Masjid Baitul Hikmah Masjid Unik Tanpa Kubah

Admin
Masjid Baitul Hikmah Masjid Unik Tanpa Kubah
Foto :(Buditio)

Bangka Barat, BabelReview -- Berdiri di atas tanah seluas 5.300 meter persegi, bangunan ini tampak begitu mencolok apabila masyarakat melewati jalan utama menuju Pelabuhan Tanjung Kalian, Muntok, Bangka Barat. Bangunan itu hanya didominasi warna hijau dan putih. Masjid Baitul Hikmah nama bangunan itu. Berdiri dengan dengan arsitektur unik, bangunan ini tampak menarik jika kita melewatinya.

Tanpa menggunakan bentuk kubah atau limasan seperti lazimnya bentuk masjid pada umumnya. Dengan luas bangunan  600 meter persegi, masjid dengan jendela dan pintu kaca ini memberikan kesan sejuk dan lega. Masjid yang terletak pada jalan utama sebelum menuju Pelabuhan Tanjung Kelian ini sering menjadi tempat singgah untuk beribadah bagi para pelintas yang akan menyeberang ke Pulau Sumatera.

Apalagi halaman masjid ini cukup luas untuk menampung kendaraan. Pengurus Masjid Baitul Hikmah, Raup bin Wijaya menuturkan, bahwa pembangunan masjid ini memakan waktu kurang lebih 2 tahun dengan pembiayaan dari sumbangan PT. Timah dan para karyawan pada tahun 1970.

Di sisi kiri depan masjid ini tertera tulisan “Perletakan Batu Terachir, tgl 3 Djuli 1970” untuk menandakan berdirinya masjid ini. Semenjak itulah ia  menjadi pengurus masjid. Berarti saat ini kurang lebih sudah 48 tahun, raup turut menjaga dan merawat Masjid Baitul Hikmah ini.

"Masjid Baitul Hikmah ini menjadi pusat kegiatan bila ada acara yang menghadirkan penceramah nasional, karena memang dapat menampung jamaah yang lumayan banyak," ujar kakek berusia 75 tahun ini.Menurut Raup, awalnya bangunan utama Masjid Baitul Hikmah hanya seluas 15 x 21 meter, kemudian pada 2011 dilakukan perluasan sehingga mencapai ukuran seperti sekarang ini.

Daya tampung jemaah di bagian dalam masjid bisa mencapai 500 orang, sedangkan di halaman bisa lebih dari 1.000 orang. “Selama bulan ramadhan tahun ini Masjid Baitul Hikmah mengadakan kegiatan kajian singkat sebelum menjalankan sholat tarawih. Untuk pembicara itu dari berbagai sumber, baik itu tokoh masyarakat, tokoh agama, bupati, ketua DPRD, kepolisian dan lainlain,” tutup Raup menyudahi pembicaraan dengan Babel Review sembari menunggu saat berbuka puasa.(BBR)


Penulis :Buditio
Editor   :Sanjay
Sumber :Babelreview