Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Bangka Selatan (3); Mengapa Disebut Makam Jati Sari?

Ahada
Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Bangka Selatan (3); Mengapa Disebut Makam Jati Sari?
Tim Bekaes Budaya Bangka Belitung bersama seorang keturunan ke 10 dari Jati Sari yaitu  Muhammad Iqbal dan penulis buku  Korpus Mapur Dalam Islamisasi Di Bangka Teungku Sayyid Deqy  melakukan penelusuran di Makam Jati Sari. (Ist)
Tim Bekaes Budaya Bangka Belitung bersama seorang keturunan ke 10 dari Jati Sari yaitu  Muhammad Iqbal dan penulis buku  Korpus Mapur Dalam Islamisasi Di Bangka Teungku Sayyid Deqy  melakukan penelusuran di Makam Jati Sari. (Ist)
Tim Bekaes Budaya Bangka Belitung bersama seorang keturunan ke 10 dari Jati Sari yaitu  Muhammad Iqbal dan penulis buku  Korpus Mapur Dalam Islamisasi Di Bangka Teungku Sayyid Deqy  melakukan penelusuran di Makam Jati Sari. (Ist)
SIMPANG RIMBA, BABELREVIEW.CO.ID -- Selain dikunjungi kalangan muslim, Makam Jati Sari ini juga kerap dikunjungi saudara kita etnis Tionghoa yang punya tujuan khusus.
Kedatangan mereka ini biasanya dilengkapi dengan aksesoris sesajian ala Tionghoa berupa perdupaan, wadah mangkuk dan wangi-wangian oriental. 
"Mereka mempercayai bahwa Jati Sari sanggup memenuhi apa yang mereka inginkan meskipun mereka dari kalangan nonmuslim," tulis Teungku Sayyid Deqy dalam bukunya Korpus Mapur Dalam Islamisasi di Bangka.
Pada ulasan edisi (2) sebelumnya,  bersama Tim Bekaes Budaya Bangka Belitung dan seorang keturunan ke sepuluh dari Jati Sari yaitu  Muhammad Iqbal dan penulis buku  Korpus Mapur Dalam Islamisasi Di Bangka Teungku Sayyid Deqy sebagai narasumber, melakukan penelusuran hingga ke makam tujuh pengawal.
Pada edisi ke 3 ini kita lanjutkan pada Makam Utama yaitu kompleks Makam Syeikh Jati Sari.
Pada Makam Utama ini didirikan bangunan tembok yang mengelilinginya dengan ketinggian kurang lebih satu meter dan beratapkan asbes dan seng.
Sebagian atap saat ini sudah pecah menganga,  bila hujan turun airpun akan tercurah langsung ke makam. 
"Karena makam ini bukan hanya milik Desa Bangka Kota dan Malik, dan bukan pula milik Bangka Selatan dan Bangka Belitung, kami berharap kepada pemerintah untuk memperbaiki layaknya cagar budaya," ungkap Arni ketika disinggung tentang kondisi makam saat ini.
Sering orang bertanya, apakah namanya memang Jati Sari atau ada nama lain.
Dan biasanya  yang bertanya seperti itu karena mereka dapat info bahwa Jati Sari itu karena yang bersangkutan di makamkan dalam satu hari, dengan bahan baku makam dari Jati. Dan itu merupakan salah satu karomahnya.
Nama Syeikh  Jati Sari  adalah Syarif 'Alafiah. Ia seorang ulama abad XVI  yang berhubungan nasab dengan Syekh Cermin Jati,  Ayahnya  Syeikh Jati Suara dan makamnya ada di Desa Tiang Tarah.
Jadi  Ia adalah cucu dari Syeikh Cermin Jati, datang ke Bangka bertujuan untuk menyebarkan agama Islam. 
 
Berikut nama-nama makam..
 
  • Halaman
  • 1
  • 2
  • 3