Menelusuri Jejak Peradaban Islam (2); Musholah Itu Seolah Tegak di Depan Kami (bersambung)

Ahada
Menelusuri Jejak Peradaban Islam (2); Musholah Itu Seolah Tegak di Depan Kami (bersambung)
Tim Bekaes Budaya Bangka Belitung bersama seorang keturunan ke sepuluh dari Jati Sari yaitu  Muhammad Iqbal dan penulis buku 
Tim Bekaes Budaya Bangka Belitung bersama seorang keturunan ke sepuluh dari Jati Sari yaitu  Muhammad Iqbal dan penulis buku 
Tim Bekaes Budaya Bangka Belitung bersama seorang keturunan ke sepuluh dari Jati Sari yaitu  Muhammad Iqbal dan penulis buku  "Korpus Mapur Dalam Islamisasi Di Bangka" Teungku Sayyid Deqy melakukan ekspedisi, Minggu (12/7/2020). (Kulul)

SIMPANGRIMBA, BABELREVIEW.CO.ID -- Keberadaan Makam Jati Sari yang menjadi pusat ziarah di wilayah Kecamatan Simpang Rimba, memiliki jarak yang cukup jauh dari  pemukiman penduduk.

Pengunjung yang datang beragam, termasuk juga tujuan warga ini beragam dengan berbagai karakter yang berbeda.

Pada hari Minggu (12/7/2020), Tim Bekaes Budaya Bangka Belitung bersama seorang keturunan ke sepuluh dari Jati Sari yaitu  Muhammad Iqbal dan penulis buku  "Korpus Mapur Dalam Islamisasi Di Bangka" Teungku Sayyid Deqy melakukan ekspedisi ini.

Sebelumnya kita telah menyusuri dua kolam tempat wudhu. Disamping kolam tempat wudhu laki-laki, disisi ini kita menemukan gundukan tanah yang agak tinggi  yang ditumbuhi pohon-pohon dan rumput-rumput liar.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Teungku Sayyid Deqy, gundukan tanah ini adalah bekas Musholla. 

"Musholla/langgar terbuat dari kayu, sehingga tidak ditemukan sisa bangunan,  kecuali struktur lantai yang terbuat dari batu lokal yang dihampar dibelakang kolam wudhu.  Terdapat satu batu pijakan kaki untuk masuk ke langgar terbuat dari batu andesit persegi panjang dengan permukaan halus," ungkapnya.

Dalam benak kami sempat membayangkan seolah-olah bangunan Mushollah itu berada tepat di depan mata, dengan posisi menghadap ke arah kiblat.

Deky melanjutkan penjelasannya tentang struktur lantai Musholla /langgar.

"Struktur lantai bekas Mushollah atau langgar terbuat dari Batu Andesit dan sebagian besar adalah batuan lokal berwarna merah, dengan di susun rata diatas permukaan tanah," ujarnya.

Setelah menyisir bekas Mushollah / langgar  dan hujanpun tetap setia mengguyur  mengiringi aktifitas kami, penyusuran  terus kami lanjutkan untuk menguak jejak-jejak peradaban masa lalu.

Selanjutnya kami menuju ke Tenggara  makam utama. Disisi lembah ini ada satu makam yang  berbeda dari yang lain.

Dan oleh masyarakat makam ini dibuat pondok beratap asbes dengan tiang penyanggah sebesar lengan orang dewasa dari kayu seruk atau puspa yang ditancapkan, sehingga kayu ini tumbuh tunas kecil-kecil yang masih hidup.

Dimakam ini menurut Deqy bersemayam  seorang ulama perempuan tanpa nama dan belum diketahui namanya.

"Makam yang tersendiri ini disebut dengan makam soliter bercungkup,  dengan nisan tipe aceh (acehstones) seri F terbuat dari batu kapur.  Makam ini berbentuk papan untuk perempuan atau ulama perempuan Aceh," jelas Deqy.

Setelah memperhatikan makam yang tersendiri ini, Kemudian kami bergeser ke arah selatan. Agak masuk ke dalam hutan sekira lima meter, dibawah pepohonan, terdapat tempat  yang tidak ditumbuhi pohon maupun  rerumputan bahkan agak bersih dari dedaunan yang biasanya berserakan.

Di lokasi ini terdapat tujuh makam yang kurang beraturan. Dan dari identifikasi yang dilakukan oleh Teungku Sayyid Deqy.

Dilihat dari bentuk nisan makam diketahui bahwa tujuh makam ini merupakan pengawal dari Syekh Jati Sari dengan tipe Demak Tralaya.

"Makam tujuh adalah makam berkompleks non cungkup tipe Demak Tralaya  dengan motif nisan lengkung akolade ganda, kurung kurawal atau lengkung mihrab tanpa medallion dan inskripsi," tukasnya.

Ketika ditanya mengapa disebut dengan makam tujuh pengawal ?

"Makam ini disebut dengan makam tujuh pengawal karena letaknya paling bawah sebelum perbukitan.  Dalam konsep sufistik Jawa-Kacirebonan dan Kebantenan,  makam wali dan raja dibangun di atas bukit atau tempat tertinggi sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum dan jasa mereka serta status sosial mereka. Semua makam yang berada di situs ini masing masing tersebar dengan jumlah yang ganjil  yaitu 1,3,7,9," imbuhnya.

Pada makam tujuh pengawal ini tidak ditemukan nama dan belum diketahui namanya.

Sementara itu dalam pemakaman jenazah masih kurang beraturan kecuali arah dan posisinya  yang sama.

Ada beberapa nisan yang sudah hilang karena proses alam dan masa yang sudah berlalu, atau bisa jadi karena tangan-tangan jahil masa lalu yang belum mengerti pentingnya menjaga sebuah situs cagar budaya.

Setelah melihat makam tujuh pengawal, kami melanjutkan ke makam utama yang berada dipuncak bukit, yaitu kompleks pemakaman Syeikh Jati Sari. (Bersambung) (*/BBR)

Laporan: kulul sari