu," tuturnya.
 
Kendati demikian, Ayang tak menampik banyak pula tantangan yang harus dilewati selama merawat pasien di Wisma Karantina.
Terutama terkait dengan protokol Covid-19, karena disini sangat diutamakan kehati-hatian saat melaksanakan tugas. Sebagaimana di ketahui bahwa penyakit ini mudah menular, jadi memang harus berkonsentrasi.
 
Tak hanya itu, selama bertugas pun pihaknya juga dituntut untuk sabar dalam menjalankan tugas, karena setiap pasien memiliki sistem imun yang berbeda dalam melawan virus ini.
 
Jadi tidak bisa ditentukan berapa lama masa perawatan. Kadang ada yang cuma 14 hari ada juga yang sampai satu bulan lebih. 
Karena itu, Ayang dan teman-temannya harus mampu memberikan pengertian dan keyakinan agar suasana hati pasien baik dan optimis untuk sembuh.
 
"Disini kita juga dituntut fokus untuk menjaga mood dan emosi pasien biar mereka tidak depresi, karena ruang gerak mereka kan dibatasi. Bahkan ketemu kami saja mereka juga gak bisa bertemu selayaknya orang biasa bertemu. Maka itu kami biasanya vidio call, cerita-cerita, bercanda kadang karokean juga lewat vidio call jadi kami membangun hubungan seperti teman atau keluarga mereka," imbuhnya.
 
Hal ini dilakukan para perawat tak lain, karena rasa kepedulian dan rasa sayang terhadap para penghuni Wisma Karantina.
Melalui transfer kebahagian yang dirasakan pasien, diharapkan dapat meningkatkan Imun tubuh mereka sehingga dapat mempercepat masa kesembuhan.
 
"Dahulu saat pasien di sini belum banyak, kita ada sesi atau kegiatan keagamaan, jadi para pasien ditelpon diberikan kajian-kajian oleh tokoh agama, tapi karena sekarang sudah banyak, jadi kami kirim rekaman atau kajian tentang banyak hal seperti kesabaran menghadapi ujian serta sakit. Jadi disini memang banyak treatment kemental dan psikologi," katanya lagi.
 
Bahkan, kata Ayang, awal-awal pasien ini datang di Wisma Karantina, mereka sangat tertutup diajak ngobrol. 
 
"Namun lama-lama karena kami terbuka, jadi mereka juga terbuka, kadang mereka yang langsung ngomong,  jadi sampai saat ini komunikasi yang diciptakan oleh anak-anak perawat sangat efektif khususnya untuk meningkatkan imunitas tubuh," sebutnya.
 
Selain memberikan treatment kepada pasien, para petugas juga diberikan treatment dimana satu minggu sekali para petugas ada kegiatan In House Training, perawat dan dokter diberikan Informasi mulai dari yang memakai atau melepas APD yang benar sampai dengan manajemen konflik dan komunikasi.
 
Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik antar perawat, karena tidak menutup kemungkinan sesama perawat berkonflik, apalagi intensitas bertemunya cukup sering.
 
Selain itu juga dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan para perawat dapat menciptakan suasana kerja yang nyaman dan aman untuk petugas dan pasien.
 
Saat disinggung tentang suka dan dukanya, Ia nampak tak antusias mengungkapkan duka yang terasa, karena baginya tidak ada duka yang dirasakan, hanya mungkin gerak saja yang sedikit terbatas, ditambah lagi orang lain jadi segan bertemu. Justru banyak suka yang terucap dari Ayang kepada Babel Review.
 
Ia melihat para petugas khususnya perawat punya obsesi tinggi ingin merawat pasien disituasi wabah seperti saat ini.
Karena menurutnya tidak semua perawat dan dokter punya pengalaman yang berharga seperti ini, mulai dari pengalaman menggunakan APD lengkap hingga merawat pasien Covid-19. (BBR)

Laporan: Diko Subadya