Mengenal Fiksasi Fungsional dalam Akuntansi

diko subadya
Mengenal Fiksasi Fungsional dalam Akuntansi
foto : Elly, Mahasiswa Akuntansi, UBB.

BABELREVIEW.CO.ID - Sebelum membahas mengenai fiksasi fungsional dalam akuntansi, maka alangkah lebih baik jika terlebih dahulu kita mengetahui tentang “Apa itu Fiksasi Fungsional” sebenarnya.

Sebagian besar orang merasa senang berada pada posisi zona nyaman, terutama dalam hal pekerjaan. Maka, ketika diminta untuk mutasi atau pindah divisi ke tempat atau daerah lain, ada keinginan untuk berontak di dalam hati. Begitu juga saat terbersit keinginan untuk pindah perusahaan, maka seseorang akan mengalami dilema berkepanjangan. Hal ini dikarenakan selain kurangnya keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki, ada faktor lain yang juga tidak kalah penting, yaitu kurangnya kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja yang baru. Kebanyakan dari mereka takut untuk memulai pekerjaan mereka di tempat yang baru karena harus beradaptasi dengan segala hal, baik dengan lingkungan kerja, rekan – rekan kerja, pekerjaan yang berubah, bahkan dengan atasan yang baru. Tidak sedikit pekerja yang begitu keluar dari zona nyamannya, mereka seperti “terkejut” dan sulit untuk beradaptasi dengan sekitar. Penjelasan tersebut di atas merupakan salah satu contoh fiksasi fungsional dalam kehidupan, yakni dalam hal pekerjaan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa fiksasi fungsional merupakan suatu fenomena keperilakuan di mana seseorang tidak mampu menyesuaikan diri (beradaptasi) terhadap perubahan – perubahan yang terjadi di sekitarnya. Fiksasi fungsional ini juga dapat dikatakan sebagai ketergantungan seseorang terhadap suatu hal yang menjadi kebiasaannya.

 Dalam akuntansi, functional fixation (fiksasi fungsional) diartikan sebagai dalam kondisi tertentu, seorang pengambil keputusan mungkin tidak mampu untuk menyesuaikan proses pengambilan keputusannya terhadap suatu perubahan dalam proses akuntansi yang disediakan kepadanya dalam bentuk data sebagai inputan untuk pengambilan keputusan (Belkaoui, 1989). Terdapat perbedaan dari apa yang dimaksud dengan functional fixation dalam akuntansi dengan psikologi. Jika dalam psikologi fokusnya pada fungsi, maka dalam akuntansi fokusnya adalah pada output, sehingga dalam akuntansi kadang kala disebut dengan data fixation (Belkaoui, 1989; Ashton, 1976).

Konsep psikologis fiksasi fungsional diperkenalkan dalam konteks penelitian akuntansi pertama kali oleh Ijiri, Jaedicke, dan Knight (1966). Para ahli psikologi tertarik pada fiksasi fungsional yang terkait dengan fungsi atau objek, sedangkan para peneliti akuntansi, yang dipengaruhi oleh eksplorasi Ijiri, Jaedicke, dan Knight, tertarik dengan fiksasi fungsional yang terkait dengan data – data akuntansi. Pada eksperimen fiksasi fungsional dalam akuntansi, seluruh data digunakan untuk menyelesaikan masalah yang tidak terstruktur.

 Pertanyaan penelitian dasar yang sering dibahas oleh peneliti adalah apakah akuntan mampu beradaptasi dengan perubahan – perubahan data dalam akuntansi. Literatur akuntansi pada fiksasi fungsional menguji kemampuan pengambil keputusan untuk menyesuaikan keputusan mereka dengan perubahan dalam metodologi akuntansi. Sebagai suatu atribut dari pengambilan keputusan, fiksasi fungsional bervariasi tingkatnya dari situasi satu ke situasi lain, namun tidak pernah tidak ada sama sekali.

 Contoh hadirnya fiksasi fungsional dalam akuntansi yaitu, misalnya akuntan pada suatu perusahaan telah membuat laporan laba rugi perusahaannya guna kepentingan internal. Namun, seiring berjalannya waktu terdapat perubahan dalam metode penilaian persediaan barang dagang atau metode penyusutan sehingga menghasilkan nilai laba atau rugi bersih yang berbeda dari laporan laba rugi sebelumnya yang telah dibuat oleh akuntan. Para pengambil keputusan, yang dalam hal ini adalah para akuntan cenderung hanya mendasarkan keputusannya pada informasi laba, dengan mengabaikan adanya perubahan metode akuntansi yang mempengaruhi besarnya laba perusahaan. Mereka hanya berfokus pada hasil laporan mereka (yakni, laba bersih yang didapat oleh perusahaan) tanpa menyesuaikan keputusan mereka terhadap perubahan metode akuntansi yang terjadi.

Biasanya para peneliti menggunakan eksperimen untuk meneliti hadirnya fiksasi fungsional dalam akuntansi. Apabila ingin meneliti kehadiran fiksasi fungsional ini, disarankan untuk menggunakan laboratory experiment (eksperimen laboratorium), yaitu eksperimen yang diselenggarakan pada tatanan yang terkendali sehingga memudahkan proses pengukuran. Dengan melakukan eksperimen lab untuk meneliti kehadiran fiksasi fungsional dalam suatu penelitian akuntansi, maka hasil penelitiannya akan lebih bagus dan akurat bila dibandingkan dengan menggunakan field experiment (eksperimen lapangan), yaitu eksperimen yang diselenggarakan dengan memanipulasi variabel independen dengan memasukkan skenario.


Penulis : Elly Wuyung Kristanti (Mahasiswa Jurusan Akuntansi, UBB)