Masuk Zona Hijau, Belitung Timur Bisa Terapkan New Normal

kasmirudin
Masuk Zona Hijau, Belitung Timur Bisa Terapkan New Normal
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Babel, Andi Budi Prayitno. (Foto: Istimewa)

PANGKALPINANG, BABELREVIEW.CO.ID -- Kabupaten Belitung Timur menjadi satu-satunya kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang di diberikan izin dan kewenangan oleh pemerintah pusat, untuk menerapkan gaya hidup new normal (kenormalan baru) di tengah pandemi Covid-19.

Dipilihnya Kabupaten Belitung (Beltim)oleh pemerintah pusat, tentunya dengan beberapa alasan dan dasar pertimbangan.

"Dipilihnya Beltim sebagai daerah yang diberi izin menerapkan new normal, salah satunya barangkali karena Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional mencatat Beltim saat ini berada di Zona Hijau," kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC-19) Babel, Andi Budi Prayitno, Senin (1/6/2020).

Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang ada di Beltim hanya terdapat 1 kasus konfirmasi positif Covid-19 (OH, laki-laki, 61 tahun), dan saat ini pasien tersebut sudah dinyatakan sembuh sejak Jum'at (22/6/2020) pekan lalu.

" OH sendiri bukan warga atau penduduk Beltim, namun yang bersangkutan adalah warga Bekasi, Jawa Barat, yang bekerja di perusahaan tambang pasir yang berlokasi di Beltim. Setelah kasus ini, sama sekali tidak ada kasus positif Covid-19 di Beltim," jelas Andi.

Meski begitu, Andi mengatakan Covid-19 ini adalah masalah pandemi yang melanda hampir seluruh negara di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, memang tidak ada jaminan bahwa Beltim benar-benar bersih dari Covid-19.

Apalagi penerapan new normal memang bukan perkara mudah. Karena terdapat sejumlah syarat yang musti dipenuhi oleh Pemkab Beltim, agar pelaksanaan new normal berjalan lancar sesuai yang diharapkan, yakni melakukan sosialisasi, edukasi hingga simulasi new normal.

"New normal bukan sesuatu yang serta merta dikatakan secara sepihak oleh kepala daerah atau mengklaim, bahwa kenormalan baru sudah berjalan dan dilakukan di daerahnya, tidak seperti itu," ungkapnya.

Pria yang akrab disapa ABP ini menyebutkan, setidaknya tidak ada tiga hal yang wajib diperhatikan dalam penerapan menuju new normal.

Pertama, aspek epidemiologi, bahwa daerah tersebut harus mengalami penurunan kasus di atas 50 persen dari kasus puncak dalam tiga minggu terakhir.

  • Halaman
  • 1
  • 2