Menelusuri Jejak Masuknya Islam di Wilayah Selatan Pulau Bangka (Bagian I)

Ahada
Menelusuri Jejak Masuknya Islam di Wilayah Selatan Pulau Bangka (Bagian I)
Menelusuri kawasan Makam Jati Sari di Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (Ist)
Menelusuri kawasan Makam Jati Sari di Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (Ist)
Menelusuri kawasan Makam Jati Sari di Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (Ist)
SIMPANG RIMBA, BABELREVIEW.CO.ID -- Kepulauan Bangka Belitung disebutkan sudah bersentuhan dengan Islam sejak abad ke-9 Masehi. Namun pada saat itu Islam belum masuk dan dianut oleh masyarakat Pulau Bangka maupun Pulau Belitung.
Bukti-bukti arkeologis dan sejarah justru mengungkapkan fakta, bahwa Islam baru mulai masuk di kepulauan ini sejak abad ke-18 Masehi.
Namun demikian, darimana Islam masuk ke Bangka dan siapa yang membawanya belum diketahui secara pasti. 
Untuk cerita ini, kami mencoba menelusuri masuknya Islam di Bangka Selatan atau tepanya bagian selatan dari Pulau Bangka ini. 
Menurut berbagai sumber, bukti Bangka Selatan masuk dalam wilayah penyebaran Islam, dengan adanya salah  satu bukti yakni Makam Jati Sari.
Makam Jati Sari inu termasuk dalam wilayah Desa Malik Kecamatan Payung Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Namun sebagian masyarakat menyebut lokasi makam ini ada di Desa Bangka Kota Kecamatan Simpang Rimba.
Makam ini berupa kompleks di atas bukit. Pada cungkup pertama terdapat sembilan makam utama.
Walaupun disekelilingnya diyakini masih masih banyak terdapat makam-makam yang lain, namun masyarakat dan peziarah menyebut situs ini Kompleks Makam Jati Sari.
Keberadaan makam ini menjadi daya tarik bagi masyarakat Kecamatan Simpang Rimba dan sekitarnya, bahkan dari luar daerah juga sering berkunjung ke kawasan Makam Jati Sari.
Akses menuju makam bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua, roda empat dan perahu melalui Sungai Bangka Kota.
Bila menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, kita akan melewati perkebunan sawit dengan persimpangan yang cukup membingungkan.
Meski kita sudah pernah mengunjunginya, tidak heran kita juga bisa tersesat karena banyaknya persimpangan, kecuali ingatan kita cukup tajam untuk mengingat jalan-jalan yang telah kita tempuh.
Pada Minggu (12/7/2020), bersama tim Bekaes Budaya Bangka Belitung dengan seorang keturunan ke 10 dari Jati Sari yaitu Habib Muhammad Iqbal dan seorang penulis buku  "Korpus Mapur Dalam Islamisasi Di Bangka" Teungku Sayyid Deky yang kami daulat sebagai narasumber.  
Bersama kedua Habib ini kami mencoba mengungkap sedikit tentang keberadaan makam ini.
Saat memasuki area makam, kami disambut guyuran hujan gerimis  yang membuat pakaian kami  basah, namun tidak sedikitpun menyurutkan niat kami untuk mengungkapkan keberadaannya.
 
Memasuki kompleks pemakaman, kami..
 
  • Halaman
  • 1
  • 2