Memahami Burnout dalam Akuntansi

kasmirudin
Memahami Burnout dalam Akuntansi
Nazia. (Mahasiswa Akuntansi UBB)

ERA globalisasi saat ini penuh dengan persaingan antara satu organisasi dengan satu organisasi lainnya. Juga terdapat persaingan di dalam organisasi itu sendiri. Jika karyawan dalam sebuah perusahaan tidak mampu beradaptasi atau pun bersaing maka akan menyebabkan perusahaan tersebut mengalami penurunan dalam beberapa segi yaitu produktivitas, kualitas, dan profit. Padahal profitabilitas menjadi salah satu tolok ukur dalam kinerja keuangan.

Kinerja dari preseptif keuangan sangatlah akurat dalam mengukur kinerja seluruh perusahaan. Faktor yang menjadi penggerak nilai dari keuangan tersebut adalah sumber daya manusia (human capital) dengan segala pengetahuan, ide, dan inovasi yang dimilikinya (Mayo, 2002). Pencapaian kinerja yang baik seorang karyawan harus sesuai dengan standar yang telah ditentukan, di antaranya kualitas kerja yaitu dapat menyelesaikan pekerjaan dengan seluruh kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh karyawan. Kemudian kuantitas kerja; hasil kerja yang dilakukan oleh karyawan mencapai dari target yang telah ditentukan oleh perusahaan.

Untuk menghasilkan kinerja yang baik, para karyawan harus siap bekerja di bawah tekanan dan berbagai tuntutan yang diberikan oleh perusahaan. Dalam berbagai hal, tuntutan karyawan termasuk juga ke dalam tekanan, seperti tuntutan waktu dan beban kerja. Adapun faktor lain yang menyebabkan tekanan bagi karyawan adalah pimpinan yang terlalu banyak menuntut dan tidak bersahabat dengan para karyawannya. Aspek-aspek tersebut kemudian disebut dengan istilah stressor. Stressor adalah faktor-faktor yang menyebabkan stress pada seseorang (George & K.A., 2015).

Dalam penelitian (Smith Dary & Everly, 2006) terungkap, bahwa terdapat dua mediator yang layak dalam kaitannya terhadap stres peran dan hasil pekerjaan akuntan yaitu burnout (Forgrty et al., 2000) dan stress arousal Smith, Everly, & Johns, 1993). Stres dapat dianggap sebagai stres positif yang disebut eustress dan stres negatif yang disebut distress (George & K.A., 2015). Stres yang bersifat positif dapat memberikan rangsangan kepada para karyawan untuk bekerja keras, sedangkan stres yang bersifat negatif dapat mempengaruhi kesehatan dan kinerja karyawan.

Burnout merupakan salah satu mediator yang berkaitan terhadap stres seorang karyawan. Burnout adalah respon terhadap situasi emosional dan interpersonal kronis jangka panjang yang mendera seseorang yang berkaitan dengan faktor-faktor pekerjaan (Freudenberger, 1974). Burnout terdiri dari tiga dimensi yaitu: kelelahan emosional, depresonalisasi, dan penurunan prestasi kerja.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya burnout menurut Leiter & Maslach (1997) meliputi:

  1. Work overload, yaitu kemungkinan terjadi akibat ketidaksesuaian antara pekerja dengan pekerjaannya. Ketika pekerja terlalu banyak melakukan pekerjaaan dengan waktu yang sedikit, sedangkan overload terjadi karena pekerjaan yang dikerjakan melebihi kapasitas kemampuan mausia yang memilik keterbatasan.
  2. Lack of work control, yaitu adanya aturan yang membuat pekerja memiliki batasan dalam berinovasi dan merasa kurang memiliki tanggung jawab dengan hasil yang mereka dapat karena kontrol terlalu ketat dari atasan.
  3. Rewarded for work, kurangnya apresiasi dari lingkungan kerja yang membuat pekera merasa tidak bernilai. Apreasiai bukan hanya dilihat dari peberian bonus, tetapi hubungan yang terjalin baik antara pekerja.
  4. Breakdown in community, pekerja yang kurang memiliki rasa belongingness terhadap lingkungan kerjanya (komunitas) akan menyebabkan kurangnya rasa keterikatan positif di tempat kerja.
  5. Treated fairly, perasaan diperlakukan tidak adil.
  6. Dealing with conflict values, pekerjaan dapat membuat pekerja melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai mereka.

Supaya burnout tidak terjadi diperlukan hubungan yang baik antara atasan dan bawahan agar dalam melaksanakan pekerjaannya karyawan bekerja dalam keadaaan tidak terpaksa ataupun sembarangan. Namun untuk mencegah terjadinya burnout dari dalam diri karyawan harus sebisa mungkin mengontrol agar hal seperti stress dan kelelahan terhadap pekerjaan tidak terjadi. Sehingga jika semua hal tersebut telah teratasi, maka burnout tidak akan terjadi dan tidak akan merugikan siapa pun. (BBR)


Penulis  : Nazia. (Mahasiswa Akuntansi UBB)
Editor    : Kasmir
Sumber : Babel Review