Kopi, Pintu Penebus Malu, Dan Tikar Bertandang

Ahada
Kopi, Pintu Penebus Malu, Dan Tikar Bertandang
Akhmad Elvian Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung. (IST)

Kopi, Pintu Penebus Malu, Dan Tikar Bertandang

Oleh: Akhmad Elvian
Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung



BABELREVIEW.CO.ID -- Masyarakat Bangka dengan budayanya yang berbasis darat (land base culture) dan berbasis bahari (sea base culture) "sangat terbuka" terhadap pengaruh luar, bahkan "gastvrijheid" asal tidak mengganggu dan merusak tatanan budayanya.

Simbol keramahan tersebut tampak pada komponen komponen rumah vernakuler orang Bangka dan lingkungan serta budayanya dengan nama dan makna yang luar biasa, mulai dari rimbak, rebak, bebak, kubak,  kelekak, tumbak, marung, panggung, bubung, kampung, nganggung, lamen, perenggen, antang antang, tangga, tunggu, tinggal, luntang, lantung, jerjak,  alang, siku, sinto, liper, tiang, tunjang angen, rabung,atap, mengkawan, gelegar, tibek, pasak, palas, pepare, pintu penebus malu dan lain sebagainya.

Pintu Penebus malu merupakan pintu yang dibuat orang Bangka pada samping rumah bagian belakang.

Fungsi pintu ini digunakan apabila ada tamu berkunjung ke rumah dan kopi dan gula di rumah habis, dan untuk menyiapkan hidangan kopi (biasanya Kopi dibuat dengan cara ditangger) ke tamu, maka tuan rumah pergi pinjam kopi dan gula ke tetangga kiri- kanan rumah. Kopi dihidangkan biasanya di atas *tikar bertandang*, yang khusus dihamparkan sebagai lambang kehangatan dan keramahtamahan (gastvrijheid) tuan rumah yang ingin berlama lama menerima tamu di rumah.

Berbeda maknanya bila tamu dihidangkan teh atau air putih, apalagi air putih dingin. Kopi juga biasanya dihidangkan bersama panto (pasangan atau temannya kopi) berupa penganan ringan kue khas Bangka (rintak sagu, sempret, semprong) yang sering juga disebut dengan kanti ngupi.  Makanya adat kita harus berbaik baik dengan tetangga.

Geestelijke overwicht, merupakan jatidiri atau identity  yang harus dilestarikan menjadi dignity karena merupakan marwah yang agung dan luhur. Berdasarkan laporan residen Belanda Algemeen Verslag der Resident Banka 1851 telah dilakukan penelitian terhadap tanaman Kopi di pulau Bangka dan hasil penelitian menyatakan, bahwa Kopi tumbuh subur di pulau Bangka dan produktif menghasilkan berbuah, akan tetapi kualitas Kopi yang dihasilkan masih kalah dengan kualitas kopi dari daerah lainnya dan pemerintah Hindia Belanda menyarankan silakan Kopi ditanam di pulau Bangka khusus untuk dikonsumsi lokal saja.

Kebiasaan minum Kopi juga belaku bagi pekerja tambang (parit) Timah orang Tionghoa di pulau Bangka.

Dikenal istilah *Kopi Pan chok* yaitu minum Kopi yang dilakukan saat istirahat setelah bekerja setengah hari di lokasi tambang (parit Timah) atau telah bekerja setengah kung/kong.

Karena waktu minum kopi yang terbatas oleh lamanya waktu istirahat karena pekerja harus kembali mengerjakan satu hari atau satu kung/kong, maka kopi biasanya dibagi secangkir untuk diminum berdua.

Istilah kopi Pan Chok, lama kelamaan sering disebut kopi pancung dan bahkan di Kalimantan Barat dikenal istilah kopi pangku yang sekarang berkonotasi negatif, mungkin juga berasal dari istilah kopi Pan Chok dalam dialek Hakka. (BBR)