Mengenal Tradisi Pesta Kampung Suku Ketapik di Desa Kacung

Irwan
Mengenal Tradisi Pesta Kampung Suku Ketapik di Desa Kacung
Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman menghadiri pesta adat di Desa Kacung pada 2019 lalu. Foto: Istimewa

KELAPA, BABELREVIEW.CO.ID -- Desa Kacung yang terletak di Kecamatan Kelapa, Bangka Barat, sejak dahulu sudah terkenal memiliki tradisi atau pesta kampung yang menjadi agenda tahunan. Namun semenjak pandemi Covid-19 melanda, dengan terpaksa pelaksanaan tradisi tersebut urung digelar. Pesta kampung digelar dengan meriah oleh masyarakat sehingga Desa Kacung menjadi perhatian dan banyak tamu yang datang ke desa.

Dari berbagai sumber menjelaskan, penduduk Desa Kacung mayoritas adalah Melayu Ketapik, dimana nama ketapik sendiri diambil dari salah satu pohon yang ada di desa. Setiap dua atau tiga minggu semenjak hari raya Idul Adha akan diadakan pesta kampung (Acara Panggil). Dalam acara tersebut, masyarakat desa akan membawa para penghataman Al-Quran mengelilingi desa dengan menaiki sadu-sadu (sepeda yang sudah dihias) dengan menyiapkan semenjak persiapan.

Saat hari terakhir persiapan Acara Panggil, diadakan pengambilan susunan bunga oleh para pemain musik gendang panjang yang menaiki mobil ke rumah adat Bangka Belitung. Saat malam hari terakhir di kediaman rumah adat, para pemain musik marawis orang tua akan memainkan musik dari selepas isya sampai subuh, yang dinamakan Ngasoh Kembang (mengasuh rangkaian kembang), serta akan dilakukan pengobatan oleh para dukun kampung dikediaman dukun pusat. Namun pengobatan ini sudah jarang dilakukan karena sudah banyak tempat layanan medis.

Ketika hari puncak pesta kampung tiba, masyarakat desa akan berkumpul di lapangan rumah adat sambil membawa sadu-sadu yang akan dinaiki oleh para peserta hataman Al-Quran tersebut beserta para pejabat daerah. Acara dimulai dari pagi hingga jelang salat dzuhur. Dalam acara tersebut menampilkan grup dambus memainkan lagu penyambutan yaitu sekecak pinang, penampilan tari kedidi dan pencak silat aliran kampong.

Menurut sumber, pesta kampung tersebut sudah digelar sejak hari jadinya Desa Kacung, yakni tepatnya tahun 1946. Jika satu tahun tidak diadakan pesta kampung maka tiga tahun selanjutnya tidak bisa dilaksanakan sampai tahun keempat. Minimal untuk menyelenggarakannya harus ada permainan gendang panjang dan tatawak, serta dukun kampung harus membuat kue dodol yang merupakan makanan wajib pada pesta kampung. Setelah selesai maka para masyarakat akan bertamu ke rumah orang lainnya dan para tamu dari daerah lain akan datang untuk bertamu dan sebagainya, perayaan ini mirip seperti hari raya Idul Fitri. (BBR)

 

Laporan: Irwan